Categories: Nasional

Hasil Penelitian, 28,96 Persen Ibu Anggap Kental Manis adalah Susu Pertumbuhan

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Ketua Harian Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) Arif Hidayat mengungkapkan hasil survei yang menghawatirkan, yaitu sebanyak 28,96 persen ibu responden menganggap bahwa kental manis adalah susu pertumbuhan. Padahal bukan.

Survei tersebut merupakan penelitian yang dilakukan YAICI, PP Muslimat NU dan PP Aisyiyah tentang Persepsi Masyarakat Tentang Kental Manis pada 2020. Survei dilakukan di DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, NTT dan Maluku. Total responden adalah 2.068 ibu yang memiliki anak usia 0-59 bulan atau 5 tahun.

Pengetahuan ibu tentang gizi anak sangat mempengaruhi kecukupan gizi dan kesehatan anak,” kata Arif di Jakarta Selasa (22/12).

Dari penelitian itu ditemukan 28,96 persen responden mengatakan kental manis adalah susu pertumbuhan. Kemudian sebanyak 16,97 persen ibu memberikan kental manis untuk anak setiap hari.

Penelitian itu juga menemukan sumber kesalahan persepsi ibu-ibu. Yaitu sebanyak 48 persen ibu mengakui mengetahui kental manis sebagai minuman untuk anak adalah dari media massa.

Kemudian ada 16,5 persen mengatakan informasi tersebut didapat dari tenaga kesehatan. Padahal, Arif mengatakan penting bagi orang tua dan guru untuk memberikan susu yang sesuai dengan kebutuhan gizi anak dan jangan sampai salah susu.

Temuan menarik lainnya adalah, kategori usia yang paling banyak mengonsumsi kental manis adalah usia 3-4 tahun sebanyak 26,1 persen. Menyusul berikutnya anak usia 2-3 tahun sebanyak 23,9 persen.

Sementara konsumsi kental manis oleh anak usia 1-2 tahun sebanyak 9,5 persen, usia 4-5 tahun sebanyak 15,8 persen, dan 6,9 persen anak usia 5 tahun mengonsumsi kental manis sebagai minuman sehari-hari.

Anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr Moretta Damayanti SpA(K), M.Kes dalam diskusi yang digelar Himpunan Pendidik Dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (HIMPAUDI) bersama YAICI mengatakan kebiasaan konsumsi makanan manis pada anak dapat berdampak buruk pada tumbuh kembang anak.

“Gula menyebabkan anak menjadi kenyang dan efek lanjutannya tumbuh kembangnya terhambat,” tuturnya.

Apalagi pada anak yang mengkonsumsi kental manis. Bila orang tua merasa dengan susu saja sudah cukup, maka anak berisiko kurang gizi. Namun bila anak yang mengonsumsi kental manis masih suka makan dan ngemil, bahayanya adalah obesitas.

Karena itu, untuk anak usia dini, juga penting diajarkan apa yang harus dimakan dan apa yang harus dihindari. “Yang juga penting untuk dipahami orang tua adalah dalam memberikan asupan gizi untuk anak bukan sekedar anak menjadi kenyang, tapi juga harus ada lemak dan proteinnya, karena ini penting untuk tumbuh kembang anak,” ujar Dr Moretta Damayanti.

Sumber: Jawapos.com

Editor: E Sulaiman

Arif Oktafian

Share
Published by
Arif Oktafian

Recent Posts

Buron ke Sumut, Dalang Pembakaran Jaring Nelayan di Rohil Akhirnya Ditangkap

Terduga dalang pembakaran jaring nelayan di Panipahan, Rohil, ditangkap polisi setelah buron ke Sumatera Utara.

15 jam ago

Antrean BBM Mengular, Pemprov Riau Ajukan Tambahan 99.700 KL Biosolar

Pemprov Riau mengajukan tambahan kuota 99.700 KL biosolar dan 99.556 KL pertalite karena kebutuhan BBM…

15 jam ago

Riau Pos-HSBL 2026 Pekanbaru Segera Bergulir, 46 Tim Siap Bertanding

Sebanyak 46 tim siap bertanding di Riau Pos-Honda Student Basketball League 2026 Pekanbaru Series pada…

15 jam ago

PLN Rengat Resmikan SPKLU di Bank Mandiri, Dorong Ekosistem Kendaraan Listrik

PLN UP3 Rengat meresmikan SPKLU di Bank Mandiri Rengat untuk memudahkan pengisian daya sekaligus mendorong…

16 jam ago

Pemko Pekanbaru Targetkan Seragam Gratis Rampung Dibagikan Oktober

sebanyak 20.800 murid SD dan SMP Negeri di Pekanbaru akan menerima seragam gratis. Penyaluran ditargetkan…

16 jam ago

Abu Vulkanik Anak Krakatau Ganggu Penerbangan, 34 Pesawat dari Pekanbaru Batal

Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mengganggu penerbangan Pekanbaru-Jakarta. Sebanyak 34 penerbangan dari Bandara SSK II…

17 jam ago