Categories: Nasional

Konsultan Pajak Asal Thailand Diteriaki Pengidap Corona

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Kejahatan bersifat rasialis sudah dialami seorang pria berkebangsaan Thailand yang bertugas sebagai konsultan pajak di Inggris. Pawat Silawattakun (24) menjadi korban kejahatan rasis di tengah wabah virus corona.

Hidungnya patah karena diserang dan dirampok oleh dua remaja yang meneriakinya pengidap virus corona. Silawattakun mengatakan ia diserang di jalan raya di depan kerumunan ketika ia pulang ke flatnya di London Barat. Ini dianggap sebagai kasus pertama yang dilaporkan tentang kejahatan rasis di Inggris terkait dengan wabah virus corona seperti dilansir dari Mirror, Senin (17/2).

Kronologinya, Silawattakun memberi tahu observer bahwa dia turun dari bus di Fulham saat pulang pada sore hari. Dia tiba-tiba didatangi oleh dua remaja yang kemudian meneriakinya.

"Remaja itu berteriak "coronavirus" di wajah saya dan merekamnya di ponsel mereka. Saya tidak diberi kesempatan untuk mengatakan apa pun. Salah satu dari mereka menyambar headphone dari leher saya," ungkapnya.

Kesal dengan polah dua remaja itu, Silawattakun lalu mengejar mereka. Salah satu remaja kemudian berbalik badan dan meninju Silawattakun hingga berdarah.

"Saya merasa tidak berdaya karena tidak ada orang yang benar-benar membantu saya," jelasnya.

Silawattakun akhirnya ditolong oleh dua orang dan dibawa ke rumah sakit. Ia pun mewanti-wanti para orang Asia lain yang sedang berada di Inggris agar tidak mengalami nasib serupa dengannya.

"Saya hanya ingin meminta sesama orang Asia Timur untuk berhati-hati di Inggris (dan di tempat lain juga. Di mana para pemimpin dunia kita memicu xenophobia dan kebencian, orang pertama yang dididik oleh retorika ini adalah mereka yang tidak berpendidikan. Generasi individu berikutnya harus kritis, punya kepekaan, dan rasa hormat, apakah kaya atau miskin. Apalagi ada kesalahpahaman soal coronavirus," tukasnya.

Silawattakun pindah ke Inggris ketika masih remaja dan bersekolah di Surrey sebelum belajar teknik kimia di Universitas Cambridge. Silawattakun mengatakan dia telah menerima lusinan pesan setelah memposting tentang penderitaannya di Facebook dari orang-orang yang berbagi pengalaman rasisme setelah wabah tersebut.

Silawattakun mengatakan orang tuanya telah terbang ke Inggris dari Thailand untuk menjenguknya. Sebab dia sampai harus menjalani operasi hidung dan mengambil cuti kerja.

Sumber: Jawapos.com
Editor: Rinaldi

Edwar Yaman

Share
Published by
Edwar Yaman

Recent Posts

52 Jalur Siap Bertanding di Pacu Jalur Mini Kuansing, Ini Total Hadiahnya

Sebanyak 52 jalur telah mendaftar Pacu Jalur Mini 2026 di Tepian Narosa Teluk Kuantan. Total…

2 hari ago

Ingin Staycation Saat HUT RI? Hotel Dafam Pekanbaru Punya Promo Menarik

Hotel Dafam Pekanbaru menghadirkan promo Merdeka Staycation Rp545.081 per malam. Tamu juga mendapat Es Merah…

2 hari ago

Pemko Pekanbaru Gencar Perbaiki Jalan, DPRD Ingatkan Soal Aspal Cepat Rusak

DPRD Pekanbaru mengapresiasi perbaikan jalan yang dikebut Pemko, namun meminta kualitas dijaga setelah ditemukan sejumlah…

2 hari ago

Pacu Jalur 2026 Segera Dimulai, Empat SPBU Kuansing Jadi Prioritas Tambahan BBM

Pacu jalur Kuansing 2026 diprediksi menarik puluhan ribu pengunjung. Pemkab memastikan pasokan Pertalite dan solar…

2 hari ago

Ketua Kwarcab Pekanbaru Sulastri Raih Lencana Darma Bakti dari Kwarnas

Ketua Kwarcab Pekanbaru Sulastri meraih Lencana Darma Bakti dari Kwarnas. Penghargaan diberikan atas dedikasinya membina…

2 hari ago

Rumah Warga di Jalan Tanjung Harapan Tembilahan Terbakar, Ini Kondisi Penghuninya

Rumah warga di Jalan Tanjung Harapan, Tembilahan, terbakar Kamis sore. Api berhasil dipadamkan sebelum merembet…

2 hari ago