Categories: Nasional

Mengurai Masalah Karhutla dengan Nilai Keilmuwan

BANDUNG (RIAUPOS.CO) – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Indonesia masih menjadi ancaman nyata. Hal ini disebabkan karena kompleksitas persoalan, baik di tingkatan organisasi maupun operasional kerja. Karenanya salah satu unsur penting kebijakan publik pengendalian karhutla, harus didasarkan pada landasan keilmuwan.

''Tidak akan pernah surut dari pandangan saya bahwa kebijakan publik harus betul-betul didasarkan pada landasan keilmuan disamping aspek legally, politically dan pratically,'' ungkap Menteri LHK Siti Nurbaya, saat menghadiri ujian terbuka promosi Doktor Ilmu Sosial konsentrasi Ilmu Administrasi Publik, Promovenda Afni Zulkifli di Universitas Pasundan (Unpas) Bandung, Jumat (17/1/2020).

Karena itu Siti mengatakan, novelty atau kebaharuan suatu penelitian, khususnya penelitian Ilmu Sosial yang berkaitan dengan fokus kerja pemerintah, akan ditindaklanjuti dalam bentuk kebijakan publik yang baik bagi masyarakat.

''Ini juga penting bagi perkembangan kebijakan publik ke depan untuk membangun Indonesia Maju, terutama pandangan bahwa perlindungan lingkungan sama pentingnya dengan pertumbuhan ekonomi,'' kata Menteri Siti. 

Terkait hasil penelitian Promovenda Afni, yang saat ini juga menjabat sebagai Tenaga Ahli Menteri LHK,  Siti berjanji akan menjadikannya sebagai masukan dan landasan kebijakan dalam mengatasi Karhutla di Indonesia.

''Kami harapkan dapat dilanjutkan pendalaman dari temuan-temuan yang ada hari ini, terutama bagi dukungan pengembangan kebijakan dan aktualisasi pengendalian Karhutla di Indonesia. Hasil penelitian jangan hanya berhenti saat ujian, namun harus didalami, dilanjutkan, dan sampai digunakan dalam mengurai persoalan sosial seperti karhutla,'' katanya.

Dalam Disertasinya berjudul "Kepemimpinan Transglobal untuk Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan di Provinsi Riau", Afni menjelaskan masih terjadi banyak kegagalan persepsi dalam organisasi kerja pengendalian karhutla.

Pengendalian masih sering disalahartikan sebagai kerja pemadaman saja. Padahal konteks kerja pengendalian, telah diatur sebagai struktur tahapan yang memuat unsur penting lainnya seperti perencanaan, pencegahan, koordinasi kerja, kesiagaan hingga pasca kebakaran.

Kepemimpinan transglobal dengan lima karakteristik utama yakni uncertainty (ketahanan ketidakpastian), tim connectivity (Konektivitas tim), pragmatic flexibility (fleksibilitas pragmatis), perspective responsiveness (responsif perseptif), dan talent orientation (orientasi bakat), telah menjadi gaya kepemimpinan yang berperan penting mengubah paradigma kerja pengendalian kembali pada konteks yang benar dalam mengatasi karhutla berulang. 

''Kegagalan persepsi pengendalian akan berujung pada kegagalan mengubah paradigma dari pemadaman ke pencegahan. Ini masih ditemukan untuk kerja pengendalian di tingkat tapak, sehingga potensi terjadinya karhutla berulang masih sangat besar,'' ungkap Afni.

Menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus organisasi, ditemukan bahwa kepemimpinan Presiden dan Menteri LHK di Satgas Karhutla Nasional, memenuhi unsur karakteristik kepemimpinan transglobal. Namun hal tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan karhutla secara permanen.

Untuk itu para pemimpin di semua tingkatan kerja organisasi pemerintah, harus mengambil peran dan posisi yang sama. Organisasi pemerintah baik pusat maupun daerah, dituntut untuk mampu menghasilkan kebijakan publik berskala global, sekaligus tetap memastikan keterlibatan serta kepentingan masyarakat secara seimbang dan berkelanjutan di lingkup lokal. 

''Karenanya perlu ada kolaborasi antara gaya kepemimpinan transglobal dengan gaya kepemimpinan lokal (tranformasional dan transaksional), agar menghasilkan kepemimpinan transglobal yang benar-benar bersifat universal,'' jelasnya.

Bertindak selaku Promotor dan Co-Promotor, Prof Dr H Soleh Suryadi MSi dan Dr  H Yaya Mulyana Abdul Aziz MSi.  Selain Menteri LHK, turut hadir Kepala BP2SDM KLHK Ir Helmi Basalamah, Guru Besar Universitas Lancang Kuning Prof Sudi Fahmi, Guru Besar Universitas Islam Riau Prof Ellydar Chaidir, mantan Rektor Unilak Dr Hasnati  SH  MHum, jajaran KLHK, dan segenap civitas akademik lainnya.

Laporan: Yusnir (Bandung)
Editor: Hary B Koriun

Firman Agus

Share
Published by
Firman Agus

Recent Posts

Buron ke Sumut, Dalang Pembakaran Jaring Nelayan di Rohil Akhirnya Ditangkap

Terduga dalang pembakaran jaring nelayan di Panipahan, Rohil, ditangkap polisi setelah buron ke Sumatera Utara.

5 jam ago

Antrean BBM Mengular, Pemprov Riau Ajukan Tambahan 99.700 KL Biosolar

Pemprov Riau mengajukan tambahan kuota 99.700 KL biosolar dan 99.556 KL pertalite karena kebutuhan BBM…

5 jam ago

Riau Pos-HSBL 2026 Pekanbaru Segera Bergulir, 46 Tim Siap Bertanding

Sebanyak 46 tim siap bertanding di Riau Pos-Honda Student Basketball League 2026 Pekanbaru Series pada…

5 jam ago

PLN Rengat Resmikan SPKLU di Bank Mandiri, Dorong Ekosistem Kendaraan Listrik

PLN UP3 Rengat meresmikan SPKLU di Bank Mandiri Rengat untuk memudahkan pengisian daya sekaligus mendorong…

5 jam ago

Pemko Pekanbaru Targetkan Seragam Gratis Rampung Dibagikan Oktober

sebanyak 20.800 murid SD dan SMP Negeri di Pekanbaru akan menerima seragam gratis. Penyaluran ditargetkan…

6 jam ago

Abu Vulkanik Anak Krakatau Ganggu Penerbangan, 34 Pesawat dari Pekanbaru Batal

Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mengganggu penerbangan Pekanbaru-Jakarta. Sebanyak 34 penerbangan dari Bandara SSK II…

6 jam ago