ini-3-gejala-badai-sitokin-tanda-covid-19-memburuk
JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Belakangan masyarakat mulai mengenal kondisi badai sitokin yang terjadi pada tubuh pasien Covid-19. Sebetulnya, apa itu badai sitokin? Dan bagaimana gejalanya?
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) dr. Adityo Susilo Sp.PD (K) mengatakan badai sitokin adalah suatu kondisi pasien Covid-19 yang memburuk atau berat atau kondisi hebat sampai mengancam nyawa. Kondisi itu adalah zat-zat yang diproses tubuh jika terjadi peradangan.
“Mengapa badai? Karena terjadu pelepasan masif secara besar. Pasien-pasien Covid-19 dengan badai sitokin akan mengalami kondisi berat,” katanya secara daring baru-baru ini.
Menurutnta kondisi tersebut bisa terjadi pada pekan kedua. Pasien yang terkena badai sitokin bisa memburuk pada hari ke-8-14 hari.
“Akan terjadi peradangan berlebihan,” jelasnya.
Meski demikian, dr. Adityo menegaskan tak semua pasien Covid-19 akan jatuh ke dalam kondisi badai sitokin. Jika memang mengalaminya, maka pasien akan merasakan peradangan hebat. Hal itu akan mengganggu kesehatan pasien.
Lalu apa gejala dan tandanya saat seseorang berpotensi terkena badai sitokin?
1. Saturasi Menurun di Bawah 90
Menurut dr. Adityo, kondisi badai sitokin yang paling sering terdampak adalah paru-paru. Maka menurunlah saturasi oksigennya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan pasien berpotensi terkena badai sitokin dan harus waspada jika saturasi di bawah 90.
“Namun ingat, ada suatu kondisi yang namanya Happy Hipoksia. Yakni suatu kondisi pasien saturasinya turun tapi kok tak merasa sesak. Nah ini harus hati-hati. Makanya harus dipantau dengan oksimeter,” tegasnya.
2. Demam
Karena terjadi peradangan dan inflamasi yamg dahsyat, maka pasien akan mengalami demam tinggi. Dan jika sudah disertai gejala tersebut maka pasien harus segera dilarikan ke rumah sakit.
“Kalau positif Covid-19 tapi saturasinya baik dan tidak demam tinggi, maka itu belum kena badai sitokin,” katanya.
3. Sesak
Gejala lainnya yang bisa dialami adalah sesak. Dan ini bisa terjadi juga saat pekan kedua.
Faktor risikonya apa saja?
Badai sitokin terjadi karena peradangan yang tak terkontrol. Umumnya mereka yang terkena badai sitokin adalah mereka dengan komorbid.
Lalu tentunya lansia, kegemukan, dan memiliki riwayat penyakit kronik misalnya autoimmune, kanker, metabolik, diabetes, ginjal.
“Meskipun tak selalu demikian. Dan sebaliknya, jika tak punta faktor risiko itu bukan berarti tak bisa kena badai sitokin. Ini sangat kompleks,” tutupnya.
Sumber: Jawapos.com
Editor: E Sulaiman
Wanita asal Kuansing ditemukan meninggal di hotel di Dharmasraya. Polisi menduga korban dibunuh, sementara terduga…
Hotel Mutiara Merdeka Pekanbaru menghadirkan promo Luxury July. Menginap mulai Rp499 ribu nett lengkap dengan…
Remaja 15 tahun di Kuansing meninggal dunia setelah tertimbun longsoran tebing saat mendulang emas. Polisi…
Bus sekolah gratis resmi beroperasi di Pekanbaru mulai 13 Juli. Layanan tahap awal melayani tujuh…
Sebanyak 140 nelayan Desa Kota Garo menerima bantuan CSR senilai Rp65 juta untuk memulihkan usaha…
Agung Toyota membuka program trade in New Hilux di Riau. Konsumen dapat menukar mobil lama…