Categories: Nasional

Habiskan Dana Miliaran, Istana Kampa Disebut Pelepas Tanya

BANGKINANG (RIAUPOS.CO) — Pembangunan Istana Raja Kampa, yang masuk program restorasi budaya mendapat sorotan dari warga tempatan. Istana Raja Kampa yang belum selesai dibangun itu disebut Andi Rusli, salah seoarang warga tempatan tersebut, lebih mirip balai adat. 

Ia  menilai, pengerjaan pembangunan tersebut tidak mematuhi detail engineering design (DED) awal seperti yang dinginkan almarhum mantan Bupati Kampar Azis Zaenal.  

"Ini seperti pekerjaan main-main, uang APBD Kampar habis miliaran rupiah. Sekarang Istana Rajo Kampa malah tersepit bangunan SD.  Gara-gara kerja yang tidak patuh DED yang telah dibuat sendiri. Mungkin saja ini sebatas istana pelepas tanya," kicau Andi di akun media sosialnya pada, Ahad (1/11).

Terkait tudingan tersebut, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) Kampar Zulia Dharma memaklumi, karena belum selesai pengerjaannya. Bangunan istana tersebut tetap dibangun sesuai DED, namun pengerjaan belum tuntas karena keterbatasan anggaran.

"Soal bentuk bangunan, itu sudah sesuai DED. Tapi memang ada perbedaan terkait bentuk dan desain antara tokoh adat setempat dan ahli sejarah kita, tapi itu sudah sesuai rancangan. Anggarannya juga diangsur, karena keterbatasan anggaran tidak bisa langsung digelontorkan sekaligus," sebut Zulia, Senin (2/11).

Anggaran pertama yang digelontorkan Pemkab Kampar melalui ABPD 2019 sebesar Rp1,7 miliar. Kemudian, pada 2020 ini, dianggarkan pula sebesar Rp700 juta. Tahun depan lanjut Zulia, setidaknya bisa dianggarkan lagi sebesar Rp700 juta pula. Itu, lanjut dia, hanya untuk pengerjaan bangunan. Sementara yang lainnya seperti taman dan lingkungan istana belum.

Namun, tetap saja dengan anggaran yang telah dihabiskan sekitar Rp2,4 miliar itu dianggarap warga tidak sesuai dengan kondisi bangunan. Bahkan, beberapa warga menyebutkan, Balai Adat di Lipatkain Kampar Kiri, lebih megah dibandingkan dengan Istana Raja Kampa. Justru balai adat di kenegerian Lipatkain itu menggunakan anggaran yang jauh lebih kecil dan tidak menguras dana APBD, melainkan menggunakan uang swadaya dari para Ninik Mamak.(ksm)

Laporan: HENDRAWAN (Bangkinang)

Rindra

Share
Published by
Rindra

Recent Posts

Tergerus Sungai Umban, Bahu Jalan Siak II Amblas Rawan Kecelakaan

Bahu Jalan Siak II di Rumbai amblas akibat tergerus Sungai Umban. Kondisi ini dinilai membahayakan…

19 jam ago

Bangunan Kios Pasar Bawah Telukkuantan Dieksekusi

Pemkab Kuansing mengeksekusi pembongkaran kios Pasar Bawah Telukkuantan. Mayoritas pedagang memilih mengosongkan kios secara mandiri.

20 jam ago

Riau Pos Fun Bike 2026, Satukan Komunitas Sepeda Lewat Olahraga

Riau Pos Fun Bike 2026 kembali digelar sebagai ajang olahraga dan silaturahmi yang mendorong gaya…

20 jam ago

Polisi Tindak Tegas Penyelundupan, 20 Ton Bawang Ilegal Dimusnahkan

Polres Pelalawan memusnahkan lebih dari 20 ton bawang ilegal di TPA Kemang karena tidak dilengkapi…

21 jam ago

Buka Akses Ekonomi, Rohul–Rohil Bangun Jembatan dan Jalan Penghubung

Pemkab Rohul dan Rohil sepakat membangun jembatan dan jalan penghubung di wilayah perbatasan guna memperkuat…

21 jam ago

Atasi Lambatnya Bongkar Muat, IPC TPK Fokus Digitalisasi Layanan Pelabuhan

IPC Terminal Petikemas mempercepat digitalisasi layanan pelabuhan untuk meningkatkan efisiensi bongkar muat dan mendukung arus…

2 hari ago