Categories: Pekanbaru

Sehari, Konselor Tangani Dua Orang Pecandu NarkobaÂ

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) — Lingkungan menjadi garda penentu jati diri. Jika salah pergaulan, siapapun bisa terperangkap dalam hal negatif, konsumsi narkoba misalnya. Tidak dipungkiri, karena gengsi ejekan teman, akhirnya mencoba lalu menjadi pecandu. Pencegahnya adalah rehabilitasi.

Menurut Kasi Rehabilitasi BNNK Pekanbaru Sandi Risto Aji, setiap pasien memiliki latar belakang berbeda, namun alasan klasik yang diungkapkan pasien hampir sama. “Rata-rata pasien mengonsumsi narkoba untuk menambah semangat kerja dan supaya beban hilang. Padahal sejatinya konsumsi narkoba itu candu yang berbahaya pada tubuh dan dapat mematikan,” jelasnya.

Dalam sehari seorang konselor maupun dokter yang menangani rehab bisa lebih dari dua orang. Setiap orangnya diberi waktu 45 menit untuk berkonsultasi. Meski demikian tidak menutup kemungkinan mood seseorang menjadikan rehab lebih cepat.

"Kami melihat juga mood pasien. Kadang kalau dianya lagi nggak mood ya cepat, kalau lagi mood ya lama ngobrolnya," katanya yang juga berperan sebagai konselor.

Sementara, salah satu dokter yang menangani rehabilitasi di BNNK yaitu dr Khairi mengatakan sejauh ini masyarakat yang anggota keluarganya mengonsumsi narkoba tak jarang melakukan rehabilitasi. Kemudian, dari polsek maupun polresta pun melakukan rehabilitasi kepada pemakai.

"Yang mudah direhabilitasi itu dari masyarakat. Sementara untuk yang dari polsek atau polresta itu harus lebih keras dalam merehabilitasinya," ucapnya. 

Meski masyarakat mudah direhab, tak jarang beberapa di antaranya mangkir untuk hadir. Alasannya, pindah ke luar kota, kerja bahkan sampai tidak aktif nomor hpnya. Sedangkan pemakai yang dari kepolisian lebih mudah di-handle karena jika tidak mengikuti rehab terdapat sanksi khusus misalnya ditahan.

Kemudian, pengguna narkoba itu ada yang reaksional dan stimulan serta snogen. Dikatakannya, untuk penggunaan tahap rekreasional pada umumnya tidak mempunyai gejala atau penunjuk apapun. Kecuali jika sudah dalam tingkat menengah atau berat, itu tergantung jenis narkoba yang digunakan. Jika menggunakan jenis despresan, pengguna merasa rileks, cenderung tidak peduli dengan lingkungan sekitar.

"Kalau stimulan susah dideteksi. Penyalahgunaan stimulan sekarang ini, digunakan bagi mereka yang ingin berprestasi lebih, untuk membuat fokus maupun semangat kerja. Sementara bagi pelajar agar lebih mudah menghapal dan lainnya. Kemudian untuk snogen tidak digunakan secara terbuka, pengguna menggunakan saat kumpul bersama," ujarnya.(*3)

Arif Oktafian

Share
Published by
Arif Oktafian

Recent Posts

52 Jalur Siap Bertanding di Pacu Jalur Mini Kuansing, Ini Total Hadiahnya

Sebanyak 52 jalur telah mendaftar Pacu Jalur Mini 2026 di Tepian Narosa Teluk Kuantan. Total…

17 jam ago

Ingin Staycation Saat HUT RI? Hotel Dafam Pekanbaru Punya Promo Menarik

Hotel Dafam Pekanbaru menghadirkan promo Merdeka Staycation Rp545.081 per malam. Tamu juga mendapat Es Merah…

17 jam ago

Pemko Pekanbaru Gencar Perbaiki Jalan, DPRD Ingatkan Soal Aspal Cepat Rusak

DPRD Pekanbaru mengapresiasi perbaikan jalan yang dikebut Pemko, namun meminta kualitas dijaga setelah ditemukan sejumlah…

17 jam ago

Pacu Jalur 2026 Segera Dimulai, Empat SPBU Kuansing Jadi Prioritas Tambahan BBM

Pacu jalur Kuansing 2026 diprediksi menarik puluhan ribu pengunjung. Pemkab memastikan pasokan Pertalite dan solar…

18 jam ago

Ketua Kwarcab Pekanbaru Sulastri Raih Lencana Darma Bakti dari Kwarnas

Ketua Kwarcab Pekanbaru Sulastri meraih Lencana Darma Bakti dari Kwarnas. Penghargaan diberikan atas dedikasinya membina…

18 jam ago

Rumah Warga di Jalan Tanjung Harapan Tembilahan Terbakar, Ini Kondisi Penghuninya

Rumah warga di Jalan Tanjung Harapan, Tembilahan, terbakar Kamis sore. Api berhasil dipadamkan sebelum merembet…

23 jam ago