Categories: Pekanbaru

Terkendala Tanah Berpasir

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) — KOMISI IV DPRD Kota Pekanbaru, yang diketuai Sigit Yuwono ST akhir menggelar dengar pendapat (hearing) terkait progres proyek pembangunan instalasi pengolahan air limbah (IPAL), yang saat ini sedang dilaksanakan di Kota Pekanbaru, Selasa (28/1).

Ada banyak persoalan yang ditampung oleh DPRD Pekanbaru, mulai dari keluhan masyarakat, persoalan kinerja kontraktor, sampai kepada desakkan dari Pemko Pekanbaru agar proyek ini bisa diselesaikan sebelum waktunya.

Dalam hearing ini, Komisi IV menghadirkan Dinas PUPR, DLHK, Dinas Perhubungan, dan juga kontraktor pelaksana IPAL, PT Wijaya Karya-Karaga KSO dan PT Hutama Karya-Rosaliska KSO.

Dengan hearing ini, disampaikan Manager Project PT Wijaya Karya, Lutfhi Bina menyampaikan banyak hal. Termasuk kendala-kendala yang membuat pekerjaan menjadi molor. Ini disebabkan karena masalah kondisi tanah di Pekanbaru yang berpasir dan mudah longsor serta kondisi alam (penghujan, red).

"Ini kesempatan kami untuk menyampaikan kendala yang terjadi dilapangan, termasuk juga soal komplain masyarakat yang sudah diakomodir," kata Lutfi.

Soal percepatan pekerjaan proyek yang harus selesai sesuai kontrak, disampaikan Lutfi, menjadi tantangan bagi pihaknya. Karena tidak semua lokasi bisa dilaksanakan dengan mulus. Pasalnya ini menyangkut dengan texture tanahnya.
"Yang jadi kendala itu adalah kendala alam. Di mana tanah di bawah ini berpasir dan mudah terjadi erosi. Untuk menyelesaikan pekerjaan di tanah seperti ini memerlukan waktu lebih dari yang dijadwalkan," kata Lutfi.

Memang katanya lagi, kondisi tanah di Pekanbaru berbeda dengan tanah daerah lain yang pihaknya sudah kerjakan.
Soal ada usulan supaya dapat mendatangkan alat yang lebih canggih, pihak kontraktor pun menegaskan upaya ini sedang di pelajari dan ditegaskan bukan ridak mungkin ini juga akan dilakukan.

"Artinya, usulan ini kami pertimbangkan tentunya untuk percepatan pekerjaan proyek, dan memang harus ada kajian lagi soal penggunaan teknologi baru itu," tambah Manajer Proyek PT HK, Olan.

Sementara itu, Kepala Dinas PUPR Indra Pomi menyebutkan, IPAL di Pekanbaru ini adalah satu dari tiga kota pilot project pembangunan IPAL domestik yang di biaya oleh Bank Dunia.

Prosesnya panjang. Mulai penyediaan lahannya sampai proses lainnya. "Saya jelas kan bahwa pemko juga menyiapkan sekitar 10 ribu sambungan rumah, di mana septic tank masyarakat itu akan disambungkan ke saluran IPAL ini nantinya," tambah Indra.
Ditegaskan Indra lagi, dari persoalan yang terjadi saat ini disebut kan Indra adalah informasi yang tidak sampai kepada masyarakat soal projek ini,dan juga koordinasi yang tidak sampai.

"Sehingga masyarakat bertanya-tanya apa sesungguhnya projek ini. Ini lah harus di sosialisasikan terus," ungkapnya.
Soal kerusakan jalan, kata Indra lagi, kontraktor berjanji akan mengembalikan kondisi jalan pada kondisi awal, dan ini memang menjadi tanggung jawab mereka.

Untuk diketahui juga, dijelaskannya, IPAL ini nantinya akan mengelola limbah yang dihasilkan dari masyarakat. "Kita berharap air kotor yang mengotori sumber air bersih bisa dipisahkan," ujarnya.(ksm)

Dan manfaat sesungguhnya dari IPAL ini memang memisahkan antara air limbah dengan air bersih, dan ini semua sangat mempengaruhi kesehatan masyarakat.

Soal durasi kerja, Disampaikan Indra, pihaknya mendorong supaya bisa diselesaikan lebih awal dari waktu yang di tetapkan. "Dan kami kira saat ini masyarakat sudah mendukung projek ini , neskipun ada keluhan itu kami nilai masih dalam.kewajaran," bebernya.

Sementara itu, Sigit mengatakan, soal adanya keluhan dan permintaan pemko agar proyek ini bisa cepat selesai,  disampaikannya, dia minta jika persoalan berkaitan dengan SDM, maka diminta untuk ditambah supaya pekerjaan ini bisa cepat selesai dan tidak ada kendala.

Begitu juga dengan peralatan yang dipakai diminta untuk menggunakan peralatan canggih supaya dapat mengatasi persoalan yang terjadi. Seperti yang disampaikan pihak kontraktor terkendala karena faktor alam , yakni hujan dan kondisi tanah yang berpasir dan longsor dibawah.

"Ini disebutkan menjadi penghambat untuk pekerjaan. Maka kita minta carilah alat yang lebih canggih supaya bisa cepat selesai dan tanpa kendala lagi," harapnya.(ksm)

 

Laporan: AGUSTIAR

Arif Oktafian

Share
Published by
Arif Oktafian

Recent Posts

Adab di Atas Ilmu (Urgensi Pendidikan Karakter di Era Modern)

​Fenomena “pintar tetapi tidak benar” semakin marak terjadi. Sebagai contoh, seorang teknokrat atau ahli teknologi…

6 jam ago

Rayakan 30 Tahun IVF, Mahkota Medical Center Perkuat Layanan Fertilitas untuk Pasangan Indonesia

Mahkota Medical Center merayakan 30 tahun layanan IVF dengan gathering pasien di Pekanbaru serta edukasi…

6 jam ago

BRI Konsisten Jadi Sponsor Fun Bike Riau Pos, Tegaskan Hubungan Kemitraan Erat

BRI mendukung Riau Pos Fun Bike 2026 sebagai bentuk sinergi kemitraan. Hubungan kedua perusahaan disebut…

9 jam ago

Tembus Pasar Dunia, 1.217 UMKM Catat Transaksi Rp2 Triliun Lebih di 2025

Sebanyak 1.217 UMKM berhasil menembus pasar ekspor pada 2025 dengan transaksi 134,87 juta dolar AS…

9 jam ago

PCR dan Univrab Resmi Kerja Sama dengan MAN 2 Pekanbaru, Ini Fokus Programnya

PCR dan Univrab teken MoU dengan MAN 2 Pekanbaru untuk pengembangan multimedia, kesehatan siswa, hingga…

9 jam ago

Jelang Imlek dan Ramadan, Siak Siapkan Aturan Ketat: Petasan hingga Ceramah Disorot

Pemkab Siak rekomendasikan pembatasan petasan, pengawasan THM, dan ceramah bebas ujaran kebencian jelang Imlek dan…

10 jam ago