Categories: Pekanbaru

BI Jaga Konsistensi Elektronifikasi di Bandara

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) — Penerapan elektronifikasi pembayaran parkir di Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II menimbulkan berbagai tanggapan berbeda dari masyarakat. Banyak yang mendukung penggantian pembayaran dari tunai ke nontunai tersebut, tetapi tak sedikit yang mengeluhkan, terlebih elektronifikasi ini menyebabkan antrean panjang.

Kepala Divisi Sistem Pembayaran Pengelolaan Uang Rupiah (SP PUR) Layanan Administrasi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Riau Asral Mashuri, menyampaikan penerapan serentak di semua pintu keluar bandara bertujuan untuk menjaga konsistensi elektronifikasi.

Ia menegaskan jika hal tersebut dilakukan setengah-setengah, elektronifikasi tidak akan berhasil. "Kalau kita tidak terapkan ke semua pintu secara serentak, elektronifikasi tidak akan berhasil. Misalnya kita masih buka satu pintu untuk pembayaran tunai, masyarakat akan tetap memilih membayar melalui pintu itu," jelas Asral, Selasa (4/2).

Asral menuturkan, sejak 2018 lalu, Bandara SSK II telah membuka satu pintu untuk pembayaran nontunai, sedangkan sisanya pembayaran tunai. Dari sekitar 8 ribu kendaraan yang melintas setiap harinya, hanya sekitar 100 kendaraan yang melakukan pembayaran parkir menggunakan uang elektronik.

"Ini sudah sejak lama disosialisasikan, buktinya masyarakat tetap memilih pembayaran tunai. Kalau tidak kita terapkan semua pintu, bisa dipastikan masyarakat tetap mengantre di pintu tunai," ujarnya.

Lebih lanjut, Asral memaparkan jika penerapan dengan metode yang sama telah dilakukan di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta dan Bandara Kuala Namu Medan. Antrean yang panjang di hari-hari awal penerapan adalah bagian dari proses dan menjadi hal yang lumrah. "Wajar hal ini terjadi, mengubah mindset masyarakat akan uang elektronik ini tidak mudah," jelasnya.

Elektronifikasi di Bandara SSK II menurut Asral menggunakan alat pembayaran yang sah yaitu rupiah. Baik tunai maupun nontunai semuanya adalah rupiah. Yang menjadi pembeda hanya pada media yang digunakan. "Tunai sama nontunai itu sama-sama rupiah, medianya saja yang beda. Tidak ada kami menolak uang rupiah," tegasnya.

Elektronifikasi ini merupakan upaya untuk merubah metode pembayaran dari tunai ke nontunai. Hal ini dilakukan guna menciptakan cashless society. Asral menambahkan, pembayaran non tunai untuk biaya parkir ini dapat mengurangi peredaran uang pecahan kecil.

Menurutnya, sumber daya atau biaya untuk mencetak uang mulai dari perencanaan, pengadaan bahan, pencetakan, distribusi hingga pemusnahan memerlukan biaya  yang tidak sedikit. Ia menilai, dengan pembayaran nontunai ini juga akan menghemat waktu. "Kita mulai dulu dari bandara, baru nanti akan merambah ke pusat perbelanjaan hingga ke trans metro Pekanbaru," tuturnya.(das)

Laporan: MUJAWAROH ANNAFI

Rindra

Share
Published by
Rindra

Recent Posts

Servis Honda Lebih Terjangkau Lewat Gebyar Musim Ganti Oli 2026

Capella Honda Riau menghadirkan Gebyar Musim Ganti Oli di awal 2026 dengan berbagai paket servis…

5 jam ago

LG StanbyME 2 Resmi Hadir, Tawarkan Fleksibilitas Layar Lebih Tinggi

LG StanbyME 2 resmi hadir di Indonesia dengan layar lepas-pasang, resolusi QHD, dan dukungan kendali…

5 jam ago

(Sekali Lagi) Sastrawan

Gerakan literasi digencarkan, tetapi nasib sastrawan masih terpinggirkan. Artikel ini mengulas pentingnya peran negara memanusiakan…

6 jam ago

Jonatan Christie Tembus Final India Open 2026 Usai Kalahkan Loh Kean Yew

Jonatan Christie melaju ke final India Open 2026 setelah menaklukkan Loh Kean Yew lewat laga…

6 jam ago

Pemko Pekanbaru Dorong Pemakmuran Masjid Lewat Bantuan Pembangunan

Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho menghadiri Isra Mikraj di Masjid Al Kautsar sekaligus menyerahkan bantuan…

7 jam ago

Ruas Jalan Teluk Kuantan–Cerenti Amblas 20 Meter, Pengendara Diminta Waspada

Ruas Jalan Teluk Kuantan–Cerenti amblas sepanjang 20 meter di kawasan Pasar Cerenti. Pengendara diminta waspada,…

7 jam ago