Categories: Internasional

Desak Selidiki Temuan Kuburan Massal di Gaza

JALUR GAZA (RIAUPOS.CO) – Kuburan massal berisi ratusan mayat ditemukan di dalam dan sekitar reruntuhan Rumah Sakir (RS) Nasser dan Al-Shifa di Gaza yang hancur. Kepala HAM PBB Volker Turk menyerukan penyelidikan independen dan transparan atas kekejaman Israel itu.

Dilansir dari Al Jazeera, Turk mengaku ngeri pada kondisi itu. ’’Mengingat iklim impunitas yang ada, hal ini harus melibatkan penyelidik internasional. Rumah sakit berhak atas perlindungan khusus berdasar hukum kemanusiaan internasional,’’ ujarnya.

Turk juga menyebutkan apa yang dilakukan Israel sebagai kejahatan perang. ’’Ini adalah pembunuhan yang disengaja terhadap warga sipil dan tahanan sebagai kejahatan perang,’’ jelas dia.

Pada Selasa (23/4), dalam operasi pencarian oleh kru Pertahanan Sipil Gaza, telah ditemukan setidaknya tambahan 17 jenazah. Total, telah ditemukan 310 jenazah. Beberapa jenazah ditemukan dengan kondisi tangan terikat. Tidak jelas bagaimana mereka meninggal atau kapan mereka dikuburkan. Jenazah yang diambil itu termasuk anak-anak, perempuan, staf medis, orang yang terluka, dan para pasien.

Staf medis dan pengungsi yang berhasil meninggalkan RS tersebut menggambarkan bahwa itu adalah pemandangan horor. Sebab, dua rumah sakit itu berubah dari tempat penyembuhan menjadi kuburan besar. Tentara Israel pun berkelit. Klaim bahwa mereka menguburkan jenazah Palestina disebut sebagai klaim tidak berdasar dan mengada-ada.

Terpisah, Amerika Serikat (AS) kabarnya akan mengenakan sanksi kepada batalyon Netzah Yehuda. Unit militer Israel itu disebut melakukan pelanggaran HAM kepada warga Palestina di Tepi Barat.

Netzah Yehuda didirikan pada 1999 untuk mendorong pria Yahudi ultraortodoks mendaftar. Tetapi sejak itu menerima rekrutan agama lain, termasuk penduduk permukiman Israel di Tepi Barat yang dijajah. Wilayah itu merupakan tempat Netzah Yehuda dikerahkan hingga 2022.

Sejak berdirinya Israel pada 1948, sebagian besar komunitas ultraortodoks telah dikecualikan dari wajib militer. Hal itu memicu amarah warga Israel. Sebab, mayoritas warga Israel diharuskan wajib militer. Yakni, tiga tahun untuk pria dan dua tahun untuk wanita.

Sumber-sumber AS menyebutkan, apabila Departemen Luar Negeri AS menetapkan sanksi kepada Netzah Yehuda, unit itu akan dilarang menerima bantuan atau pelatihan apa pun dari militer AS.

Bermula pada Januari 2022, kematian warga AS keturunan Palestina, Omar Assad, menarik perhatian berbagai pihak terhadap batalyon itu. Deplu AS memerintah staf kedutaan Israel untuk menyelidiki kasus itu. Assad diketahui diborgol, disumpal, dan ditutup matanya. Dia juga dibiarkan tergeletak di tanah tengkurap selama lebih dari satu jam di tengah malam pada musim dingin hingga tewas.

Saat AS menyelidiki kematian Assad, batalyon itu dipindahkan ke Dataran Tinggi Golan yang dianeksasi. Namun, sejak perang Israel-Hamas dimulai pada 7 Oktober, Netzah Yehuda telah dikerahkan kembali ke Tepi Barat, termasuk dikirim ke Gaza.

Dalam percakapannya via telepon kepada Menlu AS Antony Blinken, Menteri Kabinet Perang Israel Benny Gantz mengimbau agar AS memikirkan ulang keputusan itu. Menurut Gantz, menetapkan sanksi ke Netzah Yehuda akan merusak legitimasi Israel pada masa perang. ’’Tidak ada justifikasi untuk menetapkan sanksi karena unit-unit militer secara konsisten patuh pada hukum internasional,’’ katanya berdalih.(dee/c19/bay/jpg)

Redaksi

Share
Published by
Redaksi

Recent Posts

Cabai Merah Turun Tajam, Harga Sembako Selatpanjang Tetap Stabil

Harga sembako di Pasar Selatpanjang awal Januari 2026 terpantau stabil. Cabai merah turun tajam, sementara…

13 jam ago

Tarik Dana Global, Arab Saudi Izinkan Investor Asing Masuk Pasar Modal

Arab Saudi membuka pasar modal bagi investor asing mulai 1 Februari 2026 dengan menghapus skema…

14 jam ago

Hyundai Perkenalkan Creta Alpha dengan Desain Eksklusif dan Teknologi Terkini

Hyundai resmi meluncurkan Creta Alpha secara daring. SUV B-Compact ini hadir dengan desain lebih premium,…

14 jam ago

Rupiah Tertekan di 2026, Berpotensi Bergerak hingga Rp17.500 per Dolar AS

Tekanan global diperkirakan masih membayangi rupiah pada 2026 dengan potensi pelemahan hingga Rp17.500 per dolar…

15 jam ago

Pemkab Siak Gelar Job Fit Isi SOTK Baru, 27 Pejabat Ikut Uji Kesesuaian

Pemkab Siak menggelar job fit pejabat eselon II untuk mengisi SOTK baru sekaligus mengevaluasi kinerja.…

16 jam ago

Singkirkan Raymond/Joaquin, Sabar/Reza Melaju ke 16 Besar Malaysia Open

Sabar/Reza melaju ke 16 besar Malaysia Open 2026 usai mengalahkan rekan senegara. Fajar/Fikri juga meraih…

16 jam ago