Categories: Ekonomi Bisnis

Ekonomi Tidak Pasti karena Pandemi, Menabung Sangat Disarankan

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Pendapatan masyarakat terganggu. Mulai pengusaha, karyawan, pekerja informal, hingga seluruh lapisan masyarakat.

Di tengah ketidakpastian ekonomi seperti ini, prioritas utama adalah dana tunai. Itulah yang bisa menjadi sarana untuk memenuhi kebutuhan pokok. Namun, menabung alias saving harus tetap dilakukan.

Perencana keuangan dari Mitra Rencana Edukasi (MRE) Mike Rini menjelaskan bahwa pandemi mengakibatkan ketidakpastian. Artinya, risiko terhadap keuangan setiap individu juga semakin tinggi.

Apalagi, sebagian masyarakat terkena PHK, terdampak pemotongan gaji, bisnis tutup, dan lain sebagainya. Kebijakan-kebijakan pandemi itu mengakibatkan sumber penghasilan keluarga terganggu.

“Bagi yang kehilangan penghasilan, prioritas utama dari bujet adalah memenuhi kebutuhan hidup keluarga dari dana yang ada,” ujar Mike.

Menurut Rini, jika memiliki dana lebih, menabung sangat disarankan. Itu bisa mengantisipasi ketidakpastian. Dia menyebut investasi yang cukup tepat saat ini adalah deposito dan reksa dana pasar uang.

Sistem kerja work form home (WFH), lanjut Rini, seharusnya bisa memotong berbagai pos pengeluaran. Dengan demikian, masyarakat bisa memiliki keuangan surplus untuk digunakan sebagai dana darurat.

“Menghemat pos-pos pengeluaran yang tidak prioritas menjadi sangat perlu,” pungkasnya.

Sementara itu, analis pasar modal Hans Kwee menyoroti penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) total di DKI Jakarta. Kebijakan itu menjadi perhatian para pelaku pasar saham.

Jika terlalu kaku, justru itu akan mengganggu pemulihan ekonomi yang terjadi. Begitu pula, jika dana asing terus mengalir keluar dan nilai tukar rupiah melemah, risiko bahwa saham akan terkoreksi lebih dalam meninggi.

Hans memperkirakan pasar saham berpotensi melemah pekan depan. Dengan perkiraan support pada level 4.878 sampai 4.712 dan resistance pada level 5.084 sampai 5.256.

“Pelaku pasar lebih baik melakukan penjualan lebih dahulu ketika pasar menguat untuk mengantisipasi dampak negatif penerapan PSBB total pada perekonomian,” tandasnya.

 

Sumber: Jawapos.com

Editor: E Sulaiman

Arif Oktafian

Share
Published by
Arif Oktafian

Recent Posts

Servis Honda Lebih Terjangkau Lewat Gebyar Musim Ganti Oli 2026

Capella Honda Riau menghadirkan Gebyar Musim Ganti Oli di awal 2026 dengan berbagai paket servis…

10 jam ago

LG StanbyME 2 Resmi Hadir, Tawarkan Fleksibilitas Layar Lebih Tinggi

LG StanbyME 2 resmi hadir di Indonesia dengan layar lepas-pasang, resolusi QHD, dan dukungan kendali…

11 jam ago

(Sekali Lagi) Sastrawan

Gerakan literasi digencarkan, tetapi nasib sastrawan masih terpinggirkan. Artikel ini mengulas pentingnya peran negara memanusiakan…

11 jam ago

Jonatan Christie Tembus Final India Open 2026 Usai Kalahkan Loh Kean Yew

Jonatan Christie melaju ke final India Open 2026 setelah menaklukkan Loh Kean Yew lewat laga…

12 jam ago

Pemko Pekanbaru Dorong Pemakmuran Masjid Lewat Bantuan Pembangunan

Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho menghadiri Isra Mikraj di Masjid Al Kautsar sekaligus menyerahkan bantuan…

12 jam ago

Ruas Jalan Teluk Kuantan–Cerenti Amblas 20 Meter, Pengendara Diminta Waspada

Ruas Jalan Teluk Kuantan–Cerenti amblas sepanjang 20 meter di kawasan Pasar Cerenti. Pengendara diminta waspada,…

12 jam ago