Categories: Ekonomi Bisnis

Stok Cabai Perlu Cold Storage

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Sebagai komoditas yang pasokan dan harganya fluktuatif, cabai perlu mendapatkan perhatian khusus. Terutama menjelang Idulfitri seperti sekarang. Pemerintah perlu punya strategi manajemen untuk mengendalikan pasokan cabai. Salah satu alternatifnya adalah cold storage atau gudang berpendingin.

"Ketersediaannya yang fluktuatif serta tidak realistisnya impor cabai segar untuk menjaga kestabilan harga menjadikan cold storage sebagai solusi," ujar Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Arumdriya Murwani, Rabu (5/5).

Menurut Arum, sapaan Arumdriya, harga cabai rawit berfluktuasi mengikuti masa panen. Biasanya bisa sampai terjadi enam kali perubahan harga dalam setahun. Harga tinggi umumnya terjadi pada jeda antar-masa tanam, yaitu pada November–Februari. Namun, harga juga sering anjlok saat terjadi surplus pasokan pada masa panen raya.

Arum menjelaskan, Indonesia perlu pendekatan yang menyeluruh atas tata kelola pangan. Salah satunya mempertimbangkan preferensi masyarakat pada cabai rawit segar. "Selain sifat cabai yang rentan busuk, kerangka impor pangan yang berbelit-belit juga menambah risiko keluarnya kebijakan impor yang tidak mampu menjawab kebutuhan pasar Indonesia," bebernya.

Sistem penyimpanan yang modern dan infrastruktur rantai dingin yang memadai, terang Arum, akan memperpanjang umur cabai rawit. Dengan demikian, harganya pun relatif bisa dikendalikan. "Sayangnya, kapasitas sistem penyimpanan dan lemari pendingin di Indonesia belum memadai," ucapnya.

Laporan ERIA (Economic Research Institute for ASEAN and East Asia) menunjukkan bahwa potensi pemanfaatan ruang penyimpanan dingin di Indonesia pada 2018 mencapai 17,6 juta ton per tahun. Namun, saat ini kapasitas yang ada hanya mampu menampung 370 ribu ton per tahun.

Arum menyebutkan bahwa kurangnya kapasitas ruang atau gudang pendingin di Indonesia turut meningkatkan risiko membusuknya komoditas pangan. "Pemerintah perlu berinvestasi pada gudang pendingin yang modern untuk memperpanjang masa simpan stok cabai rawit," tegasnya.

Sementara itu, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengaku telah mulai mengujicobakan sistem penyimpanan controlled atmosphere storage (CAS). Itu akan mampu memperpanjang masa simpan produk komoditas hortikultura sekitar tiga sampai enam bulan. Namun, alat tersebut sementara ini baru berfungsi optimal untuk bawang putih dan bawang merah. 

"Ini sudah jalan, tapi dipakainya buat bawang. Karena kalau pakai bawang, bawang merah terutama, ada penyusutannya. Tapi enggak banyak. Kalau cabai katanya bertahan memang. Tapi begitu dikeluarkan menyusut," ungkap Lutfi. (agf/c9/hep/jpg)
 

Rindra

Share
Published by
Rindra

Recent Posts

Nurul Angely Juara Pertama Bintang Radio Kabupaten Kuansing 2026

Nurul Angely dari Kecamatan Kuantan Mudik berhasil keluar sebagai juara pertama ajang Bintang Radio Kabupaten…

10 jam ago

Penerbangan di Bandara SSK II Pekanbaru Berjalan Normal di Tengah Kabut Asap

Aktivitas penerbangan di Bandara Internasional SSK II Pekanbaru berjalan aman dan normal meski Kota Pekanbaru…

1 hari ago

Opening Party Honda DBL 2026 Riau Bergulir Hari Ini di Gelanggang Remaja Pekanbaru

Kompetisi basket pelajar bergengsi Honda DBL with Kopi Good Day 2026 Riau resmi bergulir mulai…

1 hari ago

Sidang Korupsi Kuansing: Sopir Zulkarnain dan Istri Suhardiman Amby Bersaksi

Persidangan kasus suap mantan Sekda Kuansing Zulkarnain mengungkap alur pembayaran angsuran Pajero Sport dan penguasaan…

2 hari ago

Kabut Asap Makin Tebal, Disdikbud Pelalawan Liburkan Tatap Muka di 8 Kecamatan

Disdikbud Kabupaten Pelalawan memberlakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di 8 kecamatan akibat memburuknya kualitas udara…

2 hari ago

Tabrakan Beruntun 10 Mobil di Lampung Akibat Asap Tebal, 2 Orang Meninggal

Kecelakaan beruntun melibatkan 10 kendaraan terjadi di Jalan Lintas Pantai Timur Sumatera, Tulang Bawang, Lampung…

2 hari ago