Categories: Bengkalis

Guru Honorer di Mandau Keluhkan Kenaikan Iuran PGRI

DURI (RIAUPOS.CO) – Kenaikan iuran Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) di Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, menimbulkan keluhan dari kalangan guru, terutama tenaga honorer dan tenaga kependidikan (TU).

Para guru menganggap kebijakan kenaikan iuran itu diterapkan tanpa musyawarah atau kesepakatan bersama anggota. Berdasarkan informasi yang beredar, setiap anggota PGRI di Mandau kini wajib membayar iuran sebesar Rp10 ribu per bulan, naik dari sebelumnya Rp6 ribu.

Bagi tenaga honorer yang bergaji tidak tetap, kenaikan ini dirasa cukup memberatkan.

“Dulu hanya Rp6 ribu, sekarang jadi Rp10 ribu. Yang paling terasa, tenaga TU juga ikut dipotong, padahal mereka bukan guru, hanya membantu administrasi sekolah,” ujar salah seorang guru honorer yang enggan disebutkan namanya, Selasa (28/10).

Ia juga menyebutkan, tidak ada pemberitahuan resmi atau rapat anggota sebelum iuran dinaikkan. Selain itu, penggunaan dana iuran selama ini dinilai tidak transparan.

“Kami tidak tahu uangnya digunakan untuk apa. Kalau ada kegiatan PGRI, kami masih diminta iuran lagi. Padahal iuran bulanan sudah jalan. Jumlah guru ASN dan honorer di Mandau ini banyak, pasti dananya besar,” tambahnya.

Menanggapi hal tersebut, Ketua PGRI Kecamatan Mandau, Amril SAg MPd, membantah bahwa keputusan itu dibuat sepihak. Menurutnya, penetapan besaran iuran sudah menjadi kebijakan organisasi secara nasional.

“Aturannya memang dari pusat untuk seluruh guru dan tenaga kependidikan. Selama ini di daerah belum maksimal diterapkan, jadi sekarang dijalankan kembali. Kalau ingin lebih rinci, bisa ditanyakan ke Sekretaris PGRI Kabupaten Bengkalis,” jelas Amril, yang juga Kepala SMPN 1 Mandau.

Sementara itu, Sekretaris PGRI Kabupaten Bengkalis, Sundakir, menegaskan bahwa pungutan iuran tersebut memiliki dasar hukum yang jelas, yaitu tercantum dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) PGRI.

“Iuran anggota merupakan bentuk dukungan untuk menjalankan organisasi dari tingkat pusat sampai ke daerah,” ujarnya.

Meski demikian, sejumlah guru berharap agar PGRI dapat lebih transparan dalam pelaporan penggunaan dana serta melibatkan anggota dalam setiap keputusan organisasi yang menyangkut kontribusi keuangan.(ksm)

Redaksi

Recent Posts

Sunat Massal dan Cek Kesehatan Gratis Disambut Antusias, Warga Rohul Ucapkan Terima Kasih

Program sunat massal dan pemeriksaan kesehatan gratis di Rohul mendapat apresiasi warga karena membantu meringankan…

2 hari ago

Lolos Fase Gugur untuk Pertama Kali, Afrika Selatan Siap Hadapi Kanada

Afrika Selatan mencetak sejarah dengan lolos ke fase gugur Piala Dunia untuk pertama kalinya dan…

2 hari ago

Dukung Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan, BRK Syariah Siap Sukseskan SE2026

BRK Syariah mendukung pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 dan mengajak masyarakat berpartisipasi demi terwujudnya data ekonomi…

2 hari ago

Mahasiswa Umri Jadi Korban Pemukulan Saat Demo di DPRD Riau, IMM Desak Investigasi Transparan

Mahasiswa Umri menjadi korban pemukulan saat aksi di DPRD Riau. IMM Pekanbaru mendesak aparat mengusut…

2 hari ago

Longsor Terjang Lembah Anai, Jalan Utama Padang–Bukittinggi Tak Bisa Dilalui

Longsor menutup jalur Padang–Bukittinggi di Lembah Anai. Akses dua arah ditutup total sementara demi keselamatan…

2 hari ago

Pendaftaran SMP Negeri Pekanbaru Segera Ditutup, Ribuan Calon Siswa Berebut Kursi

Pendaftaran SPMB SMP negeri Pekanbaru hampir berakhir. Jalur domisili mencapai 98 persen, sementara kuota sekolah…

3 hari ago