Jumat, 19 Juli 2024

Pesawat Modifikasi Cuaca Dikerahkan

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera dan Kalimantan lagi-lagi menyebabkan transboundary haze pollution atau polusi lintas batas.

Data satelit citra sebaran asap di laman BMKG pada Ahad (8/9) pukul 11.00 WIB menunjukkan adanya sejumlah besar asap yang bergerak dari wilayah barat Provinsi Kalimantan Barat menuju ke wilayah Sarawak Malaysia.

- Advertisement -

"Asap fluktuatif masuk ke Malaysia. Hanya pukul 11.00 WIB, setelah itu tidak terdeteksi asap lagi," jela Plh Kapusdatin dan Humas BNPB Agus Wibowo, Ahad (8/9).

Selain itu, citra BMKG juga memperlihatkan banyak hot spot karhutla terdapat di wilayah perbatasan Kalimantan Barat maupun dan Serawak-Malaysia, sehingga transboundary haze tersebut kemungkinan besar merupakan gabungan dari asap karhutla di kedua wilayah tersebut.

Baca Juga:  Dispersip Janji Perbaiki Pengelolaan Arsip

"Sedangkan di wilayah Singapura dan Semenanjung Malaysia tidak terdeteksi asap lintas batas atau transboundary haze dari Sumatera," lanjut Agus.

- Advertisement -

Agus menyatakan, BNPB dan pemerintah daerah masih bekerja keras untuk memadamkan karhutla yang masih terjadi di beberapa tempat di Indonesia. Untuk 6 provinsi prioritas BNPB menerjunkan 9.072 personel untuk patroli, sosialisasi, dan pemadaman darat, juga dikerahkan 37 pesawat untuk water bombing dan patroli.

"Di Provinsi Riau dikerahkan juga pesawat untuk operasi teknologi modifikasi cuaca/hujan buatan," ujarnya.

Berdasarkan data BMKG, sedikitnya 2.510 titik panas terpantau tersebar di seluruh wilayah ASEAN. Seluruh titik panas tersebut terpantau oleh citra Satelit Terra Aqua MODIS, SNPP, NOAA20 dan Satelit Himawari-8 selama kurun 4-7 September 2019.  Deputi Bidang Meteorologi, BMKG Mulyono R Prabowo MSc menerangkan jumlah titik panas di ASEAN dalam 4 hari terakhir (4-7 September 2019) cukup fluktuatif dengan kecenderungan semakin bertambah. Pada 4 September 2019 lalu, BMKG memantau terdapat 727 titik panas di seluruh ASEAN, kemudian pada 5 September 2019 jumlah titik panas turun menjadi 516 titik. Tanggal 6 September 2019 titik panas kembali mulai meningkat menjadi 619 titik, kemudian 7 September  2019 menjadi 648 titik.

Baca Juga:  Emak-Emak Terobos Tol Permai, Lawan Arah Demi Hindari Kejaran Petugas

"Seluruh titik panas tersebut tersebar di beberapa wilayah negara ASEAN di antaranya Indonesia (Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan), Malaysia, Filipina, Papua Nugini, Vietnam, Timor Leste dan Thailand," tuturnya di Jakarta, Ahad (8/9).

>>Berita selengkapnya baca Riau Pos hari ini.

Sumber : Jawa Pos
Editor : Rinaldi

 

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera dan Kalimantan lagi-lagi menyebabkan transboundary haze pollution atau polusi lintas batas.

Data satelit citra sebaran asap di laman BMKG pada Ahad (8/9) pukul 11.00 WIB menunjukkan adanya sejumlah besar asap yang bergerak dari wilayah barat Provinsi Kalimantan Barat menuju ke wilayah Sarawak Malaysia.

"Asap fluktuatif masuk ke Malaysia. Hanya pukul 11.00 WIB, setelah itu tidak terdeteksi asap lagi," jela Plh Kapusdatin dan Humas BNPB Agus Wibowo, Ahad (8/9).

Selain itu, citra BMKG juga memperlihatkan banyak hot spot karhutla terdapat di wilayah perbatasan Kalimantan Barat maupun dan Serawak-Malaysia, sehingga transboundary haze tersebut kemungkinan besar merupakan gabungan dari asap karhutla di kedua wilayah tersebut.

Baca Juga:  Gerak Cepat, Pj Gubri Beri Bantuan Korban Kebakaran di Rohul

"Sedangkan di wilayah Singapura dan Semenanjung Malaysia tidak terdeteksi asap lintas batas atau transboundary haze dari Sumatera," lanjut Agus.

Agus menyatakan, BNPB dan pemerintah daerah masih bekerja keras untuk memadamkan karhutla yang masih terjadi di beberapa tempat di Indonesia. Untuk 6 provinsi prioritas BNPB menerjunkan 9.072 personel untuk patroli, sosialisasi, dan pemadaman darat, juga dikerahkan 37 pesawat untuk water bombing dan patroli.

"Di Provinsi Riau dikerahkan juga pesawat untuk operasi teknologi modifikasi cuaca/hujan buatan," ujarnya.

Berdasarkan data BMKG, sedikitnya 2.510 titik panas terpantau tersebar di seluruh wilayah ASEAN. Seluruh titik panas tersebut terpantau oleh citra Satelit Terra Aqua MODIS, SNPP, NOAA20 dan Satelit Himawari-8 selama kurun 4-7 September 2019.  Deputi Bidang Meteorologi, BMKG Mulyono R Prabowo MSc menerangkan jumlah titik panas di ASEAN dalam 4 hari terakhir (4-7 September 2019) cukup fluktuatif dengan kecenderungan semakin bertambah. Pada 4 September 2019 lalu, BMKG memantau terdapat 727 titik panas di seluruh ASEAN, kemudian pada 5 September 2019 jumlah titik panas turun menjadi 516 titik. Tanggal 6 September 2019 titik panas kembali mulai meningkat menjadi 619 titik, kemudian 7 September  2019 menjadi 648 titik.

Baca Juga:  Kasus Positif di Riau Bertambah Jadi 20

"Seluruh titik panas tersebut tersebar di beberapa wilayah negara ASEAN di antaranya Indonesia (Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan), Malaysia, Filipina, Papua Nugini, Vietnam, Timor Leste dan Thailand," tuturnya di Jakarta, Ahad (8/9).

>>Berita selengkapnya baca Riau Pos hari ini.

Sumber : Jawa Pos
Editor : Rinaldi

 

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari