Categories: Opini

Kekayaan dan Kebahagiaan

Tidak sedikit manusia yang menganggap bahwa kekayaan adalah sumber kebahagiaan. Misalnya saja bertemu teman atau saudara yang memiliki harta lebih pasti kebanyakan orang akan berpendapat bahwa hidup mereka lebih menyenangkan. Tentu saja anggapan ini tidak salah. Namun anggapan ini juga tidak sepenuhnya benar.

Tentu masih segar dalam ingatan kita apa yang menimpa seorang artis Indonesia yang memiliki suami dengan harta kekayaan yang luar biasa namun keduanya malah terjerumus dalam jerat narkoba. Bahkan pasangan yang dianggap sempurna dan bahagia oleh masyarakat itu ternyata bisa terjerumus pada hal yang dilarang oleh agama dan negara. Yang lebih mengherankan lagi alasan mereka menggunakan narkoba adalah karena kesedihan yang berlarut-larut dan juga adanya masalah yang hanya bisa dipendam sendiri. Inilah mengapa tak melulu kekayaan itu membawa kebahagiaan.

Berdasarkan data dari BPS (Badan Pusat Statistik) Indeks Kebahagiaan di Provinsi Riau sebesar 71,80 sedangkan Tingkat Kemiskinannya yang tergolong relatif rendah, hanya 7,12 persen. Hal ini berarti bahwa di Riau termasuk dalam persentase penduduk miskin rendah diiringi dengan tingkat kebahagiaan masyarakatnya yang relatif tinggi. Dan ini berlaku seperti teori-teori yang selama ini dikenal bahwa tingkat kekayaan berbanding lurus dengan kebahagiaan.

Hal yang sama juga terjadi ketika Indeks Kebahagiaan dikategorikan berdasarkan karakteristik kelompok pendapatan per bulan. Dimana kelompok pendapatan lebih dari tujuh juta dua ratus ribu rupiah memiliki Indeks Kebahagiaan yang paling tingga dibandingkan dengan kelompok pendapatan per bulan yang lebih rendah.

Jika dibedah berdasarkan Indeks Penyusun Kebahagiaan seperti Indeks Kepuasan Hidup subdimensi Personal dan Sosial, Indeks Perasaan dan Indeks ada satu indeks yang memiliki pola berbeda. Yaitu Indeks Kepuasan Hidup subdimensi Sosial. Pada kelompok pendapatan Rp3.000.001 – Rp. 4.800.000 memiliki nilai pada posisi kedua setelah kelompok pendapatan lebih dari tujuh juta dua ratus ribu. Hal ini menunjukkan bahwa kelompok pendapatan Rp3.000.001 – Rp4.800.000 mempunyai kepuasan hubungan sosial dengan lingkungan yang lebih ringgi dibanding kelompok pendapatan di atas maupun dibawahnya (Rp1.800.001 – Rp 3.000.000 dan Rp4.800.001 – Rp 7.200.000).

Meski demikian jika dibandingkan dengan angka tahun 2017 dimana Persentase Kemiskinan lebih tinggi ternyata memiliki Indeks Kebahagiaan yang lebih tinggi juga. Jadi tidak serta merta turunnya angka kemiskinan bisa meningkatkan Indeks Kebahagiaan. Bisa jadi adanya pandemi Covid-19 yang melanda menyebabkan beberapa Provinsi di Indonesia Indeks Kebahagiannya turun termasuk Riau. Padahal pertumbuhan ekonomi pada tahun 2021 sudah cukup bagus dibanding tahun lalu yang mengalami resesi.

Jika dibandingkan masing-masing dimensi antara tahun 2017 dan 2021 ada satu dimensi yang penurunanya cukup signifikan yaitu Indeks Perasaan. Pada tahun 2017 Indeks Perasaan di Provinsi Riau sebesar 70,24 namun pada tahun 2021 hanya 65,36. Dimensi ini disusun oleh tiga indikator yaitu perasaan senang/riang/gembira, perasaan tidak khawatir/cemas, dan perasaan tidak tertekan.

Indikator yang digunakan untuk menyusun dimensi perasaan memang sangat berkaitan dengan adanya pandemi Covid-19 yang masih terjadi hingga saat ini. Banyaknya karyawan yang dirumahkan, usaha yang akhirnya gulung tikar dan lain sebagainya membuat masyarakat menjadi lebih sedih, cemas dan tertekan dengan kondisi ekonomi yang mereka alami.

Hal ini tentu memerlukan perhatian lebih dari pemerintah. Apalagi sudah banyak bantuan yang digelontorkan baik untuk menangani pandemi dan juga membantu menopang perekonomian masyarakat yang terdampak pandemi covid. Namun ternyata belum bisa seluruhnya meng-cover rasa aman di masyarakat. Perlu ditinjau kembali kebijakan yang telah dilakukan selama masa pandemi ini apakah sudah tepat sasaran atau belum.

Tentu saja masyarakat juga harus turut berpartisipasi dalam menyukseskan program pemerintah. Selalu menjaga protokol kesehatan dan melaksanakan vaksin agar pandemi segera berlalu dan kehidupan bisa kembali berjalan normal.***

 

Puji Wahyu Widayati, Statistisi Muda di Badan Pusat Statistik Kabupaten Kampar

 

Firman Agus

Share
Published by
Firman Agus

Recent Posts

Menginap di Kamar Deluxe Cuma Rp455 Ribu, Hotel Mutiara Merdeka Hadirkan Paket “Koper”

Hotel Mutiara Merdeka Pekanbaru menghadirkan promo bulanan bertajuk Paket "Koper" dengan tarif Rp455 ribu per…

2 hari ago

Tingkatkan Kualitas Pembelajaran, Mahasiswa Pascasarjana UNRI Dampingi Guru MTsN 1 Kampar Kembangkan AI

Mahasiswa Magister Pendidikan Matematika FKIP UNRI mendampingi 45 guru MTsN 1 Kampar dalam memanfaatkan ChatGPT…

2 hari ago

Sekda Inhu Zulfahmi Adrian Koordinasi dengan BKN Atasi Polemik SK 247 Kepala Sekolah

Pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu belum menerbitkan Surat Keputusan (SK) pengangkatan bagi 247 kepala sekolah yang…

2 hari ago

Satu Tim dengan Sang Putra, Kebahagiaan Coach Suryo Dampingi Debut Alif di Firstman

Kepala pelatih MAN 1 Pekanbaru Suryo Pranoto merasakan kebahagiaan tersendiri saat mendampingi putra kandungnya, Muhammad…

2 hari ago

WNA Asal India Ditemukan Tak Bernyawa di Kamar Hotel Jalan Hang Tuah Duri

Seorang WNA asal India berinisial SR (61) ditemukan tidak bernyawa di kamar hotel kawasan Jalan…

3 hari ago

Polda Riau Libatkan Bhabinkamtibmas dalam Program Rehabilitasi Mangrove M4CR

Direktur Pembinaan Masyarakat Polda Riau Kombes Pol Eko Budhi Purwono memperkuat komitmen menjaga ekosistem pesisir…

3 hari ago