ini-resiko-berkendara-pakai-ban-vulkanisir
(RIAUPOS.CO) — Pastinya Anda sering mendengar tentang ban vulkanisir, namun sebagian orang belum tahu apa itu ban vulkanisir. Sederhananya ban vulkanisir adalah ban bekas yang dilapisi ulang dengan ketebalan tertentu untuk dijual lagi.
Biasanya ban ini banyak digunakan oleh kendaraan-kendaraan komersial atau bus dan truk. Sedangkan untuk kendaraan kecil atau penumpang jarang menggunakan ban vulkanisir.
Menurut Manager Training PT Sumi Rubber selaku Agen Pemegang Merek Dunlop di Indonesia, Bambang Hermanu mengungkapkan kalau kendaraan kecil hampir tidak ada ban vulkanisir. Karena harga ban mobil kecil atau mobil penumpang itu relatif murah dan tidak mahal.
"Saat ini ban vulkanisir masih banyak digunakan oleh kendaraan-kendaraan komersial seperti bus dan truk. Meskipun departemen perhubungan, untuk angkutan penumpang dan barang tidak boleh menggunakan ban vulkanisir per 2015. Akan tetapi sampai hari ini masih banyak yang nakal. Karena nilai ekonomisnya sangat besar," ujar Bambang.
Banyak dijumpai ban vulkanisir yang diperjualbelikan, Akan tetapi Bila diperhatikan dengan seksama mempunyai perbedaan dengan ban baru. Hal ini cukup mudah dibedakan dengan adanya celah pada bagian sidewall sampai bagian cap itu berbeda.
"Melihat perbedaan ban vulkanisir bisa dari warnanya. Ban bekas dengan lapisan baru akan terlihat gradasi warnanya. Compoundnya tidak homogen karena tidak sama diciptakan. Bahkan bentuk tapak baru akan jauh berbeda dengan aslinya," ujarnya.
Tak hanya ban mobil atau truk yang bisa di vulkanisir, ban sepeda motor juga bisa akan tetapi istilahnya adalah batik. Biasanya pada ban motor bekas atau lama yang sudah aus akan diukir kembali untuk membuat alur baru dengan cara "dikerok".
Menggunakan ban vulkanisir atau batik pastinya sangat tidak dianjurkan memiliki kerugian pada penggunanya. Mulai dari sisi umur dan keamanan. Karena dengan hasil ‘reproduksi’ maka karetnya lebih tipis dan usia karet lebih tua.
"Kita membeli ban bekas resikonya usia pakai akan jauh lebih pendek, ketiga compoundnya sudah tidak mumpuni untuk mencengkeram aspal. Ini akan mengakibatkan lebih licin seiring dengan usia yang lebih, sehingga karetnya lebih keras," tutupnya.
Sumber: Jawapos.com
Editor: Erizal
BNPB menambah satu helikopter water bombing di Riau. Kini tersedia enam armada udara untuk memperkuat…
IKTS dan P3KPI Pekanbaru berkolaborasi dengan DJP Riau untuk mengedukasi pelaku UMKM terkait penerapan PP…
Polisi mengamankan dua terduga pelaku dalam kasus dugaan kekerasan seksual terhadap remaja 14 tahun di…
Dishub Pekanbaru menerapkan rekayasa lalu lintas dan memperpanjang CFD untuk mendukung pemecahan rekor MURI Kue…
Pendaftaran SPMB SMA dan SMK Negeri Riau resmi ditutup. Sekolah kini memverifikasi berkas peserta sebelum…
DJP menyoroti status dana hibah MBG yang berpotensi menimbulkan risiko pajak. Di saat yang sama,…