Categories: Nasional

Jangan Longgarkan PSBB!

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Angka penularan Covid-19 di tanah air terus saja bertambah. Pakar Kesehatan dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI), Tri Yunis Miko Wahyono mengatakan bahwa jumlah penularan virus corona bertambah karena jumlah laboratorium yang semakin bertembah. Pemeriksaan sampel pun kian masif.

"Jadi laboratorium sudah banyak tapi belum 10.000 (sampel) sehari. Kita kan targetnya 10.000 per hari, sekarang baru 7.600 atau 8.000," ujar Tri kepada JawaPos.com, Sabtu (16/5).

Tri mengatakan bahwa semakin banyak masyarakat yang dites sampelnya, maka angka penularan virus corona semakin bertambah banyak.

"Kalau jumlah yang banyak dites berarti akan banyak juga yang positif. Karena kan yang diperiksa yang kontak ada ODP dan PDP. Jadi semua ODP dan PDP harus diperiksa. Karena sekarang ini nggak semua ODP dan PDP diperiksa," katanya.

Tri mengatakan, adanya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) juga ia nilai belum mampu menurunkan penyebaran virus tersebut. "PSBB nggak berhasil. Kalau tidak berhasil, maka PSBB akan menambah jumlah kasus dan tidak berkurang," ungkapnya.

Saat ini walaupun DKI Jakarta sudah melakukan PSBB, namun kenyataanya angka penularan makin terus bertambah. Hal ini karena PSBB  tidak dijalankan oleh masyarakat.

"PSBB menurut saya tidak berhasil dari awal. Saya lihat jalanan masih ramai. Kalau begitu ceritanya maka akan terus terjadi kasus barunya," ungkapnya.

Jangan Dilonggarkan

Terpisah, Ketua Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia (YPKKI), Marius Widjajarta‎ mengatakan jika PSBB dilonggarkan, maka akan semakin banyak penularan virus tersebut.

"PSBB jangan dilonggarkan. Pemerintah jangan kendor. Ini kan belum berhenti," ujar Marius.

Marius mengatakan, adalah langkah yang tidak bijak jika alasan ekonomi menjadi alasan pelonggaran PSBB. Menurutnya menyelamatkan nyawa manusia lebih penting ketimbang membenahi ekonomi di dalam negeri.

"Sekarang kan pilih dua. Mau ekonomi atau kesehatan. Kalau ekonomi kalau miring-miring dikit masih bisa. Kalau kesehatan hanya mati dan hidup saja. Kalau sudah mati ya selesai. Titik. Nggak pakai koma lagi. Jadi harus dipikirkan. PSBB sudah dua bulan ya diterusin sampai selesai," ungkapnya.

Untuk diketahui, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto mengatakan saat ini sebanyak 89 laboratorium telaah aktif untuk bisa melakukan pemeriksaan sampel.

Laboratorium berkapasitas biosafety level atau BSL II terdiri dari 48 laboratorium rumah sakit dan 15 laboratorium perguruan tinggi. Kemudian 18 laboratorium di Kementerian Kesehatan (Kemenkes), lima laboratorium jejaring kesehatan daerah, dan tiga laboratorium yang berada di Balai Veteriner di Direktorat Peternakan‎.

Sumber: Jawapos.com
Editor: Rinaldi

Edwar Yaman

Share
Published by
Edwar Yaman

Recent Posts

Bau Menyengat Sampah dan Bangkai, Jalan Pelajar Bagan Batu Dikeluhkan Warga

Jalan Pelajar Bagan Batu dipenuhi sampah dan bangkai hingga menimbulkan bau menyengat. Warga mendesak pemerintah…

13 jam ago

Aryaduta Pekanbaru Hadirkan Pengalaman Iftar Khas Arab dengan 101 Menu

Aryaduta Hotel Pekanbaru menghadirkan paket Iftar Arabic Delight dengan 101 menu Nusantara dan Arab, lengkap…

14 jam ago

Dukung Green City, Pemko Pekanbaru Genjot Pembersihan 900 Km Drainase

Pemko Pekanbaru menargetkan pembersihan 900 km drainase dan saluran air tahun ini untuk mendukung program…

14 jam ago

Bupati Rohul Tebar 3.000 Bibit Ikan di Lubuk Larangan Kabun, Dukung Ekonomi dan Ketahanan Pangan

Bupati Rohul menebar 3.000 bibit ikan di Lubuk Larangan Desa Kabun untuk mendukung ketahanan pangan,…

15 jam ago

Pengelolaan Aset Dinilai Produktif, UIN Suska Riau Sabet Penghargaan KPKNL

UIN Suska Riau meraih penghargaan Terbaik III Produktivitas BMN 2025 dari KPKNL Pekanbaru atas komitmen…

16 jam ago

Kasus Penembakan Gajah di Pelalawan Jadi Atensi Khusus Kapolda Riau

Polda Riau memburu pelaku penembakan gajah Sumatera di Ukui. Polisi menemukan proyektil peluru dan memeriksa…

18 jam ago