Categories: Nasional

Wako Khawatirkan Kasus Stunting

DUMAI (RIAUPOS.CO) — Permasalahan gagal tumbuh anak akibat kurang gizi atau lebih dikenal dengan stunting di Kota Dumai terus menjadi perhatian.  Bahkan Wali Kota Dumai Zulkifli As merasa prihatin masih adanya kasus stunting di Kota Dumai.

"Memang kalau melihat hingga saat ini, ada 290 kasus yang terjadi di Kota Dumai dari 16 ribu kasus di Riau, angka itu memang terkecil di Provinsi Riau, akan tetapi bagi saya ini masalah serius," ujar wako.

Ia mengatakan pada  2019 ada 78 kasus stunting yakni di Kecamatan Bukit Kapur ada 25 kasus, Kecamatan Sungai Sembilan 23 kasus, Dumai Barat 21 kasus, Dumai Selatan ada 9 kasus, dan Kecamatan Dumai Timur ada 1 kasus.

"Saya atas nama Pemko Dumai dan atas nama masyarakat mengimbau kepada instansi terkait dan pihak-pihak yang berkompeten di bidangnya masing-masing untuk bergandeng tangan menyelesaikan kasus per kasus ini," tuturnya.

Ia mengatakan kasus ini kalau dibiarkan akan menjadi masalah besar bagi peningkatan kualitas dan kesejahteraan penduduk ke depan. Bahkan kalau dibiarkan, ini akan menjadi sorotan semua kalangan bahkan bisa jadi sorotan dunia.

Untuk itu,  ia meminta kepada seluruh stakeholder untuk lebih serius mengatasi masalah stunting. Karena menyangkut masa depan anak-anak, peningkatan kualitas SDM dan kemanusiaan.

"Ke depan kita harus melakukan pencegahan sejak awal. Misalnya saja bekerja sama dengan KUA dalam hal penyuluhan pranikah bersama puskesmas. Termasuk pemenuhan gizi sejak bayi masih dalam kandungan. Karena kasus stunting ini bisa ditekan dengan pencegahan sejak pranikah," ujar Zul As.

Ia mengatakan yang paling penting terkait stunting ini memberikan pemahaman kepada masayarakat tentang arti penting gizi dalam mewujudkan SDM yang unggul. Dan pemenuhan gizi bisa dilakukan di lingkugan sekitar tanpa biaya yang mahal. “ Yang harus dipahami itu, gizi seimbang itu tidak harus mahal. Banyak sumber pangan di sekitar yang bisa dimanfaatkan,” lanjut Zul As.

Kepada instansi terkait wako menegaskan untuk mempercepat melakukan intervensi langsung sasaran rumah tangga yang ibunya baru melahirkan.  Seperti mengecek asupan makanan si bayi, melihat status gizi si ibu apakah sudah cukup atau belum. Melihat adakah si bayi terkena penyakit menular atau tidak, dan melihat tingkat kesehatan lingkungan di sekitar tempat si bayi baru melahirkan.(ade)

Laporan: HASANAL BULKIAH

Arif Oktafian

Share
Published by
Arif Oktafian

Recent Posts

Penerbangan di Bandara SSK II Pekanbaru Berjalan Normal di Tengah Kabut Asap

Aktivitas penerbangan di Bandara Internasional SSK II Pekanbaru berjalan aman dan normal meski Kota Pekanbaru…

23 jam ago

Opening Party Honda DBL 2026 Riau Bergulir Hari Ini di Gelanggang Remaja Pekanbaru

Kompetisi basket pelajar bergengsi Honda DBL with Kopi Good Day 2026 Riau resmi bergulir mulai…

24 jam ago

Sidang Korupsi Kuansing: Sopir Zulkarnain dan Istri Suhardiman Amby Bersaksi

Persidangan kasus suap mantan Sekda Kuansing Zulkarnain mengungkap alur pembayaran angsuran Pajero Sport dan penguasaan…

1 hari ago

Kabut Asap Makin Tebal, Disdikbud Pelalawan Liburkan Tatap Muka di 8 Kecamatan

Disdikbud Kabupaten Pelalawan memberlakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di 8 kecamatan akibat memburuknya kualitas udara…

1 hari ago

Tabrakan Beruntun 10 Mobil di Lampung Akibat Asap Tebal, 2 Orang Meninggal

Kecelakaan beruntun melibatkan 10 kendaraan terjadi di Jalan Lintas Pantai Timur Sumatera, Tulang Bawang, Lampung…

1 hari ago

Persidangan Korupsi Kuansing Ungkap Mantan Kabag Umum Punya Rekening Rp2,9 Miliar

Persidangan perkara korupsi mantan Sekda Kuansing Zulkarnain mengungkap transaksi bernilai total Rp2,9 miliar di dua…

2 hari ago