ahli-pidana-hukum-pidana-ini-apresiasi-kinerja-kapolri
JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Ahli pidana dari Universitas Krisnadwipayana, Firman Wijaya, memberikan apresiasi atas kepemimpinan Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo dalam capaian 100 hari kerja.
Menurutnya, transformasi Polri menuju prediktif, responsibilitas, dan transparansi berkeadilan (Presisi) telah membentuk berbagai program terobosan yang mengarah pada polisi sebagai aparatur penegak hukum di masa depan.
“Perubahan fundamental paling terlihat adalah bergesernya penilaian kinerja dari basis statistik menjadi basis dampak terhadap masyarakat. Ini artinya, Polri turut membangun budaya hukum di masyarakat agar hukum dapat hidup sebagai norma aturan dalam membangun ketertiban sosial,” ujarnya di Jakarta, Senin (10/5/2021).
Dengan upaya-upaya dasar yang dibentuk ini, ke depan cara pandang bangsa terhadap institusi kepolisian akan terus berkembang sesuai konteks zaman.
Sebagai sebuah analogi, kata Firman, kejahatan sebagai fenomena sosial juga terus berkembang mengikuti kemajuan masyarakat. Oleh karena itu perangkat hukum yang terdiri dari aturan hukum (legal substance) dan aparaturnya (legal structure) harus beradaptasi agar hukum dapat melingkupi semangat zaman.
“Saya melihat, misalnya, penguatan Polri dalam bidang siber telah membuka perspektif baru tentang penegakkan hukum. Dan ini masih merupakan proses pencarian format yang belum selesai,” jelasnya.
Penulis buku Whistle Blower Dan Justice Collaborator dalam Perspektif Hukum ini juga menyebut terobosan paling seksis yang mengemuka dalam program Kapolri Listyo Sigit juga berupa penerapan keadilan restoratif atau restorative justice. Upaya ini diterapkan dalam delik Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) yang mengedepankan proses dialog dan mediasi antara korban dan pelaku.
“Upaya ini mengetengahkan delik aduan. Yang mana, hanya korban yang boleh membuat laporan kepolisian pada kasus ujaran kebencian, hoaks maupun penghasutan SARA di dunia maya,” imbuhnya.
Mediasi kemudian didudukkan sebagai solusi setelah laporan kepolisian dibuat, artinya, kata Firman, Polri mengetengahkan penyelesaian win-win solution pada perkara antara korban dan pelaku.
Upaya ini membawa babak baru kejahatan siber atau kejahatan terkait komputer berbasis SARA. Di mana sebelumnya, penegakan hukum ansich langsung diterapkan sehingga mendorong tingginya statistik orang dihukum hanya karena ujaran di dunia maya atau yang terdokumentasi melalui foto, video, dan jejak digital.
“Setelah ada penerapan keadilan restoratif, angka kejahatan ujaran kebencian pasti menurun,” tegasnya.
Laporan: Yusnir (Jakarta)
Editor: Hary B Koriun
Pangdam dan Kapolda kembali memantau penanganan Karhutla di Kuala Cenaku Inhu. Dari 150 hektare lahan…
Witama melaju ke semifinal HSBL 2026 setelah mengalahkan SMAN 1 Pekanbaru 54-35 dan akan menghadapi…
Pendaftaran calon pimpinan Baznas Riau periode 2026–2031 ditutup dengan 51 peserta. Seleksi administrasi dimulai sebelum…
Sidang perkara penggelapan Riau Pos mengungkap gaji Rida K Liamsi Rp200 juta per bulan dan…
BMKG Pekanbaru mendeteksi 115 titik panas di Riau pada Rabu (16/9/2026). Indragiri Hulu menjadi wilayah…
Houthi melancarkan serangan rudal dan drone ke tiga kota Arab Saudi. Sebanyak 13 warga terluka…