JAKARTA (RIAUPOS.CO) — NeckSense, teknologi pertama yang mampu secara akurat dan pasif merekam berbagai perilaku makan, dapat melakukan pendeteksian secara langsung ketika orang sedang makan, termasuk seberapa cepat mereka mengunyah, berapa banyak gigitan, dan berapa kali tangan mereka diarahkan ke mulut mereka.
Data tersebut, disertai dengan informasi lain seperti detak jantung, akan membantu para ilmuwan memahami apa yang menyebabkan perilaku makan tak terkendali atau bermasalah dan bagaimana cara mengintervensi untuk menghentikan perilaku tersebut secara waktu nyata, menurut sebuah penelitian yang diunggah di situs web Northwestern University (NU) pada Rabu (8/7), seperti dilansir Antara dari Xinhua.
Data tersebut juga akan mencakup rincian fisik yang dilaporkan secara mandiri seperti seberapa lapar atau kenyang yang Anda rasakan atau rincian psikologis seperti seberapa tertekan atau seberapa cemasnya Anda. Pengguna juga dapat mengunggah foto makanan mereka melalui aplikasi ponsel pintar.
Teknologi itu meliputi sebuah kamera kecil berbentuk liontin untuk memvalidasi apa yang ditangkap oleh kalung itu. Nantinya, kamera itu akan dihilangkan. Sebuah studi Kedokteran Northwestern dengan 20 peserta telah memvalidasi teknologi tersebut.
"Perlengkapan ahli gizi telah ditingkatkan," kata kepala penelitian Nabil Alshurafa, seorang lektor kedokteran pencegahan di Fakultas Kedokteran Feinberg NU.
"Kemampuan untuk dengan mudah merekam pola asupan makan memungkinkan ahli diet atau bahkan orang awam memanfaatkan teknologi kami untuk memberikan intervensi digital tepat waktu yang terjadi pada saat makan guna mencegah makan secara berlebihan," imbuhnya.
Mengukur pola makan orang memungkinkan para ilmuwan untuk mulai memahami bagaimana variabel-variabel ini dikaitkan dengan makan berlebihan, memberi mereka cara baru untuk melakukan intervensi.
Saat ini, ahli diet harus bergantung pada pelaporan mandiri berdasarkan ingatan 24 jam pasien, metode yang terkenal tidak dapat diandalkan karena orang lupa dengan apa yang mereka makan atau memalsukan diet mereka. Metode lainnya seperti mencatat konsumsi makanan/minuman saat dilakukan, cenderung memiliki kesalahan karena sangat memberatkan dan mengganggu rutinitas sehari-hari.
Pada langkah berikutnya, para peneliti akan menguji NeckSense bersama dengan beberapa perangkat pakai lainnya dengan 60 partisipan yang mengalami obesitas dan memvalidasi perangkat terhadap standar ingatan 24 jam, serta akan membuat kalung tersebut menjadi lebih modis dan menguji kelayakan intervensi waktu nyata.
NeckSense adalah bagian dari studi lebih luas yang disebut SenseWhy, yang akan menilai apakah memakai berbagai sensor akan membantu kita memahami perilaku makan orang yang bermasalah secara waktu nyata.
Teknologi itu dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the ACM on Interactive, Mobile, Wearable and Ubiquitous Technologies.
Sumber: Jawapos.com
Editor: Rinaldi
Kecelakaan maut di Tol Pekanbaru-XIII Koto Kampar KM 25 menewaskan seorang ustaz dan dosen akibat…
BRIZZI x ARKIV menghadirkan kolaborasi seni dan transaksi digital di Blok M Hub pada 19–23…
Sebanyak 435 mahasiswa baru Fakultas Pertanian dan Perikanan UIR mengikuti PKKMB 2026. Dekan dorong mahasiswa…
Pemko Pekanbaru memperpanjang masa Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi siswa PAUD hingga SMP pada 21–22…
Tim putra SMA Darma Yudha Pekanbaru keluar sebagai champion Riau Pos-Honda HSBL 2026 Pekanbaru Series…
Ditbinmas Polda Riau menggelar sosialisasi Uji Kompetensi Satpam sekaligus meresmikan inovasi pelayanan Perpanjangan KTA Satpam…