Categories: Nasional

Bandar Jiwa, Nanda dan Tempat Pulang

Bandar Jiwa adalah sebuah pertunjukan tari kontemporer yang bercerita tentang perjalanan seseorang menemukan jiwanya. Seseorang itu adalah Nanda, pemilik nama panjang Syafmanefi  Alamanda.

(RIAUPOS.CO) – NANDA adalah seorang penari asal Riau. Baginya,  Nanda adalah tubuhnya sendiri, tubuh yang bukan sekedar satuan materi yang hanya bisa diuraikan dalam bentuk anatomi. Tubuh bagi Nanda adalah media bagi dirinya dalam menyampaikan pesan pada khalayak ramai.

Bagi Nanda, tubuh adalah rumah tempat berlabuhnya jiwa yang telah mengembara. Bukan dirinya yang menggerakkan  bukan pula digerakkan. Tapi jiwa lah yang menggerakkannya.

Selain tari, pertunjukan ini juga kaya hasil kolaborasi dengan seni lainnya, seperti musik dan teater. Seluruhnya dibungkus dalam bahasa jiwa yang tenang tapi lantang. Pesan-pesan nampak jelas dalam setiap gerak dan ekspresi.

Nanda tampil sebagai tokoh sentral sekaligus koreografer. Humain Saind Mantra oleh Yuval Avital, penata artistik Bone dan penari Nanda, Rizlina  Hanan, M Sukri.

Di laman seni Sikukeluang, Gobah, Pekanbaru, pertunjukan yang dikemas dalam program 'Mendengar dan Melihat Kita' ini, ditonton secara langsung serta disiarkan  di media sosial.

''Karya baru ini atau karya inovatif merupakan sebuah proses kreatifitas yang dilakukan setiap tahun. Untuk tahun ini  eksplorasi tentang Bandar Jiwa sebagai pabuhan,  dermaga, diri,  jiwa, jantung dan anatomi dalam rasa,'' kata Nanda.

Garapan ini juga terinspirasi dari tubuh Riau yang terdiri dari banyak sungai-sungai besar sebagai nadi transportasi antar desa atau kampungyang semuanya berhilir ke laut Cina Selatan. Semuanya memiliki dermaga, pelabuhan sebagai tempat singgah.

''Maka, kita tidak bisa menolak alkuturasi seni dan budaya, begitu juga dengan tari. Pengalaman empiris menjadi dasar melalui proses mendengar, melihat dan mengalami, kembali ke jiwa dan sang pencipta, kepada sayang dan cinta terhadap diri sendiri dan lingkungan (lokal komtem).

Nanda berharap, semoga semua itu menjadi bahan renungan kreatif ketika hanya diam tidak berbuat.

''Berbuatlah, dan berbagi makna serta rasa. Kami berharap, karya ini dapat mengedukasi tentang hal-hal ketenangan dan kesabaran,'' sambung Nanda.***

 

Laporan KUNNI MASROHANTI, Pekanbaru

 

Firman Agus

Share
Published by
Firman Agus

Recent Posts

Verifikasi Berkas 153 Calon Kades di 54 Desa se-Rohul Diumumkan 27-28 Oktober 2026

Dinas PMPD Kabupaten Rokan Hulu mengingatkan panitia Pilkades serentak di 54 desa untuk menjaga netralitas…

5 jam ago

Aroma Busuk Mirip Telur dan Gas Bocor Resahkan Warga, DLHK Pekanbaru Telusuri Sumber Bau

DLHK Kota Pekanbaru menurunkan tim ke sejumlah kecamatan guna menelusuri sumber bau menyengat menyerupai gas…

5 jam ago

Kabur Usai Cabuli Murid Oknum Guru di Pelalawan Diburu Polisi dan Masuk DPO

Polres Pelalawan menetapkan oknum guru berinisial HS sebagai DPO atas dugaan kejahatan seksual terhadap murid…

6 jam ago

Dikukuhkan Jadi Guru Besar Unri, Prof Yesi Soroti Peran Akuntansi Manajemen di BUMDes

Prof Yesi Mutia Basri SE MSi Ak CA PhD resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang…

6 jam ago

Buntut Video Viral Diduga LGBT, Satpol PP Pekanbaru Panggil Pengelola Kafe Laksamana Muda

Satpol PP Kota Pekanbaru memanggil pengelola Kafe Laksamana Muda dan orang-orang dalam video viral yang…

6 jam ago

Tampil di Forum CAFEO ke-44 Bandung, Plt Gubri SF Hariyanto Raih Pengakuan ASEAN Engineer

Plt Gubernur Riau SF Hariyanto mencatatkan sejarah sebagai Gubernur pertama di Indonesia yang meraih pengakuan…

6 jam ago