Categories: Nasional

Muhadjir Ungkap Hambatan Masuk Dunia Kerja

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy mengungkapkan permasalahan yang dialami tenaga kerja di Indonesia. Mulai dari prenatal atau sebelum lahir hingga perguruan tinggi.

Pada masa sebelum melahirkan dan pemberian ASI kepada bayi, terdapat ancaman stunting. Hal ini menjadi ancaman karena saat ini angkatan kerja Indonesia sebesar 57 persen adalah mantan stunting.

"Angkatan kerja kita 57 persen, ini adalah mantan stunting. Ini juga menjadi faktor kenapa angkatan kerja tidak produktif," tutur Muhadjir dalam Konferensi Forum Rektor Indonesia 2020 secara daring, Sabtu (4/7).

Pada usia dini, permasalahan yang dihadapi adalah pembentukan karakter yang baik dan mulia. Jika saja gagal dalam hal ini, maka menciptakan pribadi yang unggul pun akan sulit.

"Untuk SMP ini juga ancaman nyata adalah lemahnya proses pembelajaran kita. Tingkat ketimpangan luar biasa. Perbandingan saja, ada sebuah kabupaten di wilayah Timur itu seperti awal tahun 1970-an, tidak pakai sepatu, ingusan dan itu masih pemandangannya aneh. Di sana jangankan teknologi, sepatu pun tidak, ini adalah problem yang juga harus kita tangani," jelasnya.

Kemudian, karakter pada tingkat yang harus dibenahi pada usia remaja, yakni SMA dan SMK perlu pendampingan dari orang yang memiliki karakter kuat untuk memasuki dunia kerja. Muhadjir mengakui bahwa karakter kerja anak Indonesia masih belum bagus.

"Ini kita saksikan anak SMA/SMK itu bukan karena lapangan pekerjaan tidak ada, tapi dia secara mental tidak siap kerja. Misalnya tamatan SMK jurusan otomotif, itu sepeda motornya dia ubah untuk balapan. Ini contoh mental untuk masuk di dunia kerja belum baik," terang Muhadjir.

Sedangkan untuk tingkat perguruan tinggi, meskipun sudah matang, pembinaan serta peran institusi pun harus lebih ditingkatkan. Salah satu hal yang dilakukan untuk meningkatkan karakter tenaga kerja adalah dengan memberikan kebebasan berinovasi, baik bagi mahasiswa dan universitas melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka.

"Seperti memberikan kebebasan mahasiswa untuk memilih mata kuliah apa yang dipelajari dan keterampilan yang didapatkan," tambah Muhadjir.

Jika tidak segera dibenahi, manfaat bonus demografi yang diperkirakan terjadi pada 2030 nanti akan sirna. Padahal, hal itu digadang-gadang bisa menjadi penopang peningkatan kesejahteraan di Indonesia.

"Kita akan memasuki bonus demografi, maka apakah kita bisa mengelolanya dengan baik. Kalau iya, kita akan panen, tapi kalau kita gagal mengelola, maka kita akan kena malapetaka demografi. Jangan sampai kita terjebak di middle income trap," pungkasnya.

Sumber: Jawapos.com
Editor: Rinaldi

 

Edwar Yaman

Share
Published by
Edwar Yaman

Recent Posts

APBD Terbatas, Meranti Andalkan Program IJD untuk Benahi 9,6 Km Jalan

Pemkab Kepulauan Meranti mengusulkan tiga ruas jalan sepanjang 9,6 km masuk program IJD dengan kebutuhan…

2 jam ago

Kabut Asap Karhutla Kembali Selimuti Pekanbaru, Polusi Tertinggi Ketiga di Indonesia

Kabut asap karhutla masih menyelimuti Pekanbaru. Kualitas udara memburuk, AQI mencapai 171 dan 156 titik…

4 jam ago

Bentrokan Konflik Lahan 80 Hektare di Kuansing, 9 Orang Terluka

Bentrokan dua kelompok terkait konflik lahan 80 hektare terjadi di Kuansing. Sembilan orang terluka dan…

4 jam ago

Jalan Sontang-Duri Kembali Berlumpur, Truk Bermuatan Berat Banyak Terjebak

Jalan Sontang-Duri kembali rusak setelah hujan menggerus timbunan. Truk bermuatan berat kesulitan melintas dan terjebak…

4 jam ago

Erupsi 4 Gunung Bikin 8 Bandara Ditutup, 35 Penerbangan Pekanbaru-Jakarta Batal

Erupsi empat gunung mengganggu penerbangan. Sebanyak 35 penerbangan dari dan ke Pekanbaru batal setelah delapan…

4 jam ago

Distribusi Tersendat, Semen di Rohul Langka hingga Warga Harus Antre

Kelangkaan semen di Rohul hampir sebulan membuat warga harus booking. Omzet toko bangunan turun hingga…

4 jam ago