PEKANBARU (RIAUPOS.CO) — Menurut psikolog anak, Violeta Hasanur, banyak faktor yang menyebabkan bully itu terjadi. Tapi faktor utamanya adalah faktor lingkungan.
"Lingkungan seperti apa? Karena pembentukan perilaku anak dari kecil belajar dari apa yang dilihat dan apa yang diperhatikan dari lingkungan sekitarnya," tutur Violeta, kemarin.
Dijelaskannya, kalau pola orang tua tidak mengajarkan tentang empati dan melihat orang tuanya kasar sama orang lain, kasar sama keluarga dan kasar sama anaknya, maka anak akan cenderung melihat dan meniru.
Selain faktor lingkungan, faktor lainnya adalah akibat dari melihat di media sosial dan film itu juga anak.
"Tapi kalau saya bilang sih, para pembuli itu sebenarnya korban. Korbannya itu karena dia juga melihat dari orang. Artinya, kalau saya menyarankan sebagai psikolog, kita tidak hanya melihat korban dari pembuli tersebut. Tetapi si pembuli juga harus mendapat perhatian. Yang paling penting adalah lingkungan," ujarnya.
Ia menuturkan, dampak dari korban dibuli salah satunya depresi atau ketakutan. Yang paling parahnya adalah si korban bisa bunuh diri. Karena selalu dibuli. Apalagi kalau misalnya si korban yang dibuli tidak punya support dari orang sekitarnya.
"Seperti contoh dibuli di media dia selalu disalahkan, selalu dihina sehingga itu yang membuat dia sedih. Dan dia merasa tidak berguna dan rasa sakit hati yang tidak diterimanya ya akhirnya dia mengakdiri hidupnya. Itu yang paling ekstrimnya," katanya kepada wartawan.
Lanjutnya, artinya, kalau terjadi disekolah, jadi tidak bisa kita serahkan semua kepada sekolah. Tapi kita juga melihat lingkungan keluarga juga mendukung. Artinya pihak sekolah dan keluarga harus bekerja sama. Dan punya tanggung jawab masing-masing.
"Contohnya memberikan perilaku apa yang boleh dan perilaku apa yang tidak boleh dilakukan. Memberikan perilaku contoh yang benar. Pola asuh yang benar dan memastikan media sosial yang ditonton anak seperti apa,"jelasnya.
Pengaruh Faktor Lingkungan
PEKANBARU (RIAUPOS.CO) — Menurut psikolog anak, Violeta Hasanur, banyak faktor yang menyebabkan bully itu terjadi. Tapi faktor utamanya adalah faktor lingkungan.
"Lingkungan seperti apa? Karena pembentukan perilaku anak dari kecil belajar dari apa yang dilihat dan apa yang diperhatikan dari lingkungan sekitarnya," tutur Violeta, kemarin.
Dijelaskannya, kalau pola orang tua tidak mengajarkan tentang empati dan melihat orang tuanya kasar sama orang lain, kasar sama keluarga dan kasar sama anaknya, maka anak akan cenderung melihat dan meniru.
Selain faktor lingkungan, faktor lainnya adalah akibat dari melihat di media sosial dan film itu juga anak.
"Tapi kalau saya bilang sih, para pembuli itu sebenarnya korban. Korbannya itu karena dia juga melihat dari orang. Artinya, kalau saya menyarankan sebagai psikolog, kita tidak hanya melihat korban dari pembuli tersebut. Tetapi si pembuli juga harus mendapat perhatian. Yang paling penting adalah lingkungan," ujarnya.
Ia menuturkan, dampak dari korban dibuli salah satunya depresi atau ketakutan. Yang paling parahnya adalah si korban bisa bunuh diri. Karena selalu dibuli. Apalagi kalau misalnya si korban yang dibuli tidak punya support dari orang sekitarnya.
"Seperti contoh dibuli di media dia selalu disalahkan, selalu dihina sehingga itu yang membuat dia sedih. Dan dia merasa tidak berguna dan rasa sakit hati yang tidak diterimanya ya akhirnya dia mengakdiri hidupnya. Itu yang paling ekstrimnya," katanya kepada wartawan.
Lanjutnya, artinya, kalau terjadi disekolah, jadi tidak bisa kita serahkan semua kepada sekolah. Tapi kita juga melihat lingkungan keluarga juga mendukung. Artinya pihak sekolah dan keluarga harus bekerja sama. Dan punya tanggung jawab masing-masing.
"Contohnya memberikan perilaku apa yang boleh dan perilaku apa yang tidak boleh dilakukan. Memberikan perilaku contoh yang benar. Pola asuh yang benar dan memastikan media sosial yang ditonton anak seperti apa,"jelasnya.(dof/*2)


