Categories: Pekanbaru

Satpol PP Tertibkan, Pedagang: Belum Ada Tempat Penampung

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Terdiri dari 300 personil gabungan yang terdiri dari Satpol PP, Polisi Dishub Kota dan Disperindag dikerahkan untuk tertibkan pedagang  Jalan Kopi dan Jalan Cengkeh dekat kawasan Plaza Sukaramai, Kamis (3/10).

Menurut keterangan Kasatpol PP Agus Pramono mengatakan disekitar Jalan Kopi terdapat 19 kios. Sementara di Jalan Cengkeh ada empat kios. “Kios-kios tersebut sudah diberi peringatan hingga tiga kali. Beruntung pada hari ini saat penertiban mereka sudah mencari tempat dengan sendirinya,” sebutnya pada Riau Pos.

Sehingga saat penertiban sudah tidak ada lagi kios-kios yang berdiri tegap. Sementara untuk kios yang berada di Jalan Cengkeh di beri waktu hingga Senin pekan depan.

“Saat penertiban tadi barang-barang sudah pada dibawa pemiliknya. Bahkan jika ada yang meminta bantuan untuk pengangkatan kami bantu. Namun kalau memang ada yang ditinggal dan tidak dibawa ya diluluhlantakan,” imbuhnya.

Katanya, Jalan Kopi itu nantinya akan dibuat taman vertikal dengan panjang kisaran 200 meter. Namun jika hitungan proyek sepanjang 180 meter.

Menanggapi hal itu, pedagang di Jalan Cengkeh merasa belum terima jika harus pergi dari tempat biasa berjualan. Nasril salah satu pedagang yang berjualan nasi ramas mengaku belum mendapat tempat untuk berjualan lagi. Sehingga katanya, masih harus mencari.

“Harusnya pemerintah sebelum memberi arahan untuk pergi meninggalkan lapak kami sudah menyediakan penampung. Bukan kami yang mencari sendiri,” ujarnya yang sudah berjualan sejak belum adanya Ramayana.

Kata Nasril, dulu masih ada terminal Kulim kemudian Pasar Sukaramai itu namanya pasar tenda. Lebih lanjut harusnya seperti DKI, ketika sudah ada penampung baru disuruh pindah.

“Alasan mereka karena terkena pagar Ramayan (Red,Plaza  Sukaramai) . Seharinya bisa dapat Rp150 ribu dari pukul 05.30 WIB sampai pukul 17.00 WIB,” ucapnya.

Hal lainnya diutarakan wanita paruh baya yang berjualan bunga rampai dan beraneka jeruk. Nurlaela namanya, belum tau pindah dimana dan belum dapat tumpangan. Kios dibeli seharga dua mas.

“Kiosnya dibeli seharga Rp400 ribu saat harga satu mas seharga Rp200 ribu,” sebutnya wanita paruh baya sambil menitikan air mata berharap pemerintah membantu mencarikan solusi untuk berjualan.

Ia tinggal bersama cucunya yang kelas 3 SMA. Dalam seharinya dagangannya laku Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu. Jualan dari pukul 07.00 WIB sampai pukul 17.00 WIB.
Laporan: *3/mirshal
Editor: Deslina

Edwar Yaman

Share
Published by
Edwar Yaman

Recent Posts

Aksi Spanduk di Gerbang Sekolah, Kegiatan Belajar di SMPN 2 Batang Peranap Terhenti

Spanduk kecaman terhadap kepala sekolah terpasang di SMPN 2 Batang Peranap. Akibatnya, siswa tak bisa…

19 jam ago

Pasar Murah Kampar Sasar Enam Lokasi, Ini Daftar Komoditasnya

Dinas Perdagangan Kampar gelar operasi pasar di enam titik dengan menyediakan kebutuhan pokok harga terjangkau…

21 jam ago

7 Fungsi Vital Steam Line dan Sanitary Valve dalam Industri Modern

Steam Line dan Sanitary Valve berperan penting mengatur aliran uap (untuk pemanasan/sterilisasi) sekaligus menjamin standar…

21 jam ago

Kapasitas Penyimpanan Kritis, Sistem E-Kinerja Pemkab Meranti Lumpuh Sementara

Server e-kinerja Pemkab Kepulauan Meranti sempat lumpuh akibat kapasitas penyimpanan penuh, Diskominfotik siapkan peningkatan infrastruktur.

21 jam ago

Dari Rp4.700 ke Rp2.700, Harga Kelapa Inhil Anjlok Nyaris 40 Persen

Harga kelapa di Inhil turun hampir 40 persen jadi Rp2.700/kg. Petani terpukul jelang Lebaran dan…

21 jam ago

Pro-Kontra Penutupan Jembatan Sungai Sinambek di Sentajo Raya

Jembatan Sungai Sinambek yang sempat ditutup karena rusak parah kembali dibuka warga, Bupati Kuansing ancam…

21 jam ago