Categories: Gaya Hidup

Ternyata Gangguan Bicara Bisa Dideteksi Sejak Bayi 6 Bulan

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Gangguan tumbuh kembang anak bisa beragam. Salah satunya terlambat dalam bicara. Keterlambatan perkembangan apapun, baik itu motorik, bicara dan bahasa, atau psikososial, harus dideteksi sedini mungkin sehingga dapat segera dilakukan intervensi.

Gangguan bicara dan bahasa ini bisa dideteksi sejak dini. Masalah gangguan tumbuh kembang ini sama pentingnya dengan pertumbuhan fisik.

“Ibu muda atau ibu milenial paling sering keluhkan pertumbuhan dan perkembangan anak, termasuk tumbuh kembang,” Head of Patient Pillar PT Global Urban Esensial Evi Kristianti, baru-baru ini secara daring.

Dokter spesialis anak konsultan tumbuh kembang, dr. Marlisye Marpaung SpA(K), dalam seri Instagram Live @teman-parenting, mengatakan, orang tua kerap mengeluhkan anak belum bisa bicara dan akhirnya membawanya ke dokter spesialis anak. Prevalensi gangguan bicara pada anak diperkirakan mencapai 6-20 persen dari populasi anak. Keterlambatan bicara dan bahasa ini sering juga disebut gangguan bicara, gangguan bahasa atau speech delay.

“Gangguan perkembangan dan bahasa ini perlu menjadi perhatian serius karena berkaitan dengan perkembangan anak secara umum dan berdampak pula pada orang tua dan lingkungan, terutama saat anak harus mulai bersekolah,” jelas dr. Marlisye.

Menurutnya gangguan bicara dan bahasa pada anak bahkan bisa menetap sampai dewasa jika tidak diatasi dengan baik. Perkembangan bicara dan bahasa memiliki periode emas pada 2-3 tahun pertama kehidupan, dan dimulai sejak bayi baru lahir. Di tahapan ini, bayi akan merespons dan mengintrepretasi suara yang didengarnya dengan cara mengeluarkan suara. Adapun bentuk komunikasi bahasa bayi berupa tangisan.

“Jika diperhatikan, suara tangisan bayi sebenarnya berbeda, antara tangisan lapar, mengantuk, tangisan manja, atau karena merasakan nyeri,” jelas dr. Marlisye.

Semakin bertambah umur, perkembangan komunikasi bayi juga akan berkembang. Dimulai dari refleksi vokalisasi saja, kemudian menjadi bubbling, laling, dan akhirnya menjadi true speech.

“Orang tua harus mengikuti tahapan perkembangan bicara anak. Setiap tahapan ada kesulitan-kesulitannya sendiri, namun jika di masing-masing tahapan ini bisa dilalui maka akan mudah saja bagi anak untuk mencapai tahapan-tahapan berikutnya,” tambah dr. Marlisye.

Lalu apa saja tandanya yang bisa dikenali sejak bayi 6 bulan?

1. Kurang Respons

Di 6 bulan pertama, jika seorang bayi tidak menunjukkan respons terhadap suara, tidak menoleh pada sumber suara, atau tidak ada minat untuk berinteraksi dengan orang terdekatnya, itu adalah peringatan awal.

2. Tak Menoleh Saat Dipanggil

Di 6 bulan kedua, jika si anak tidak menoleh ketika dipanggil namanya, tidak bubbling, atau ekspresi wajahnya itu tidak sesuai dengan kondisi yang sebenarnya. “Misalnya orang tuanya menggoda dan tertawa, tetapi dia diam saja,” ujar dr. Marlisye

3. Tak Mengucap Kata

Di 6 bulan ketiga, saat anak berusia 1-1,5 tahun, jika si anak tidak bisa menunjuk atau tidak bisa mengucapkan 1 kata yang berarti atau perbendaharaan kosa katanya masih kurang dari 10, atau yang tadinya bisa bubbling tetapi hilang kemampuannya, ini juga tanda bahaya.

4. Tak Mengerti Anggota Tubuh

Di usia 18-24 bulan jika tidak ada satu katapun yang bisa dimengerti, atau tidak bisa menunjukkan anggota tubuhnya, misalnya mana mata, mana telinga, dan kosa katanya masih kurang dari 50 kata, itu juga tanda bahaya.

“Jika menemukan tanda-tanda itu, jangan tunggu sampai anak berusia lebih dari 2 tahun baru berkonsultasi. Sebagian orang tua menunggu karena berharap di usia 3 tahun anak akan lancar berbicara dengan sendirinya. Prinsipnya semakin cepat dideteksi ada gangguan semain cepat dilakukan intervensi sehingga hasilnya lebih baik,” tegas dr. Marlisye.

Cara Mencegahnya

Mencegah gangguan bicara dan bahasa pada anak bisa dilakukan dengan memperbanyak stimulasi bicara sejak dini. Lakukan stimulasi sejak dini, diulang-ulang, dengan rasa kasih sayang dan gembira dan tidak ada paksaan. Orang tua harus memberikan contoh, di mana orang tua juga harus banyak mengucapkan kata-kata.

“Sebaiknya kata-kata yang baik dan diucapkan dengan lembut dan santun, dan batasi penggunaan gadget atau paparan layar,” tips dari dr. Marlisye.

 

Sumber: Jawapos.com

Editor: E Sulaiman

 

 

 

Arif Oktafian

Share
Published by
Arif Oktafian

Recent Posts

WNA Asal India Ditemukan Tak Bernyawa di Kamar Hotel Jalan Hang Tuah Duri

Seorang WNA asal India berinisial SR (61) ditemukan tidak bernyawa di kamar hotel kawasan Jalan…

19 jam ago

Polda Riau Libatkan Bhabinkamtibmas dalam Program Rehabilitasi Mangrove M4CR

Direktur Pembinaan Masyarakat Polda Riau Kombes Pol Eko Budhi Purwono memperkuat komitmen menjaga ekosistem pesisir…

20 jam ago

Truk Tonase Besar Kembali Marak di Jalan HR Soebrantas, Anggota DPRD Pekanbaru Roni Pasla Angkat Suara

Anggota Komisi IV DPRD Pekanbaru Roni Pasla mendesak Dishub dan Polresta Pekanbaru bertindak tegas menertibkan…

20 jam ago

Total 683 Dapur Beroperasi di Riau, BGN Targetkan 1,5 Juta Penerima Manfaat

Badan Gizi Nasional meresmikan 87 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Riau untuk mendukung…

22 jam ago

Cegah Peredaran Barang Haram, Polsek Kampar Kiri Gelar Razia Kafe Malam Hari

Polsek Kampar Kiri menggelar razia pencegahan narkotika di sebuah kafe di Desa Lipat Kain Utara,…

1 hari ago

Beroperasi Selama 31 Tahun, Mall Legendaris Plaza Citra Pekanbaru Tutup Permanen

Pusat perbelanjaan legendaris Plaza Citra Pekanbaru resmi menghentikan operasional secara permanen setelah 31 tahun melayani…

1 hari ago