Categories: Ekonomi Bisnis

Belanja Publik RI Masih Rendah, Ini Kata Bank Dunia

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Tingkat belanja publik Indonesia masih rendah dibandingkan dengan negara berkembang lain (emerging and developing market economies/EMDEs).

Pasalnya, pemerintah rata-rata hanya melakukan belanja publik sebesar 16,6 persen pada 2018, sedangkan negara-negara pasar berkembang dan negara-negara berkembang lainnya mencapai 32 persen dari PDB.

Bank Dunia (World Bank) mengklaim hal ini yang tertuang dalam laporan Bank Dunia bertajuk "Kajian Belanja Publik Indonesia: Untuk Hasil yang Lebih Baik".

"Belanja pada umumnya naik selama periode ledakan harga komoditas pada 2003-2008 dan 2010-2013, tetapi bahkan ketika itu (jumlah belanja publik di Indonesia, red) hanya mencapai 20 persen dari PDB," tulis Bank Dunia dalam risetnya,  Senin (30/6/2020).

Bank Dunia menjelaskan belanja publik Indonesia rendah lantaran tingkat penerimaan negara yang juga rendah. Pada 2018, rasio penerimaan terhadap PDB hanya sebesar 14,6 persen.

Rasio penerimaan negara terhadap PDB jauh lebih rendah ketimbang negara-negara pasar berkembang yang mencapai 27,8 persen. Bank Dunia menyatakan rasio penerimaan pajak di Indonesia hanya sebesar 10,2 persen dari PDB pada 2018.

"Itu merupakan yang terendah di antara negara-negara pasar berkembang dan negara-negara berkembang di kawasan," jelas Bank Dunia.

Menurut lembaga internasional itu, ada empat tantangan bagi Indonesia dalam mengumpulkan penerimaan negara. Empat tantangan itu, antara lain penerimaan negara bergantung dari harga komoditas, ketergantungan pada sektor ekstraksi sumber daya alam dan ukuran besarnya ekonomi informal, kapasitas teknologi informasi dan staf yang rendah, serta kebijakan pajak yang kurang optimal.

"Kebijakan pajak yang kurang optimal ini ada beberapa, antara lain banyaknya pembebasan pajak pertambahan nilai (PPN), tingkat ambang batas pendaftaran PPN yang tinggi, dan sistem preferensial yang terdistorsi," ungkap Bank Dunia.

Sebagai informasi, tingkat penerimaan negara tahun ini diproyeksi menurun dari target awal. Kantong negara diperkirakan hanya terisi sebesar Rp1.699,9 triliun atau turun target awal sebesar Rp1.760,9 triliun.

Sementara, belanja negara naik karena ada penambahan alokasi belanja untuk penanganan pandemi virus corona. Belanja negara meningkat dari Rp2.613,8 triliun menjadi Rp2.739,3 triliun.

Laporan: CNN/Antara/Berbagai Sumber
Editor: Hary Koriun

Firman Agus

Share
Published by
Firman Agus

Recent Posts

52 Jalur Siap Bertanding di Pacu Jalur Mini Kuansing, Ini Total Hadiahnya

Sebanyak 52 jalur telah mendaftar Pacu Jalur Mini 2026 di Tepian Narosa Teluk Kuantan. Total…

1 hari ago

Ingin Staycation Saat HUT RI? Hotel Dafam Pekanbaru Punya Promo Menarik

Hotel Dafam Pekanbaru menghadirkan promo Merdeka Staycation Rp545.081 per malam. Tamu juga mendapat Es Merah…

1 hari ago

Pemko Pekanbaru Gencar Perbaiki Jalan, DPRD Ingatkan Soal Aspal Cepat Rusak

DPRD Pekanbaru mengapresiasi perbaikan jalan yang dikebut Pemko, namun meminta kualitas dijaga setelah ditemukan sejumlah…

1 hari ago

Pacu Jalur 2026 Segera Dimulai, Empat SPBU Kuansing Jadi Prioritas Tambahan BBM

Pacu jalur Kuansing 2026 diprediksi menarik puluhan ribu pengunjung. Pemkab memastikan pasokan Pertalite dan solar…

1 hari ago

Ketua Kwarcab Pekanbaru Sulastri Raih Lencana Darma Bakti dari Kwarnas

Ketua Kwarcab Pekanbaru Sulastri meraih Lencana Darma Bakti dari Kwarnas. Penghargaan diberikan atas dedikasinya membina…

1 hari ago

Rumah Warga di Jalan Tanjung Harapan Tembilahan Terbakar, Ini Kondisi Penghuninya

Rumah warga di Jalan Tanjung Harapan, Tembilahan, terbakar Kamis sore. Api berhasil dipadamkan sebelum merembet…

1 hari ago