Categories: Ekonomi Bisnis

Warga Ingin Ganti Karet dengan Sawit

BANGKINANG (RIAUPOS.CO) — Warga di Kecamatan XIII Koto Kampar mengeluhkan ratusan hektare kebun karet plasma milik mereka tidak lagi produktif. Harga karet yang terus merosot juga mendorong warga ingin segera mengalihfungsikan perkebunan tersebut. Warga menginginkan replanting atau penanaman kembali, namun kali ini dengan kelapa sawit.

Keinginan warga ini disampaikan Kepala Desa Lubuk Agung Hairyono. Hairyono mendatangi Wakil Ketua Komisi III DPRD Kampar Safrizal. Tidak diperbolehkannya berkumpul secara masif sejak adanya pandemi virus corona, membuat pertemuan ini hanya sebatas pertemuan informal. Namun Hairyono senang dapat menyampaikan keluh kesah warganya kepada wakil rakyat pada Selasa (24/3) itu.

"Kami di pemerintah desa juga merasa resah ketika warga mengadu kepada kami. Bagaimana nasib rakyat kami ke depan. Kebun ini ditanam sejak tahun 1992, tentu usianya sudah melewati masa produktif. Makanya kami datang mengadukan hal ini. Ingin bertanya bagaimana peluang replanting dengan sawit," sebut Hairyono.

Hairyono menjelaskan, kebun karet Desa Lubuk Agung itu mencapai 400 hektare yang merupakan kebun karet plasma. Kebun itu dibuka bersamaan dengan pembangunan PLTA Koto Panjang. Lubuk Agung sendiri merupakan satu desa yang berpindah karena dampak PLTA. Kini, 400 ha lahan tersebut dimiliki 220 kepala keluarga (KK).

"Perekonomian di kampung kami memang kebanyakan bergantung pada kebun karet, tapi sejak harga murah perekonomian susah. Ditambah pula kini karet sudah tidak lagi produktif. Maka hari ini, kami menemui Komisi III bermaksud meminta petunjuklah. Kami datang untuk mengadu," terangnya.

Selain Lubuk Agung, Desa Ranah Sungkai yang juga merupakan desa pindahan akibat dari PLTA Koto Panjang juga menghadapi permasalahan serupa. Kepala Desa Ranah Sungkai, Haryanto menyebutkan, ada sekitar 700 ha kebun karet plasma yang juga tidak produktif lagi. "Di desa kami ada sekitar 700 ha. Kebun plasma itu sudah hampir habis masa produktifnya," sebut Haryanto.

Sementaa itu, Wakil Ketua Komisi III Safrizal usai menemui kedua kepala desa mengungkapkan, ia menampung aspirasi terlebih dahulu. ‘’Hari ini mendengarkan dulu ya. Aspirasi dua kepala desa ini kami tampung dulu.  Nanti insya Allah akan kami fasilitasi masyarakat dengan Dinas Perkebunan, pihak perusahaan dan perbankan untuk realisasi rencana replanting ini,’’ terangnya.

Dirinya sebagai warga Kampar tahu betul bagaimana dalam sepuluh tahun terakhir harga karet terus mengalami tenakan. Bahkan kini harga karet berkisar Rp5-7 ribu. Dia bertekad akan membantu warga agar kebun karet mereka segera diganti dengan sawit yang menurut warga akan lebih menghasilkan.(zed)

Laporan: Hendrawan (Bengkinang)

Rindra

Share
Published by
Rindra

Recent Posts

Aksi Spanduk di Gerbang Sekolah, Kegiatan Belajar di SMPN 2 Batang Peranap Terhenti

Spanduk kecaman terhadap kepala sekolah terpasang di SMPN 2 Batang Peranap. Akibatnya, siswa tak bisa…

7 jam ago

Pasar Murah Kampar Sasar Enam Lokasi, Ini Daftar Komoditasnya

Dinas Perdagangan Kampar gelar operasi pasar di enam titik dengan menyediakan kebutuhan pokok harga terjangkau…

9 jam ago

7 Fungsi Vital Steam Line dan Sanitary Valve dalam Industri Modern

Steam Line dan Sanitary Valve berperan penting mengatur aliran uap (untuk pemanasan/sterilisasi) sekaligus menjamin standar…

9 jam ago

Kapasitas Penyimpanan Kritis, Sistem E-Kinerja Pemkab Meranti Lumpuh Sementara

Server e-kinerja Pemkab Kepulauan Meranti sempat lumpuh akibat kapasitas penyimpanan penuh, Diskominfotik siapkan peningkatan infrastruktur.

9 jam ago

Dari Rp4.700 ke Rp2.700, Harga Kelapa Inhil Anjlok Nyaris 40 Persen

Harga kelapa di Inhil turun hampir 40 persen jadi Rp2.700/kg. Petani terpukul jelang Lebaran dan…

9 jam ago

Pro-Kontra Penutupan Jembatan Sungai Sinambek di Sentajo Raya

Jembatan Sungai Sinambek yang sempat ditutup karena rusak parah kembali dibuka warga, Bupati Kuansing ancam…

10 jam ago