JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Sektor pengolahan daging berpotensi besar untuk tumbuh lebih pesat. Terbukti, pertumbuhan ekspor meningkat sampai 80 persen dalam kurun waktu empat tahun terakhir.
Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Putu Juli Ardika menyatakan, permintaan masyarakat terhadap produk pangan olahan terus meningkat. Ditambah lagi, konsumsi daging nasional terbilang masih rendah. Itulah peluang bagi industri pengolahan daging untuk mengembangkan pasar produk di dalam negeri.
‘’Hal ini juga beriringan dengan program pemerintah untuk meningkatkan konsumsi protein hewani nasional dalam rangka menekan angka stunting dan gizi buruk,’’ katanya akhir pekan lalu, Ahad (20/1).
Putu memaparkan, industri pengolahan daging saat ini berjumlah 64 perusahaan dengan nilai investasi Rp3,45 triliun dan tenaga kerja sebanyak 25.839 orang. Kinerja ekspor kode produksi HS 1601 dan 1602 pada tahun lalu meningkat signifikan. Yakni, mencapai 80 persen bila dibandingkan pada 2019. Tahun lalu kinerja ekspor mencapai 3,5 juta dolar AS, meningkat dari capaian 2019 sebesar 2,8 juta dolar AS.
‘’Nilai ekspor tersebut memang masih kecil bila dibandingkan dengan negara produsen utama di dunia, tetapi menunjukkan bahwa potensi ekspor produk olahan daging cukup tinggi dan mengalami pertumbuhan yang signifikan,’’ paparnya.
Putu mengungkapkan, kinerja industri pengolahan daging juga dipengaruhi perubahan pola hidup sebagian masyarakat perkotaan yang dituntut lebih cepat dan instan. Hal ini mendorong peningkatan konsumsi makanan olahan. ‘’Pertumbuhan konsumsi daging sapi dan unggas pada 2023 mengalami peningkatan berturut-turut sebesar 8,20 persen dan 12,03 persen jika dibandingkan pada 2019,’’ ungkapnya.
Dia menyampaikan, pertumbuhan konsumsi daging sapi RI di negara ASEAN berada pada posisi ketiga setelah Vietnam dan Malaysia. Untuk pertumbuhan konsumsi daging unggas, Indonesia berada pada posisi ketiga setelah Vietnam dan Filipina.
Sektor pengolahan daging merupakan salah satu industri yang dapat bertahan menghadapi tantangan global dan tetap mengalami pertumbuhan yang positif. Menurut Putu, tantangan ke depan semakin dinamis. ‘’Perubahan yang cepat menuntut industri untuk terus berinovasi dan beradaptasi agar tidak hanya bisa eksis, tapi juga berkembang menjadi lebih baik sesuai dengan tuntutan zaman,’’ tuturnya.
Industri makanan dan minuman, termasuk pengolahan daging, juga akan dihadapkan pada tantangan dunia yang semakin kompleks. Mulai kondisi geopolitik karena perang Rusia-Ukraina dan Israel-Palestina.(agf/dio)
IPC Terminal Petikemas mempercepat digitalisasi layanan pelabuhan untuk meningkatkan efisiensi bongkar muat dan mendukung arus…
Sebanyak 304.717 warga kurang mampu di Pekanbaru menikmati layanan kesehatan gratis melalui program UHC hanya…
Universitas Riau mengukuhkan delapan profesor baru sebagai penguatan riset dan kontribusi intelektual dalam mendukung pembangunan…
Pemko Pekanbaru melarang penebangan pohon besar tanpa izin. Kebijakan ini mendukung program Green City dan…
Satlantas Polresta Pekanbaru menggelar patroli Blue Light dini hari dan mengamankan 12 sepeda motor pelanggar…
PT Butala Menang Abadi meluncurkan Menang Member Card di awal 2026 untuk mempermudah jemaah umrah…