Categories: Ekonomi Bisnis

Impor Cina Berkurang, Momentum bagi Buah Domestik

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Kepriha­tinan dunia atas merebaknya virus corona di Cina membawa dampak positif bagi petani dan pedagang buah-buahan domestik. Berkurangnya impor buah-buahan terutama dari Cina, justru menciptakan peluang besar bagi petani dan pedagang buah Nusantara untuk meningkatkan omzet produksi dan penjualannya.

Pasar buah dalam negeri menjadi semakin terbuka luas untuk diisi dengan buah-buahan domestik. Meski begitu, pemerintah mengimbau para petani maupun pedagang untuk tidak aji mumpung dengan menjual produk buah yang tidak bermutu.

Direktur Jenderal Hortikultura Kemeterian Pertanian Prihasto Setyanto mengajak petani buah di Indonesia untuk memanfaatkan momentum ini. Menurutnya, ini saatnya buah lokal merajai pasar dalam negeri.

"Kita punya buah tropis yang luar biasa besarnya, mulai dari manggis, durian, alpokat, nenas, pisang, jeruk bahkan apel dan stroberi. Volumenya mencapai 22 juta ton lebih tahun 2019 lalu. Namun begitu, untuk jenis buah tertentu seperti pisang, kami imbau agar petani memetik buah saat memang sudah umur panen atau matang fisiologis. Jangan sampai menjual buah ‘karbitan’ atau buah muda yang dipaksa matang," ujar dia dalam siaran pers, Ahad (16/2).

Untuk meminimalisir adanya kecurangan dengan memperdagangkan buah yang belum matang atau menggunakan bahan kimia agar proses pematangan lebih cepat, pihaknya akan memberikan edukasi para petani atau pedagang buah untuk menghindari praktik tersebut.

"Secara umum buah-bua­han lokal kita sangat aman dikonsumsi, karena biasanya dari kebun langsung didistribusikan ke pasar. Rantai pasoknya juga tidak terlalu panjang, sehingga tidak perlu perlakukan khusus penambahan zat-zat kimia tertentu apalagi sampai menggunakan zat kimia berbahaya," ujarnya.

Praktik pematangan itu dapat menurunkan nilai gizi yang berada dalam buah. Selain itu, juga berpengaruh terhadap rasa yang dihasilkan.

"Penggunaan bahan kimia berbahaya seperti Amonia atau Sulfur Dioksida jika sampai tertelan manusia, bisa merusak sistem saraf dan mempengaruhi fungsi hati maupun ginjal. Proses terbentuknya gula alami menurun, dan sintesis vitamin berkurang. Siapa yang rugi? Tentu semua pihak akan dirugikan," teran dia.(jpg)

Arif Oktafian

Share
Published by
Arif Oktafian

Recent Posts

52 Jalur Siap Bertanding di Pacu Jalur Mini Kuansing, Ini Total Hadiahnya

Sebanyak 52 jalur telah mendaftar Pacu Jalur Mini 2026 di Tepian Narosa Teluk Kuantan. Total…

2 hari ago

Ingin Staycation Saat HUT RI? Hotel Dafam Pekanbaru Punya Promo Menarik

Hotel Dafam Pekanbaru menghadirkan promo Merdeka Staycation Rp545.081 per malam. Tamu juga mendapat Es Merah…

2 hari ago

Pemko Pekanbaru Gencar Perbaiki Jalan, DPRD Ingatkan Soal Aspal Cepat Rusak

DPRD Pekanbaru mengapresiasi perbaikan jalan yang dikebut Pemko, namun meminta kualitas dijaga setelah ditemukan sejumlah…

2 hari ago

Pacu Jalur 2026 Segera Dimulai, Empat SPBU Kuansing Jadi Prioritas Tambahan BBM

Pacu jalur Kuansing 2026 diprediksi menarik puluhan ribu pengunjung. Pemkab memastikan pasokan Pertalite dan solar…

2 hari ago

Ketua Kwarcab Pekanbaru Sulastri Raih Lencana Darma Bakti dari Kwarnas

Ketua Kwarcab Pekanbaru Sulastri meraih Lencana Darma Bakti dari Kwarnas. Penghargaan diberikan atas dedikasinya membina…

2 hari ago

Rumah Warga di Jalan Tanjung Harapan Tembilahan Terbakar, Ini Kondisi Penghuninya

Rumah warga di Jalan Tanjung Harapan, Tembilahan, terbakar Kamis sore. Api berhasil dipadamkan sebelum merembet…

2 hari ago