Categories: Ekonomi Bisnis

Setelah Ekspor Dilarang, PKS Tetap Beli TBS Petani

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Sejak ditetapkannya larangan  ekspor bahan baku minyak goreng (migor) dan Crude Palm Oil (CPO) pada 28 April lalu, pabrik kelapa sawit (PKS) berpikir untuk tidak lagi membeli tandan buah segar (TBS) petani non-mitra.

Sebab kalau pun dibeli, PKS justru masuk dalam zona gambling. Dibilang begitu lantaran belum tentu Crude Palm Oil (CPO) hasil olahan TBS itu bisa segera terjual. "Kita lihat sajalah pada lelang di Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN). Berkali-kali Withdraw. Itu menandakan bahwa pasar tidak jelas," kata Ketua Kompartemen Agroindustri Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) cabang Riau Hendry Endy, kepada wartawan, Senin (9/5).

Tapi lantaran memikirkan ekonomi petani dan agar TBS tidak membusuk jelang Idulfitri lalu kata Hendry, PKS pun masih tetap membeli TBS petani itu meski mau tak mau harus dengan harga yang lebih murah. "Pertimbangan harga lebih murah ya lantaran itu tadi. Kita tidak tahu sampai kapan CPO berada di tangki timbun akibat tidak adanya kepastian kapan CPO itu akan laku. Keputusan semacam ini kan sangat berisiko," ujarnya.

Bagi PKS yang punya kebun kata Hendry justru makin dilematis. Sebab CPO hasil olahan TBS dari kebun inti saja belum jelas kapan akan laku, tapi perusahaan mesti tetap membeli TBS petani mitra. "Soalnya kan sudah ada aturan bahwa PKS perusahaan perkebunan sawit anggota GAPKI wajib membeli TBS petani plasma atau KKPA dengan harga yang ditetapkan oleh pemerintah. Begitu juga TBS petani swadaya yang sudah jadi mitra perusahaan. Kalau yang belum mitra, bagaimana pula kita akan membeli sesuai harga penetapan tim? Lagi-lagi saya bilang, CPO dari kebun inti saja belum jelas kapan laku, gimana pula mau beli TBS petani non mitra," terang Hendry.

Jadi kata Hendry, ada baiknya siapapun itu, jangan gegabah melontarkan opini yang bisa saja justru akan makin memperkeruh suasana. Apalagi sampai bilang kebijakan yang diambil PKS merugikan pekebun sawit swadaya. Tidak ada sama sekali.

"Dilematis memang. Kalau tidak kita beli, diprotes. Sementara kalau dibeli dengan harga murah, muncul pula komentar negatif. Kalau kepastian penjualan dan harga jelas, siapa sih yang tak mau membeli dengan harga yang bagus. Toh waktu semuanya dalam kondisi normal, PKS membeli dengan harga bagus kok," ujarnya.(fiz)

 

Arif Oktafian

Share
Published by
Arif Oktafian

Recent Posts

Remisi Lebaran Dibagikan, 760 Warga Binaan Lapas Tembilahan Tersenyum Bahagia

Sebanyak 760 warga binaan Lapas Tembilahan menerima remisi Idulfitri 1447 H, dua di antaranya langsung…

2 jam ago

Diguyur Hujan, Warga Tetap Antusias Salat Id Bersama Wako Pekanbaru

Hujan deras tak surutkan antusias warga Pekanbaru Salat Idulfitri bersama wali kota. Lokasi dipindah ke…

2 jam ago

Hilal Syawal Belum Terlihat Rabu Malam, Pemerintah Arab Saudi Tetapkan Idulfitri Jumat 20 Maret

Hilal belum terlihat, Arab Saudi tetapkan Syawal Jumat 20 April 2026

2 hari ago

Viral! Penjambret di Pekanbaru Rampas Uang Santunan Anak Yatim

Aksi penjambretan uang santunan anak yatim di Pekanbaru viral. Pelaku berpura-pura bertanya sebelum merampas amplop…

3 hari ago

Jelang Lebaran, Jalan Teluk Leok Mulai Diperbaiki, Warga Bisa Segera Melintas

Pemko Pekanbaru mempercepat perbaikan jalan rusak jelang Idulfitri. Jalan Teluk Leok ditargetkan bisa dilalui aman…

3 hari ago

Jelang Idulfitri, 2.401 Guru di Pekanbaru Dapat Insentif Ramadan

Pemko Pekanbaru salurkan insentif Ramadan kepada 2.401 guru. Guru honor komite dapat tambahan hingga Rp600…

3 hari ago