asita-rapid-antigen-bikin-bisnis-ibarat-sudah-jatuh-tertimpa-tangga
JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Para pelaku usaha bidang perjalanan wisata meminta pemerintah lebih serius mendukung pemulihan bisnis mereka. Salah satunya adalah dengan menerbitkan kebijakan yang pro-pariwisata. Itu disebabkan kebijakan akhir tahun lalu dianggap menghambat bisnis pariwisata.
Kabid Komunikasi Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) 1971 Nanik Sutaningtyas menyebut bisnis perjalanan wisata mati suri selama pandemi Covid-19. Pemasukan hanya ada pada Februari lalu. Setelah itu, nyaris tidak ada pendapatan.
“Pada pengujung tahun 2020, kami berharap ada pemasukan kembali. Ada harapan bisnis bangkit. Tapi, kemudian ada peraturan rapid antigen. Jadi seperti sudah jatuh tertimpa tangga,” ucapnya.
Namun, Nanik menyadari bahwa dampak pandemi memang serius. Terutama bagi kesehatan masyarakat.
“Kami menyadari kebijakan keharusan rapid antigen merupakan strategi pemerintah untuk mengantisipasi persebaran virus. Tapi, harus dipahami juga dampaknya terhadap pelaku usaha bidang pariwisata,” paparnya. Tahun ini dia berharap ada solusi untuk membuat bisnis pariwisata kembali menggeliat.
Regulasi Harus Dukung Recovery Wisata
Para pelaku usaha bidang perjalanan wisata meminta pemerintah lebih serius mendukung pemulihan bisnis mereka. Salah satunya adalah dengan menerbitkan kebijakan yang pro-pariwisata. Itu disebabkan kebijakan akhir tahun lalu dianggap menghambat bisnis pariwisata.
Kabid Komunikasi Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) 1971 Nanik Sutaningtyas menyebut bisnis perjalanan wisata mati suri selama pandemi Covid-19. Pemasukan hanya ada pada Februari lalu. Setelah itu, nyaris tidak ada pendapatan.
’’Pada pengujung tahun 2020, kami berharap ada pemasukan kembali. Ada harapan bisnis bangkit. Tapi, kemudian ada peraturan rapid antigen. Jadi seperti sudah jatuh tertimpa tangga,” ucapnya.
Namun, Nanik menyadari bahwa dampak pandemi memang serius. Terutama bagi kesehatan masyarakat. ”Kami menyadari kebijakan keharusan rapid antigen merupakan strategi pemerintah untuk mengantisipasi persebaran virus. Tapi, harus dipahami juga dampaknya terhadap pelaku usaha bidang pariwisata,’’ paparnya.
Tahun ini dia berharap ada solusi untuk membuat bisnis pariwisata kembali menggeliat. ”Bagaimana caranya bisnis tetap jalan, tapi aman dari penularan,’’ ujarnya. Menurut dia, vaksin juga sebaiknya segera didistribusikan ke sektor pariwisata. Dengan demikian, bisnis pariwisata dan seluruh sektor yang merupakan multiplier effect-nya juga kembali bangkit.
Data BPS menunjukkan bahwa jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang masuk melalui Juanda pada Oktober naik 160 persen ketimbang bulan sebelumnya. Tapi, jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2019, jumlah kunjungan wisman Oktober 2020 turun 99,75 persen.(res/c6/hep/jpg)
Agung Toyota membuka program trade in New Hilux di Riau. Konsumen dapat menukar mobil lama…
Pawai Gebyar Scooter Lancang Kuning ke-16 di Bengkalis berlangsung meriah dengan peserta dari berbagai provinsi…
SSB PTPN IV Regional III juara Liga TOPSkor Pekanbaru 2026 dan berhak mewakili Riau pada…
Galeri24 Pegadaian menghadirkan Promo Kicau dengan diskon 1,5 persen untuk pembelian emas batangan selected item…
ICW menyoroti pengadaan 80 ribu pikap Kopdes Merah Putih yang diduga memiliki potensi rente hingga…
Sekitar 48 ribu warga Kota Padang masih menganggur. Pemko memperkuat pelatihan berbasis kebutuhan industri untuk…