JAKARTA (RIAUPOS.CO) — PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) resmi beroperasi, Senin (1/2). Presiden Joko Widodo (Jokowi) meresmikan gabungan tiga bank syariah pelat merah itu di Istana Negara. Dia optimistis, perekonomian syariah Indonesia mampu tumbuh dan berkontribusi besar bagi masyarakat.
"Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, sudah sewajarnya Indonesia menjadi yang terdepan dalam ekonomi syariah," kata Jokowi dalam sambutannya.
Data The State of Global Islamic Economy Indicator Report 2020 menyebutkan bahwa ekonomi syariah Indonesia menempati urutan ke-4 dunia. Kinerja perbankan syariah Indonesia juga mencatatkan pertumbuhan yang stabil sepanjang tahun lalu. Malah lebih tinggi jika dibandingkan dengan perbankan konvensional.
Berdasar laporan yang dia terima, Jokowi menyatakan bahwa pertumbuhan aset perbankan syariah mencapai 10,97 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Sementara, perbankan konvensional naik 7,7 persen. Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) perbankan syariah juga unggul tipis atas perbankan konvensional. Yakni, 11,56 persen berbanding 11,49 persen YoY.
Dari sisi pembiayaan, perbankan syariah tumbuh 9,42 persen secara tahunan. "Itu jauh lebih tinggi dari bank konvensional yang hanya tumbuh 0,55 persen. Indikator-indikator seperti ini saya kira patut kita catat," beber mantan gubernur DKI Jakarta itu.
Jokowi menaruh harapan besar terhadap BSI. Salah satunya menjadi barometer perbankan syariah di tingkat nasional, regional, bahkan global. BSI harus jeli dan gesit menangkap peluang. Juga, mampu menciptakan tren-tren baru dalam perbankan syariah. "Bukan hanya mengikuti tren yang sudah ada," tegasnya.
Pemimpin 59 tahun itu berpesan agar BSI menjadi bank syariah yang universal. Terbuka, inklusif, dan menyambut baik siapa pun yang ingin menjadi nasabah. Artinya, bukan hanya untuk umat muslim. Masyarakat nonmuslim pun boleh menjadi nasabah. Baik untuk bertransaksi maupun berinvestasi secara syariah di BSI.
Dengan semakin canggihnya teknologi, Jokowi menekankan bahwa digitalisasi bank adalah wajib. Tujuannya, bisa lebih menjangkau masyarakat yang belum terlayani oleh bank. BSI juga harus bisa menarik minat generasi milenial Indonesia. Mengingat, jumlah kelompok itu mencapai 25,87 persen dari total 270 juta penduduk Indonesia.
Dalam kesempatan itu, Direktur Utama BSI Hery Gunardi berkomitmen menjadikan bank yang inklusif, modern, universal, dan terus mengikuti perkembangan zaman. Pihaknya akan fokus menumbuhkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam ekosistem yang terintegrasi. Juga, melayani segmen ritel dan consumer serta mengembangkan segmen wholesale dengan produk yang inovatif. Misalnya, global sukuk.(han/hep/agf/jpg)
"Bank Syariah Indonesia akan dijalankan sesuai dengan prinsip maqashid syariah. Selain menjalankan fungsi intermediasi dan menyalurkan pajak, Bank Syariah Indonesia juga dapat dioptimalkan untuk menjadi sarana pemerataan ekonomi masyarakat melalui zakat, infak, shadaqah, wakaf (ZISWAF)," papar Hery.
Menteri BUMN Erick Thohir menegaskan bahwa sudah seharusnya Indonesia memiliki bank syariah yang besar dan kuat. Dengan demikian, Indonesia mampu menjadi pusat ekonomi serta keuangan syariah dunia. "BSI energi baru bagi ekonomi Indonesia yang senantiasa menerapkan prinsip financial justice dan stability in investment," ujarnya.
Erick mengatakan bahwa BSI tidak sekadar mengejar kebanggaan. Merger tiga bank syariah Himbara negara bertujuan memperkuat ekonomi syariah Indonesia. "Saya ucapkan selamat datang, selamat bekerja untuk Bank Syariah Indonesia. Pemerintah dan masyarakat Indonesia menitipkan amanah pada Bank Syariah Indonesia untuk membawa nama Indonesia ke kancah industri syariah dan halal global," paparnya.
Sementara Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan bahwa Bank Syariah Indonesia (BSI) memiliki posisi yang unik dalam industri keuangan. Sebab, BSI menonjolkan aspek keadilan dan profit loss sharing antara sahibul mal dan mudarib atau investor dan investee sesuai dengan syariat Islam.
"Saat ada kondisi yang berisiko dan ekonomi memburuk, bisnis bank syariah tidak akan mendapatkan negative strap seperti yang dialami bank konvensional," ujar perempuan yang akrab disapa Ani itu, Senin (1/2).
Dia juga berharap BSI mampu menggerakkan sektor riil. Terutama kelompok usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Perbankan syariah, menurut Ani, memiliki hubungan langsung yang kuat dengan kegiatan sektor riil.
"Underlying transaction dari bank syariah adalah kegiatan ekonomi riil dalam masyarakat," terangnya.
BSI harus betul-betul menerapkan program-program yang manfaatnya bisa langsung dinikmati masyarakat. Selain itu, berdampak signifikan terhadap ekonomi nasional. BSI juga diharapkan mampu memaksimalkan keunggulan tiga bank syariah yang melebur itu. BSI harus mengedepankan prudensial, akuntabilitas, transparansi, integritas, serta profesionalisme.
"Ini merupakan fondasi untuk membangun kredibilitas dan kepercayaan. Jangan cederai kepercayaan masyarakat," kata Ani.
Di sisi lain, BSI harus menjadi institusi yang kompetitif, kreatif, dan inovatif dalam mengembangkan bisnis. Baik melalui biaya operasional yang efisien maupun margin untuk perbaikan perbankan itu sendiri.
Hal senada disampaikan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso. Menurut dia, BSI merupakan sarana yang tepat untuk memanfaatkan potensi keuangan syariah di Indonesia. Apalagi, fokus utamanya adalah menyalurkan pembiayaan UMKM yang menyumbang 61,1 persen produk domestik bruto (PDB) nasional.
Sementara itu, Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan Perkasa Roeslani mengapresiasi kehadiran BSI. Menurut dia, BSI bisa menjadi kekuatan besar dan membawa dampak positif bagi perkembangan industri keuangan syariah.
"Size perbankan sangat penting. Apalagi, kita negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Masak kita tidak mempunyai bank untuk bisa melayani kebutuhan dunia usaha dan penduduk yang sangat luar biasa?" ujarnya.
Untuk itu, Rosan menilai keputusan pemerintah menggabungkan tiga bank syariah BUMN menjadi BSI sudah tepat. Dia optimistis BSI bisa memberikan dampak positif terhadap keuangan syariah Indonesia yang masih membutuhkan pelebaran, pendalaman, dan penguatan.
"Kita harus dorong. Ke depan, keberadaan Bank Syariah Indonesia bukan hanya untuk masyarakat Indonesia, tetapi sampai ke masyarakat di belahan dunia lainnya," jelas Rosan.(han/agf/c19/hep/jpg)



