Opini
Dr Machasin MM Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unri

Pilih Jadi Bos atau Pekerja?

9 Desember 2019 - 10.39 WIB

Pilih Jadi Bos atau Pekerja?
Dunia usaha berkembang sangat pesat seiring dengan perkembangan peradaban manusia, sehingga para pelaku usaha dituntut untuk adaptif terhadap dinamika tuntutan perilaku konsumen yang berubah secara cepat dan radikal. Namun kenyataannya masih banyak para pelaku usaha yang sulit berkembang bahkan tidak sedikit yang mengalami kegagalan karena kurang mampu mengadaptasi dengan tuntutan konsumen yang terus berubah seiring dengan pergerakan dan perubahan perilaku kaum milenial yang memiliki karakter ingin cepat, detail, murah  dan berkualitas serta cepat ingin berganti model sesuai dengan selera yang berkembang.  

Pernyataan Kritis 

Siapa yang mempunyai mental entrepreneur? Yaitu mereka yang memiliki semangat berprestasi, jeli dalam menangkap dan menciptakan peluang dan menghasilkan sesuatu yang lebih baik, juga melihat dirinya sebagai profesional sukses. “Bila bisnis Anda diawali dengan biasa-biasa saja, maka akan berakhir dengan biasa-biasa saja, bahkan bisa mati suri” karena itu bisnis harus dibangun dengan motivasi tinggi dan visi yang luar biasa, sehingga mampu menghasilkan capaian yang luar biasa. Bila diibaratkan satu batang pohon, bahwa biji itu adalah entrepreneur, sehingga daun, bunga, batang dan buah itu adalah inspirasi yang merupakan cikal bakal untuk memulai menjadi entrepreneur. Untuk tumbuh dan berkembang tergantung tanah di mana Anda menanam biji tersebut. Filosofi tersebut sangat menginspirasi bagi kita bahwa menjadi entrepreneur itu harus adaptif terhadap tuntutan lingkungan yang terus mengalami perubahan. Banyak orang berkata mulai menjadi entrepreneur itu sangat sulit, apa lagi meraih kesuksesan, sehingga bagi seseorang yang tidak kreatif dan kurang memiliki energi positif berwirausaha, kebanyakan dari mereka lebih memilih sebagai pekerja walau banyak kendala selama yang bersangkutan bekerja. Hanya mengeluh dan mengelih berkepanjangan, karena di dalam tubuh mereka tidak terpancar ruh dan jiwa sebagai wirausaha. 

Terdapat beberapa tingkatan entrepreneur, dimulai dari level zero unumployee. Di dalam buku karangan Robert T Kyosaki, level ini memiliki resiko yang paling minimal (zero atau risk free) serta manfaat yang juga zero. Strategi yang sering dilakukan orang-orang level ini adalah hanya sekedar mencari kerja dan terus berusaha melamar kerja saja, tidak ada strategi untuk berubah, skill entrepreneurship yang sangat diperlukan di level ini adalah selling skill yaitu kemampuan untuk menjual diri (sell yourself). Tingkat pertama, level employee, bila kita memperhatikan entrepreneur level ini, yaitu employee, ia akan mempunyai visi yang jauh ke depan, guna untuk meningkatkan level entrepreneur-nya ke level yang lebih tinggi lagi. Berbeda dengan buruh atau pekerja, yang harus mempertanggungjawabkan manfaat, risiko dalam pekerjaan mereka kepada seorang pimpinan (kepala), Level employee ini juga harus bertanggung jawab kepada seseorang, yaitu diri mereka sendiri. 

Tingkat kedua, level self business (self employee).  Pada level ini ciri-ciri entrepreneur sejati sudah mulai muncul, yaitu bahwa dia mempunyai visi yang tidak ingin diatur, tidak mudah puas diri dan seorang high achiever berbeda dengan level employee, pada level ini self business ingin menjadi bos bagi dirinya sendiri dan berani menanggung risiko atas dirinya sendiri. Inilah yang disebut (spin out from organization system).

Tingkat ketiga, level businessman (business owner). Businessman pada level ini sedikit mempunyai  jiwa challanging yang kuat, sehingga dia ingin benar-benar menjadi bos dari sebuah tim atau sistem. Ia lebih komplet dan mendekat “perfect organization leader” dari suatu unit usah.

Tingkat keempat, level 4 investor (truly speculative businessman). Pada level ini, ada faktor kalkulasi yang spekulatif untuk menentukan bisnisnya, tetapi penuh dengan perhitungan (professional) atau menjurus ke gambling (gambler), namun tidak ada organisasi yang dipertahankan atau dikelolanya secara langsung dalam waktu yang lama. Istilah lainnya adalah "membisniskan sebuah bisnis".

Secara konseptual bisnis dimulai dari tingkatan awal untuk menuju kesuksesan pada level 4, pertanyaannya banyak di antara pelaku bisnis yang daur hidupnya hanya sampai pada tahap awal memulai usaha, setelah itu hilang ditelan bumi alias gagal. Tidak jarang kita lihat di seputaran lingkungan kita, ada satu tempat yang pemilik usahanya dan produk yang dijualnya berganti-ganti pemiliknya. Hal itu menunjukkan bahwa bisnis yang dikelola mengalami masalah, tidak bisa mempertahankan bisnis secara langgeng karena bisnis yang dikelola tidak memiliki daya saing. 

Keunggulan bersaing merupakan faktor yang membedakan organisasi dengan yang lainnya. Pembeda ini bisa berasal dari kompetensi inti yang dimiliki organisasi di mana organisasi memiliki sumber daya serta kemampuan yang tidak dimiliki oleh oraganisasi lainnya, seperti inovasi produk yang unik, layanan pelanggan yang sangat memuaskan, keadaan sistem informasi, tenaga kerja, tekhnik pemanufakturan dan lain sebagainya. Dengan keunggulan bersaing ini, memungkinkan bagi perusahaan untuk meningkatkan kinerjanya secara berkelanjutan (jangka panjang). Oleh sebab itu, para manajer dari masing-masing unit bisnis harus secara terus menerus mengarahkan keputusan dan tindakannya kepada upaya pencapaian keunggulan bersaing. Semoga sukses.***



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook