ANGKA KRIMINALITAS DI RIAU MENURUN SEPANJANG 2019

2020, Pemberantasan Narkoba Jadi Target Khusus Polda

Feature | Rabu, 01 Januari 2020 - 13:36 WIB

2020, Pemberantasan Narkoba Jadi Target Khusus Polda
EKSPOSE: Kapolda Riau Irjen Pol Agung Setya Imam Effendi (tengah) memimpin ekspose akhir tahun terkait kriminalitas di Riau sepanjang 2019 di Media Center Polda Riau, Senin (30/12/2019).(DEFIZAL/RIAU POS)

Sebanyak 7.820 kasus tindak kejahatan telah terjadi di Riau sepanjang 2019. Polda Riau berharap di 2020 angka ini terus mengalami penurunan. Dan di tahun ini juga, Polda Riau akan melakukan pemberantasan khusus narkotika dan obat terlarang (narkoba). Bandar dan pengedar jadi target.

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) -- YA, tahun 2019 angka kriminalitas ini mengalami penurunan 1.121 kasus bila dibandingkan 2018. Pada tahun itu terdapat 8.941 perkara.  Hal itu terungkap pada pers rilis akhir tahun Polda Riau di Media Center Polda Riau, Jalan Bima, Senin (30/12) lalu. Pelaksanaan kegiatan ini dipimpin langsung Kapolda Riau Irjen Pol Agung Setya Imam Effendi dan dihadiri Kabid Humas Polda Riau Kombes Pol Sunarto, dan Dir Reskrimum Kombes Pol Hadi Poerwanto. Lalu, Dir Resnarkoba, Kombes Pol Suhirman, Dir Reskrimsus AKBP Andri Sudarmadi, Dir Lantas Polda Riau Kombes Pol Pringadi Supardjan, Dir Intelkam Kombes Pol Robert Kenedy, Dansat Brimobda Kombes Pol Abdul Hasyim, Dir Sabhara Kombes Pol Zulkifli serta pejabat lainnya.

Dalam pemaparannya, Kapolda mengatakan, Polda Riau beserta jajaran polres telah menangani 7.820 kasus kriminalitas selama 2019. Dari jumlah itu, ujar Agung, pihaknya telah menyelesaikan sebanyak 5.739 perkara, sedangkan 2.081 kasus masih dalam proses penyelesaian. Dipaparkannya, tindak kejahatan paling banyak adalah pencurian dengan pemberatan (curat) 899 kasus, dan 680 kasus penanganannya telah selesai. Lalu, tindak pidana penggelapan terjadi 674 kasus dan 401 kasus sudah selesai, tindak pidana penganiayaan 674 kasus dan 468 kasus selesai, pencurian biasa 612 kasus dan 477 kasus terselesaikan. Kemudian, tindak pidana pencurian kendaraan bermotor (curanmor) terjadi 483 kasus dan 228 kasus terselesaikan, pencurian dengan kekerasan (curas) 249 kasus dan tersesaikan 172 kasus, sedangkan kasus pembunuhan terjadi 26 kasus dan semuanya berhasil diungkap.

"Secara keseluruhan terjadi penurunan (tindak kejahatan). Seperti kasus curanmor yang menurun. Namun, kita ketahui bahwa ada masyarakat belum sempat melaporkan atas kejahatan yang menimpanya," ungkap Agung.

Seperti halnya, sambung Agung, pihaknya melakukan penangkapan terhadap pelaku jambret serta pelaku curanmor yang telah beraksi di beberapa tempat. Namun, pihaknya kesulitan menemukan siapa saja korbannya karena ketika peristiwa itu belum dilaporkan ke kepolisian.

"Kami harapkan masyarakat melaporkannya. Ini agar kami bisa menelusuri, dan apabila di kemudian hari kami menemukan pelakunya dan mempermudah kami mengembalikan barang bukti," jelas mantan Deputi Cyber Bidang Intelijen Negara itu.

Terhadap perkara tindak pidana korupsi, disampaikan Agung, Polda Riau berserta jajaran polres menangani sebanyak 16 kasus dengan tersangka 20 orang. Ditambahkan alumni Akpol 1988 itu, pihaknya berhasil menyelamatkan keuangan negara sekitar Rp7,58 miliar dari kerugian negara Rp38,6 miliar. Diakuinya, jumlah penanganan kasus korupsi mengalami penurunan bila dibandingkan tahun sebelumnya dengan 26 perkara. Penurunan ini, Kapolda beralasan, lantaran para personel dilibatkan dalam Operasi Mantap Brata pada 2019. Yang mana, operasi ini menyerap personel yang mayoritas melakukan pengamanan tempat pemungutan suara (TPS) pilpres dan pileg.

"Kondisi ini mempengaruhi penanganan kasus korupsi. Tentu ini, akan kami optimalkan tahun depan," jelasnya.

Kemudian pada 2020, dibeberkannya, ada pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak di sembilan kabupaten di Riau. Hal ini, tentunya turut menyerap personel untuk melakukan pengamanan pesta demokrasi tersebut.

"Maka penanganan tipikor tahun depan, kami optimalkan penangannya di Polda. Ini strategi kami. Kami akan menuntaskan perkara korupsi sampai ke akar-akarnya," papar mantan Dir Tipideksus Bareskrim Polri itu.

Untuk kejahatan transional yang merupakan kejahatan lintas negara, tambah Kapolda, pihaknya berhasil mengungkap sejumlah kasus. Mulai dari penyeludupan barang ilegal dan satwa liar dilindungi. Baik masuk ke dalam maupun ke luar dari Riau. Pada kasus ini, sebut Agung, pihaknya menangani 28 perkara dengan 38 tersangka. Sementara satu kasus perdagangan orang, yang mana ada tiga perempuan yang akan dikirim ke Malaysia secara ilegal.

Agung melanjutkan, terhadap tindak pidana penyalahgunaan narkoba, Polda Riau dan jajaran menangani 1.817 kasus dengan jumlah tersangka 2.496 orang. Sementara barang bukti yang disita dan telah dimusnahkan berupa sabu-sabu seberat 355,9 kilogram (kg), daun ganja kering 181,6 kg, pil ekstasi 186.182 butir dan happy five (H-5) 28.145 butir. Tingginya kasus narkoba ini, karena Riau memiliki garis pantai yang cukup panjang. Sehingga menjadi pintu masuk dan jalur penyeludupan narkoba dari negara tetangga. Bahkan, kata Kapolda Riau, hampir setengah penghuni lembaga permasyarakatan (LP) merupakan narapidana atas kasus narkoba.

"Ini menjadi perhatian kita bersama. Para napi kami harapkan bersekolah di sana (LP, red), dari pengguna jadi pengedar dan dari pengedar jadi bandar. Pada 2020 kami akan melakukan pemberantasan khusus. Target kami bandar dan pengedar," imbuh jendral bintang dua.




Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

TERBARU




PT. Riau Multimedia Corporindo
Graha Pena Riau, 3th floor
Jl. HR Soebrantas KM 10.5 Tampan
Pekanbaru - Riau
E-mail:riaupos.maya@gmail.com