Yusmar Yusuf

Kala Puasa Kala Pandemi

Minggu, 10 Mei 2020 - 08:59 WIB


(RP) - Ramadan tahun ini adalah ramadan terberat bagi kita. Kita harus menjalaninya dengan teguh dan perkasa. Dia bukan saja berpembawaan ibadah muka bumi, melainkan sebuah interaksi langit yang  disediakan untuk manusia. Langit yang serba transenden (jauh dan sayup) sekaligus langit yang paling rendah (puncak ruh “dalam diri”). Kita yang menjalankan ibadah fardu shaum atau puasa itu, sejatinya tengah menyelam pada kedalaman palung laut paling dalam, demi menemukan mahnikam bernama tiram yang mengandung butiran hujan yang bermutasi menjadi mutiara.

Di tengah pandemi atau wabah ta’un virus corona ini, kita dengan takzim dan penuh sabar menegakkan ibadah fardu dengan cara mengosongkan perut secara lahiriah, sekaligus mengendalikan nafsu secara batin. Inilah ibadah spiritual yang dirindukan oleh semua agama. Apatah lagi Islam, meletakkan bulan ini (Ramadan) sebagai pemimpinnya para bulan, sehingga dia adalah “ketua” dari sejumlah bulan dalam sistem kalender Qamariyah (Lunar System) dalam sistem penanggalan (tarikh) sanad Hijriah (Hageria). Betapa syahdu dan gembiranya kita menyambut kedatangan saum tahun ini di tengah gempita pademi virus yang telah merenggut nyawa manusia dari berbagai belahan bumi. Syukur maha dalam harus kita sampaikan, bahwa kita yang menjadi saksi pandemi ini bisa menjalani hari-hari puasa dengan tenang, tidak menjadi hambatan bagi kesehatan dan daya tahan tubuh. Malah, kita harus menanam keyakinan, bahwa dengan berpuasalah segala bentuk penyakit dan wabah penyakit bisa dihentikan. Sebab, semua penyakit itu berasal dari Allah lewat makhluk-makhluknya jua. Tiada cara yang paling indah untuk menyambiut puasa di tengah kepungan pandemi ini; selain menjalani dengan sabar, memperbanyak ibadah, doa, dan dzikir yang berulang-ulang sebagai instrumen interaksi dan komunikasi manusia ke langit sana.

Kita tak lebih dari sekumpulan makhluk yang lemah. Dengan memanfaat “kelemahan terpuncak” (posisi perut yang kosong, kendali emosi dan nafsu), itulah senjata yang paling ampuh untuk melawan segala bentuk halangan dan musuh durjana yang mengancam manusia lewat kekuatan, kekuasaan dan kesemena-menaan. Menolak dengan keras akan menghasilkan benturan yang keras pula (pantulan atau pun gema). Namun, jika menolak dengan lunak, obyek yang ditolak itu akan mengalami keterlontaran maha dahsyat. Dia mengalami keterpelantingan tak terduga, karena kita menolaknya dalam keadaan beribadah kepada Tuhan Tertinggi dari semua yang mengaku tinggi di alam semesta raya ini.  Perang besar dalam sejarah, kejadian-kejadian besar dalam sejarah interaksi Tuhan dengan manusia, terutama Nabi dan Rasul selalu mengambil panggung bulan Ramadan. Al Quran diturunkan, Taurat, Injil diturunkan sempena bulan Ramadan. Kisah-kisah suci yang berkesan heroisme dalam menegakkan monoteisme juga berlangsung dalam bulan yang penuh berkah ini.

Maka, tiada keraguan mereka yang beriman kuat kepada Tuhan, akan dengan tenang dan ringan menjalankan ibadah shaum (puasa) dalam upaya mengintensi komunikasi dan interaksi bumi dan langit yang selama ini mengalami jeda panjang. Ihwal jeda ini mungkin disebabkan oleh kesibukan duniawi, mungkin pula disebab oleh tindakan ujub dalam setiap ibadah yang kita lakukan, sehingga tindakan ibadah hanya memenuhi kehendak agama secara formal. Mungkin pula disebabkan oleh nafsu berkuasa dan saling hujat yang tak kenal jeda di antara anak bangsa, dengan menyeret-nyeret dan mencatut nama Tuhan. Kita telah memaksa Tuhan agar berpihak kepada kita di dalam kisaran politik duniawi, namun melupakan ukhuwah islamiyah, para orang-orang suci turun gunung dengan alasan menyucikan dunia politik, namun nyatanya malah memecah belah umat, dalam gegar dan getaran media sosial yang tengah berevolusi di tengah-tengah dunia. Dan, kita sibuk meng-kuman diri kita sendiri, sehingga dia membelah diri dalam sejumlah mutasi virus, baksil dan bakteri. Kita pula yang mengancam kehidupan dalam sebuah sistem ko-habitasi (kehidupan bersama) itu.

Ibadah puasa sepanjang catatan sejarah adalah ibadah yang menolak segala bala dan penyakit. Dalam catatan ilmu kedokteran, puasa dianjurkan sebelum dilakukan tindakan medis (operasi besar), demikian pula puasa amat mujarab untuk menhidupkan sel-sel tak fungsional, dan mematikan sel-sel dalam tubuh yang dianggap sebagai pengganggu sistem metabolisme tubuh. Daya tahan tubuh pada seorang yang berpuasa, amat tinggi, karena selama pengosongan perut dalam jangka waktu yang lama, telah terjadi proses detoxid (penghancuran racun dalam tubuh) dari sisa-sisa makanan. Mengenyalkan kembali fungsi usus dan lambung, fungsi hati dan melancar sistem peredaran darah. Namun, semua itu hendaklah diniatkan dengan baik dan indah di depan Tuhan. Bahwa kita berpuasa sebagai ibadah, sebagai wahana interaksi dan komunikasi dengan langit, adalah sebuah jalan bagi kekuatan dan ketahanan ragawi demi memuliakan sisi ruh(ani) sekaligus.


Tiada alasan untuk meragukan, bahwa dengan berpuasa ketahan fisik kita menjadi kian lemah. Terkecuali mereka yang memang sedang uzur (sakit), ibadah puasa ini diringankan dengan cara membayar fidiyah atau menggantikannya pada bulan-bulan setelah ramadan. Namun, bagi mereka yang mampu secara fisik dan kuat pula dorongan ruhaninya untuk menyelenggarakan puasa, insyaAllah dia menjadi setawar sedingin atas bencana wabah yang tengah kita hadapi ini. Mungkin karamah dan fadilat puasa (ibadah shaum) ini pula yang mampu meruntuhkan dan menumbangkan tembok kesombongan Covid-19 itu. Sekuat dan seangkuh apapun ancaman yang masih berasal dari makhluk Tuhan dia akan tersungkur oleh kekuatan ibadah yang sebenar ikhlas ditujukan kepada Tuhan, sekali lagi hanya kepada Tuhan (Allah Azza wa Jalla). Maka, tiada keraguan sedikit pun bagi mereka yang mampu untuk menjalani ibadah ini di dalam bulan yang berpembawaan “membakar” ini, sehingga efek bakar dan efek lepuhnya berdampak pada hilang dan undurnya wabah Covid-19 ini. Secara selintas kita memang tengah diuji, juga secara selintas seakan kita tengah menjalani ibadah fisik (mengosongkan perut), padahal sejatinya kita tengah berhubungan secara vertikal dengan Yang Maha Tinggi melalui instrumen makhluk yang paling lemah (lapar dan dahaga). Keadaan lapar dan dahaga inilah alat yang paling mangkus menghentikan segala kesombongan!***




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook