Riaupos.co

MOTIF BELUM DIKETAHUI
Para Pemuka Agama Diserang, Fadli Zon: Tindakan Tidak Beradab!
2018-02-13 17:10:03 WIB
 
Para Pemuka Agama Diserang, Fadli Zon: Tindakan Tidak Beradab!
 
JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Tokoh pemuka agama belakangan ini sering menjadi korban penyerangan. Setelah tokoh dan pemuka agama Islam, penyerangan itu kini menimpa Gereja Santa Lidwina, Sleman, Yogyakarta.

Menanggapi itu, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Fadli Zon menegaskan bahwa dirinya mengecam aksi penyerangan yang diketahui telah melukai jemaah dan pimpinan misa gereja tersebut.

Dikatakannya, dirinya mendesak Polri untuk mengusut tuntas aksi-aksi brutal tersebut.  Terlebih, saat ini motif yang dilakukan oleh pelaku masih belum jelas.

“Aksi penyerangan terhadap jemaah dan pimpinan Misa di Gereja Lidwina Sleman, Yogyakarta, jelas melukai kami. Saya mengecam tindakan tak beradab tersebut. Tindakan itu sama sekali tak mencerminkan ajaran agama manapun,” ujarnya kepada JawaPos.com, Selasa (13/2/2018).

Jika menelisik rentetan kejadian yang masih terus berulang di seluruh Indonesia, imbuhnya, dia menduga ada oknum yang tengah berusaha mengadu domba pada kasus ini.

Karena itu, dia mengajak masyarakat untuk lebih jeli dalam menilai suatu kejadian. Sebaliknya, jangan sampai kasus ini justru memecah belah persatuan Indonesia.

“Jangan sampai kita gampang menuduh seolah aksi terhadap kelompok A pastilah disebabkan kelompok B, atau sebaliknya,” tegasnya.

Dalam pandangan Fadli, saat ini serangan demi serangan yang tengah dilakukan oleh oknum tidak bertanggung jawab terlihat memiliki pola target yang sama, yakni sasarannya adalah tokoh atau kelompok keagamaan.

Yang menarik, kata dia lagi, sejumlah penyerang yang berhasil diidentifikasi juga memiliki identitas tunggal, yaitu diduga sebagai orang gila.

"Kejadian-kejadian tadi jadi ada polanya. Sehingga, jangan heran jika ada sebagian dari kita yang menduga bahwa saat ini sedang ada semacam upaya adu domba antarumat beragama di sini, apapun kepentingannya.” jelasnya.Karena itu, dia mengajak aparat kepolisian harus bekerja cepat dan transparan sehingga tidak muncul spekulasi dan prasangka yang bisa memicu konflik di tengah masyarakat.

“Terlebih di tahun-tahun politik seperti sekarang. Upaya-upaya yang mengarah kepada adu domba, membentur-benturkan masyarakat, akan semakin banyak. Itu sebabnya pemerintah, dalam hal ini aparat keamanan, harus bisa mengantisipasi agar peristiwa serupa tak terulang lagi.” tutupnya.

Dalam dua pekan terakhir, setidaknya ada empat kali penyerangan terhadap tokoh agama. Pertama, penganiayaan terhadap pimpinan Pondok Pesantren Al Hidayah Cicalengka, Kabupaten Bandung, KH Umar Basri (Mama Santiong) yang diserang usai salat subuh pada 27 Januari 2018 lalu.

Kemudian, penganiayaan menimpa Komando Brigade PP Persis Ustad Prawoto pada 1 Februari lalu di Bandung. Ustas Prawoto bahkan meninggal dunia. Sementara, Biksu Mulyanto Nurhalim asal Desa Babat, Tangerang, Banten menghadapi persekusi warga pada Sabtu (10/2/2018) lalu.

Nurhalim dipaksa menandatangani surat perjanjian supaya tak menggelar kegiatan peribadatan di desanya sendiri. Terakhir, penyerangan di Gereja St Lidwina, Gamping, Sleman, Yogyakarta. Pelaku bernama Suliyono asal Banyuwangi, menyerang para jemaah dan pastor gereja dengan pedang. (aim)

Sumber: JPG
Editor: Boy Riza Utama



 

 
URL berita: http://www.riaupos.co/berita.php?act=full&id=173015&kat=8

 
© 2015 Riaupos.co | Hak Cipta Dilindungi