Riaupos.co

Penurunan Daya Beli atau Penurunan Konsumsi?
2017-10-12 10:56:42 WIB
 
Penurunan Daya Beli atau Penurunan Konsumsi?
 
RIAUPOS.CO - Terus terjadi silang pendapat. Tidak ada kesatuan pendapat dari para pihak berkompeten bahwasanya daya beli masyarakat Indonesia benar-benar menurun atau tidak. Pihak yang merasa berkompeten merasa benar pernyataannya karena didukung data-data yang dimiliki. Lalu, apa sebenarnya yang terjadi? Apakah ini merupakan bagian dari dinamika politisasi terkait kita masuk tahun politik sebentar lagi?  Yang perlu kita tegaskan lagi, bilamana seandainya daya beli masyarakat itu benar-benar turun, apakah itu sudah menandakan kita akan kiamat (hancur ekonominya)? Atau sebaliknya, seandainya daya beli masyarakat bukanlah turun, lalu ini ada motif apa, seolah-olah hal itu menjadi urusan besar?  Memang perlu diluruskan ya.

Coba kita cermati beberapa pihak yang berpandangan berbeda. Mengapa ada banyak pihak dengan beraninya menyatakan daya beli masyarakat Indonesia menurun? Apa saja indikator yang mereka nyatakan?  Yang sering dijadikan indikator adalah mulai maraknya penutupan dari sejumlah gerai dari pusat perbelanjaan di Jakarta. Seperti dilansir dari  pemberitaan berbagai media bahwa PT Matahari Department Store Tbk memastikan menutup dua gerai yang di Pasaraya Blok M dan Pasaraya Manggarai pada akhir September 2017. Penutupan gerai ritel yang lain  juga terjadi pada supermarket milik PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS). Ramayana Lestari menutup beberapa gerai supermarketnya karena merugi. Pada sejumlah toko di Mangga Dua Mal dan mal-mal kelas menengah juga ada yang sudah tutup.
Pertanyaannya, apakah dengan ditutupnya sejumlah pusat perbelanjaan itu sudah bisa dijadikan sebagai indikator melemahnya daya beli masyarakat?  Walaupun penutupan toko-toko atau pusat perbelanjaan itu sekalipun telah mengkaji dengan komprehensif  dan akhirnya ditutup dengan alasan tidak bisa memenuhi target bisnis. Pertanyaan seperti ini tentunya bisa menggiring persepsi maupun interprestasi kita semua,  ke arah sesuai dengan latar belakang  kita masing-masing pula.Yang muncul adalah opini, bukan fakta. Di sisi lain, transaksi online atau sejenis e-commerce yang lagi marak saat ini dijadikan kambing hitam penurunan daya beli tersebut. Betulkah itu?

Sekarang coba kita kaitkan dengan data BPS, maka sebenarnya tentu secara keilmuan dan dunia bisnis praktis bahwa penurunan omzet atau laba beberapa outlet pasar modern dan pusat perbelanjaan tentunya tidak bisa dijadikan acuan terjadinya penurunan daya beli masyarakat. Secara keseluruhan naik, yang tercermin dari peningkatan riil konsumsi masyarakat sekitar 5 persen, sementara secara nominal naik 8 persen. Namun yang terjadi adalah penurunan konsumsi dan itu tidak bisa disamakan dengan penurunan daya beli. Dari Data BPS terlihat bahwa kelompok menengah ke atas untuk berjaga-jaga dengan meningkatkan jumlah  tabungan (switching to saving). Hal itu didukung data bahwa porsi pendapatan yang ditabung pada Q2-17 meningkat menjadi 20.77 persen dari 18.60 persen pada Q2-2016.  Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) naik tajam sejak Oktober 2016 dan mencapai dua digit (11,2 persen) pada Mei 2017. Bila ada yang menuding pola belanja online yang mengerus omzet toko-toko di pusat perbelanjaan, namun secara data terlihat porsinya masih relatif kecil. Tidak sampai dua persen dari bisnis ritel total. Hal ini mempertegas bisnis online belum bisa dikambinghitamkan saat ini.

Data dari BI pun pada publikasi Juni 2017 lalu juga menjelaskan, kelompok menengah ke bawah terjadi consumption cutting. Jadi dari sisi kemampuan untuk spending berkurang. Di pihak lain bagi kelompok menengah ke atas lebih memilih menunda konsumsi. Hal itu terlihat dari kenaikan DPK pada perbankan. Penundaan konsumsi, oleh level menengah ke atas ini alihkan konsumsi ke kegiatan yang sifatnya simpanan. Data DPK itu naik. Terutama kelompok di atas Rp1-2 miliar memperlihatkan kenaikan jumlah. Pada era yang semakin modern saat ini membuat para pengusaha wajib dan harus berinovasi mengikuti perkembangan teknologi. Agar usahanya mampu bertahan di tengah persaingan usaha yang telah mengaplikasikan digital semakin ketat. Konsekuensi logisnya yang mati itu adalah mereka yang tidak bisa menyesuaikan diri. Toko-toko yang gagal saing dibanyak mal itu karena kurang cepat menyesuaikan diri. Terkait perkembangan teknologi digital, maka kita bisa melihat bahwa usaha atau bisnis  yang telah menerapkan digital terbilang semakin menjanjikan serta selalu bisa eksis saat ini. Namun yang paling penting lagi kita harus membedakan antara penurunan daya beli  dengan penurunan konsumsi.***


 

 
URL berita: http://www.riaupos.co/berita.php?act=full&id=164106&kat=5

 
© 2015 Riaupos.co | Hak Cipta Dilindungi