Riaupos.co

Meningitis Bisa Dicegah
2018-06-11 11:35:36 WIB
 
Meningitis Bisa Dicegah
 
PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Penyakit satu ini mungkin terbilang familiar di tengah masyarakat. Terlebih bagi para jamaah calon haji. Setiap para jamaah diwajibkan untuk imunisasi meningitis sebelum berangkat ke Tanah Suci Makkah. Seberapa bahayakah penyakit ini hingga perlu pencegahan dengan imunisasi?

Menurut dokter Nurhayati, penyakit tersebut memang berpotensi merenggut nyawa. Namun sebelum membahas lebih jauh, yuk kita simak dulu penjelasan tentang penyebab meningitis.

Menurut dokter berhijab ini, meningitis adalah peradangan yang terjadi pada meninges. “Yaitu selaput yang melapisi otak dan selaput yang melapisi jaringan syaraf yang ada di dalam tulang belakang,” ujarnya.

Adapun penyebab meningitis ialah dapat disebabkan oleh bakteri, virus, parasit, jamur, dan keadaan non infeksi seperti neoplasma (tumor/kanker). Sedangkan penyebab utama meningitis pada anak adalah Haemophilus influenza tipe B (Hib) dan Streptococcus pneumoniae (Invasive pneumococcal disease/ IPD).

Gejala yang khas pada meningitis adalah demam, sakit kepala dan kaku kuduk. Kaku kuduk bukan hanya terasa sakit. Tetapi penderita tidak dapat menekukkan leher atau merasakan nyeri ketika dagunya di tekuk ke dadanya.

Tanda dan gejala lainya adalah photophobia (takut atau menghindari sorotan cahaya terang, red), phonophobia (takut atau terganggu dengan suara keras), mual, muntah, sering tampak kebingungan, kesusahan untuk bangun dari tidur, bahan tak sadarkan diri.

“Pada anak biasanya gejala sulit dideteksi. Karena anak tidak bisa mengutarakannya. Namun umumnya pada bayi akan tampak lemah dan pendiam (tidak aktif, red), gemetaran, muntah dan enggan menyusui. Pada pemeriksaan fisik, kulit di atas ubun-ubun bayi menjadi tegang dan ubun-ubun bisa menonjol,” sambungnya.

Menurut penelitian Arydina, dan kawan-kawan, kecurigaan meningitis terbanyak pada anak usia 1-5 tahun. Sedangkan meningitis bakteri paling banyak terjadi pada usia kurang dari 1 tahun. Hal ini juga didukung oleh penelitian observasional analitik yang dilakukan oleh Anggraini Alam, pada 2007 sampai dengan 2010 di Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSUP Dr Hasan Sadikin Bandung, bahwa kejadian meningitis bakterialis pada anak usia 6-18 bulan masih cukup tinggi terutama usia 6-12 bulan.

Jika tidak segera ditindak lanjuti, dampak lanjut dari meningitis yang disebabkan oleh virus umumnya tidak berbahaya. Namum meningitis yang disebabkan oleh bakteri, bisa mengakibatkan kondisi serius. Misalnya kerusakan otak, hilangnya pendengaran, kurangnya kemampuan belajar, bahkan bisa menyebabkan kematian.


Sedangkan meningitis yang disebabkan oleh jamur sangat jarang. Jenis ini biasanya diderita orang yang mengalami gangguan daya tahan tubuh seperti pada penderita AIDS.

Hal tersebutlah yang membuat imuninasasi meningitis itu diperlukan. Lalu, usia berapa harusnya imunisasi? Salah satu pencegahan yang dapat dilakukan untuk melindungi anak dari meningitis yakni dengan imunisasi rutin lengkap yang terdiri dari imunisasi dasar lengkap dan imunisali lanjutan. Imunisasi dasar lengkap disesuaikan dengan usia anak.

‘’Nah, meningitis (radang selaput otak, red) dapat dicegah dengan memberikan imunisasi DPT-HB-Hib yang disebabkan oleh infeksi kuman Hib yakni pada usia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan dan pada usia 18 bulan,” terangnya.

Dokter Nurhayati melanjutkan, Pemerintah Saudi Arabia pun mewajibkan vaksinasi meningitis bagi jamaah haji dan umrah. Setiap jamaah dari negara manapun diminta untuk menyerahkan sertifikat yang menerangkan telah disuntik vaksinasi meningitis mengingokokus minimal 10 hari sebelum datang di Arab Saudi.

Tujuannya adalah untuk melindungi jamaah haji dan umrah dari penularan penyakit meningitis selama 3 tahun. Selain itu untuk mencegah penuralan antar jamaah dari seluruh dunia serta mencegah penularan meningitis kepada keluarga di Tanah Air.

Orang yang tidak imunisasi menyebabkan mereka lebih mudah tertular penyakit berbahaya salah satu nya adalah meningitis dibanding dengan anak yang telah diimunisasi karena fungsi imunisasi sendiri adalah agar terbentuk kekebalan terhadap penyakit.

Oleh karena  itu, dokter Nurhayati mengimbau untuk orang tua agar lebih mawas mengenai imunisasi meningitis.

 “Seperti kata pepatah lebih baik mencegah daripada mengobati. Maka, sebaiknya jadwal imunisasi anak harus diikuti. Jika ada kendala mengenai jadwal imunisasi, bisa ditanyakan langsung ke dokter maupun bidan atau perawat di Posyandu terdekat,” terangnya lagi.

Terkait capaian imunisasi, cakupan imunisasi dasar lengkap pada 2017 mencapai 92,04 persen, melebihi target yang telah ditetapkan yakni 92 persen dan imunisasi DPT-HB-Hib Baduta mencapai 63,7 persen, juga melebihi target 45 persen.

Sementara tahun ini terhitung Januari hingga Maret imunisasi dasar lengkap mencapai 13,9 persen, dan imunisasi DPT-HB-Hib Baduta mencapai 10,8 persen. Target cakupan imunisasi dasar lengkap 2018 sebesar 92,5 persen dan imunisasi DPT-HB-Hib Baduta 70 persen menurut data dari Menteri Kesehatan.

Agar terbentuk kekebalan masyarakat yang tinggi, diperlukan cakupan imunisasi dasar dan lanjutan yang tinggi dan merata di seluruh wilayah, bahkan sampai tingkat desa. Bila tingkat kekebalan masyarakat tinggi, maka yang akan terlindungi bukan hanya anak-anak yang mendapatkan imunisasi tetapi juga seluruh masyarakat.

Dalam rangka mencapai cakupan imunisasi yang tinggi maka penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya imunisasi rutin lengkap sehingga mau dan mampu mendatangi tempat pelayanan imunisasi.(azr/int)


 

 
URL berita: http://www.riaupos.co/berita.php?act=full&id=184566&kat=45

 
© 2015 Riaupos.co | Hak Cipta Dilindungi