Riaupos.co

PENGELOLAAN KEUANGAN
Atlet Sepaktakraw Ingin Transparansi Dana Porprov Pekanbaru
2017-12-07 14:51:00 WIB
 
Atlet Sepaktakraw Ingin Transparansi Dana Porprov Pekanbaru
 
PEKANBARU (RIAUPOS.CO) -  Beberapa pemain senior cabang olahraga (cabor) sepaktakraw Kota Pekanbaru yang turun di Porprov Riau 2017 di Kampar bulan lalu, meminta transparansi pengelolaan dana cabor tersebut dalam persiapan Porprov. Mereka merasa ada yang tak terbuka yang kemudian memunculkan kecurigaan.

Beberapa pemain tersebut adalah Marwan Simanjuntak, Bratha Kusuma, Florensia Cristy, dan Indriana Mustika. Kepada Riaupos.co mereka mengaku kecewa karena tak adanya transparansi pengelolaan dana yang diperuntukkan bagi atlet. Sebab, ada indikasi pemotongan di sana-sini. Mereka juga tak menandatangani amprah ketika mendapatkan uang yang menjadi hak mereka tersebut sehingga tidak tahu berapa jumlah sebenarnya yang diberikan oleh KONI Pekanbaru untuk masing-masing atlet.

Seperti dituturkan mereka secara bergantian beberapa waktu lalu, mereka mendapatkan uang saku training center (TC) penuh selama lima hari yang berjumlah Rp250 ribu  (Rp50 ribu per hari) yang diberikan oleh pelatih putra, Nabawi. Namun, karena tak ada amprah yang ditandatangani, dua pemain, Marwan dan Florensia (yang juga merangkap pelatih putri) tidak mau menerima uang tersebut. Alasan Nabawi ketika ditanya soal amprah, katanya pihak bendahara KONI Kota belum membuatnya.

Namun beberapa saat setelah itu beredar di WA amprah yang dimaksud. Mereka terkejut karena di amprah tersebut nominal yang tertulis jauh berbeda dengan uang yang diberikan ke pemain dan pelatih. Di amprah tersebut, tertulis angka @Rp135.000 untuk setiap nama atlet dan pelatih,  dikali 5 hari, totalnya Rp675.000. Bunyi amprah tersebut adalah: “Daftar Bantuan Transportasi TC Penuh Pemain dan Pelatih”.

“Kami ingin transparansi. Berapa sebenarnya dana yang diperuntukkan ke atlet,” ujar Marwan.

“Kalau tak sesuai amprah, saya tak akan mau mengambil uang tersebut,” sambung Florensia Cristy.

“Kami tidak mata duitan. Bukan jumlah uang yang membuat kami protes, tapi transparansinya. Biar semua jelas dan tak ada yang ditutupi,” ujar Bratha Kusuma.


Amprah Bantuan Transportasi TC Penuh untuk Atlet Porprov 2017 Kampar. (ISTIMEWA)

Terpisah, Indriana menjelaskan, suatu hari pelatih Nabawi datang ke rumahnya memberikan uang tersebut dan titip untuk beberapa pemain. Kepada Indriana, Nabawi menjelaskan bahwa dana Rp675.000 tersebut sebenarnya tidak semuanya untuk uang transportasi atau uang saku atlet. Di situ juga termasuk uang makan, uang minum, dan biaya penginapan selama TC penuh. Uang saku untuk atlet sendiri, kata Nabawi seperti ditirukan Indriana, hanya Rp50.000 per hari. Keseluruhannya menjadi Rp250.000 selama lima hari.

“Itu yang disampaikan ke saya,” kata Indriana.

Marwan, Bratha, maupun Florensia, menjelaskan, kalau memang dana tersebut tidak semuanya untuk masing-masing atlet dan pelatih, mereka bisa menerima asal di amprah ditulis peruntukkannya bukan hanya untuk uang transportasi/uang saku atlet.

“Mestinya, kalau memang uang Rp675.000 itu peruntukkannya tidak hanya untuk atlet, amprahnya harus dipisahkan dong. Misalnya yang untuk makan ya dibuat untuk makan, yang untuk akomodasi atau hotel juga dibuat begitu. Jadi tidak menimbulkan kecurigaan. Biasanya tata pengelolaan administrasi kan begitu, bukan asal dicampuradukkan,” jelas Marwan, diamini yang lain.

Bermula dari Tryout ke Padang

Kekesalan para pemain soal tidak transparannya pengelolaan dana untuk atlet ini sebenarnya sudah terjadi ketika tim sepaktakraw Pekanbaru melakukan tryout ke Padang, awal Oktober 2017, dalam masa persiapan menuju Porprov. Di depan para atlet beberapa cabor yang kebetulan melakukan tryout ke Padang yang ketika itu berkumpul di Pantai Padang, “Ketua” KONI Riau ketika itu, Anis Munzil, menjelaskan bahwa tak ada pemotongan uang saku atlet yang jumlahnya Rp750 ribu.

Marwan yang ketika itu hadir, terkejut. Sebab, uang tryout yang diterimanya bersama rekan-rekan pemain sepaktakraw lainnya hanya Rp150 ribu. Kemudian dia bertanya ke atlet cabor lain, katanya menerima penuh sejumlah Rp750 ribu. Marwan lalu bertanya ke pelatih dan manajer tim, Haidir. Dijelaskanlah, bahwa memang dalam “bahasanya” uang tryout untuk atlet ke Padang Rp750 ribu, tetapi itu inklud di dalamnya dana untuk makan, minum, transportasi, dan hotel selama di Padang, termasuk untuk membeli kostum tanding merk terkenal dari Thailand. Dana yang untuk atlet sendiri dihitung tiga hari masing-masing Rp50 ribu.

Dari situ, Marwan sudah mencium adanya ketidaktransparan. Biasanya menurut dia, untuk trayout, sudah dialokasikan dananya masing-masing untuk transportasi, makan, minum, hotel, termasuk membeli kostum.

“Tapi ini kok disatukan dengan uang saku atlet? Bahkan untuk alokasi pembelian kostum, harus mengambil dari uang saku atlet? Mengapa di cabor lain diberikan penuh?” kata Marwan jengkel.

Cerita Florensia Cristy lain lagi. Di tim sepaktakraw putri Pekanbaru untuk Porprov 2017, dia adalah pemain merangkap pelatih putri bersama Iwan Patria.  Namun untuk dana yang diperuntukkan bagi pelatih, awalnya dia tak dihitung. Setelah dia protes, baru diberikan. Dia berharap, ke depan siapa yang bekerja rangkap, juga dihitung rangkap.

“Bukan uang yang menjadi motivasi saya. Sungguh. Saya hanya ingin membantu tim sepaktakraw Pekanbaru berprestasi di Porprov 2017 ini,” kata kapten utama timnas putri Indonesia  yang baru saja turun di Asian Sepaktakraw Championship 2017 Road to Asian Games 2018 di Palembang, 28 November hingga 2 Desember 2017 lalu itu.

Floren kemudian menjelaskan bahwa uang yang didapatkan itu digunakannya untuk membantu membeli kostum tanding tim putri. Dijelaskannya, ketika tryout ke Padang, para pemain putri iuran Rp50 ribu untuk membeli kostum merek Adidas warna merah maron. Jumlah keseluruhannya menjadi Rp600 ribu. Separohnya lagi dia yang menambah. Kemudian, ketika bertanding di Porprov, dia membeli dua kostum untuk tim putri. Satu merek Adidas warna hitam, dan satu lagi merek Hamster warna merah hati. Semuanya diambil dari kantong pribadinya.

“Sebenarnya saya tak ingin orang lain tahu apa yang saya lakukan ini. Tetapi saya tak mau dinilai motivasi saya protes dengan tidak transparannya pengelolaan dana Porprov tim sepaktakraw Riau ini melulu karena uang. Saya mau kok berkorban untuk tim. Saya ingin membantu berprestasi dan yang lainnya. Saya melakukannya sepenuh hati,” ujar pemain yang sudah masuk timnas sejak 2010 ini.


Baik Marwan, Bratha, Florensia, atau Indriana, mengaku hanya ingin kerja keras dan keringat atlet yang bertarung di lapangan memberikan prestasi untuk Pekanbaru, dihargai dengan memberikan hak yang memang menjadi hak mereka.


Amprah Bantuan Transportasi TC Penuh untuk Pelatih Porprov 2017 Kampar. (ISTIMEWA)

“Kasihan teman-teman yang sudah meninggalkan pekerjaannya dan hal lainnya untuk membela Pekanbaru di Porprov kalau hak mereka tidak sepenuhnya diberikan,” jelas Marwan.

Haidir:  Kami Transparan

Terpisah, Manajer Tim Sepaktakraw Kota Pekanbaru untuk Porprov 2017 di Kampar, Haidir,  yang dihubungi pada Kamis (7/11/2017), menjelaskan, sebenarnya yang terjadi adalah kesalahpahaman. Pihaknya sudah mengumpulkan semua pemain dan menjelaskan duduk perkaranya yang sebenarnya. Menurutnya, setelah diberi penjelasan, semua pemain memahami.

Dia menuturkan, masalah dana Rp675 ribu per pemain yang ada dalam amprah yang beredar di WA, sebenarnya adalah dana keseluruhan untuk TC penuh selama 5 hari. Dalam jumlah uang tersebut masuk beberapa item, yakni akomodasi (hotel), uang saku atlet, uang makan, dan minum. Total keseluruhan dana yang dikelola adalah Rp18.900 ribu (675.000 x 28). Ketika dihitung, kata dia, yang untuk uang saku atlet (dalam amprah yang beredar di WA disebut dana tersebut sebagai "Bantuan Transportasi Atlet dan Pelatih”) adalah Rp50 per hari dikali 5 hari.

“Ketika itu, pihak KONI Pekanbaru memerintahkan kami untuk melakukan TC penuh. Karena dana tak mereka berikan di awal, makanya ditanggulangi dulu oleh coach Nabawi. Beliau yang menalangi dulu seluruh biaya itu. Kita harus bersyukur ada orang baik seperti beliau,” ujar Haidir.

Hanya saja, katanya, mungkin dalam amprah yang dikeluarkan KONI Kota Pekanbaru, semuanya disatukan  dengan item “Bantuan Transportasi Atlet dan Pelatih”. Mestinya dipisah-pisah agar tidak terjadi kerancuan yang menimbulkan kecurigaan adanya pemotongan seperti sekarang.

“Ketika semua pemain diberi penjelasan yang sebenarnya, mereka bisa memahami kok,” ujarnya.

Soal atlet yang tak menandatangani amprah, Haidir menjelaskan, ketika dana tersebut diambil dari bendahara, amprahnya belum jadi, sementara para atlet sangat membutuhkan dana tersebut. Jadi, kata dia, dananya diambil dulu dan nanti kalau amprahnya selesai, akan diminta semua pemain dan pelatih untuk tanda tangan. Dia minta maaf telah terjadi miskomunikasi ini. Ke depan dia berharap semuanya bisa diperbaiki dengan lebih baik.

“Semuanya terbuka kok. Taka da yang disembunyikan. Saya jamin itu. Termasuk yang tryout di Padang,” ujar Haidir.

Sementara itu, ketika masalah dana tryout ke Padang mencuat, Nabawi menjelaskan bahwa dirinya sudah memberi pengertian ke semua atlet dengan sedetil-detilnya. Dan semua atlet memahami demi kebersamaan.

"Semua sudah kami jelaskan ke atlet, dan mereka memahami. Pihak KONI Pekanbaru juga sudah menjelaskan bagaimana yang sebenarnya," ujar Nabawi ketika itu.


Sudarman Umar: Jangan Potong Serupiah pun

Pelaksana Tugas (Plt) Ketua KONI Pekanbaru, Sudarman Umar, terkejut dengan protes para atlet sepaktakraw itu. Secara detail dia belum melihat bagaimana persisnya. Tapi dia menjamin kalau ada uang atlet dipotong baik oleh pengurus cabor, manajer, atau pelatih, dia akan mengusutnya.

“Saya tak suka ada pemotongan dana atlet. Kalau ada bukti dan itu terjadi, saya akan usut,” jelas lelaki yang juga menjabat sebagai Kabid Binpres KONI Riau tersebut.

Sudarman menjamin transparansi pengelolaan dana di KONI Pekanbaru di bawah kendalinya. Dia tidak mau ada yang main-main atau salah pengelolaan karena itu melanggar hukum. Dia berharap seluruh pengurus cabor, pelatih, dan manajer yang ditunjuk bekerja sesuai aturan dan tak melakukan penyunatan terhadap hak yang harusnya menjadi milik atlet.

Soal adanya perbedaan uang saku yang diberikan ke atlet dengan di amprah yang beredar di WA, Sudarman akan menelusuri kebenaran dan fakta persisnya seperti apa. Menurutnya memang janggal jika terjadi perbedaan, apalagi atlet tak menandatangani amprah. Dia juga mengaku ada kesalahan kalau uang saku atlet dan pelatih, biaya akomodasi, makan, minum, dan transportasi, disatukan dalam satu item.

“Mestinya itu dipisah karena alokasinya berbeda-beda. Tapi nanti saya cek dulu. Kalau memang ada yang main-main dengan memotong uang atlet, saya akan ambil tindakan,” jelas lelaki yang biasa dipanggil SU tersebut.

Dia berharap, ke depan, semua stake holder olahraga di Pekanbaru, termasuk KONI dan cabor, bersatu, melakukan perbaikan administrasi dan keuangan, tak memotong hak atlet, dan terus melahirkan atlet berbakat dan berprestasi di masa datang.

“Itu harapan saya. Semoga kejadian ini hanya kesalahpahaman saja,” jelasnya mengakhiri.(hbk)






 

 
URL berita: http://www.riaupos.co/berita.php?act=full&id=168328&kat=4

 
© 2015 Riaupos.co | Hak Cipta Dilindungi