Riaupos.co

Oleh Syamsuddin Muir
Puasa dan Sifat Malu
2018-06-12 11:14:19 WIB
 
Puasa dan Sifat Malu
 
RIAUPOS.CO - Sifat malu sebagian dari akhlak Islam. Malu juga bagian dari iman, dan malu juga predikat yang agung dari sikap ihsan. Rasulullah SAW menyatakan, rasa malu adalah sebagian dari iman (hadits riwayat Imam al-Bukhari).

Kenyataannya, puasa itu rahasia antara hamba dengan Allah SWT. Atas dasar iman, saat melaksanakan ibadah puasa, orang tersebut merasakan hidupnya dalam pengawasan (muraqabah) Allah SWT. Lalu, dia pun merasa malu kepada Allah SWT dalam melakukan perkara yang merusak puasanya. Atau perkara yang bisa mengurangi pahala puasanya. Nah, berarti puasa Ramadan itu merupakan di antara ibadah yang menanamkan rasa malu pada pribadi orang berpuasa.

Sifat malu ini yang sudah terkikis pada sebagian besar bangsa ini. Kita lihat kenyataannya, seperti para pelaku tindak pidana korupsi dengan tersenyum riang tampil di televisi. Kita lihat pula berita di negara Jepang, baru diduga saja terlibat tindak pidana korupsi, langsung saja menteri bersangkutan mengundurkan diri. Dan tak mustahil pada akhirnya bunuh diri, karena tak sanggup menanggung malu.  

Perlu diketahui rasa malu itu merupakan akhlak kepribadian Rasulullah SAW. Abu Sa’id al-Khudri mengatakan, Rasulullah SAW itu punya rasa malu yang lebih tinggi dari rasa malu yang dimiliki para gadis.

Rasa malu bisa dipergunakan untuk mengetahui kualitas keimanan dan akhlak seseorang. Ketika seseorang merasa berdosa setelah melakukan perbuatan yang tidak pantas, atau roman muka seseorang memerah karena malu setelah berbuat sesuatu yang tidak layak, bisa dipastikan hati nurani orang tersebut masih hidup dan memiliki sifat yang baik. Namun, kalau seseorang itu bermuka tebal dan tidak peduli lagi terhadap apa yang dia perbuat, orang tersebut merupakan orang yang tidak berkepribadian baik. Sebab dia tidak lagi punya rasa malu yang mampu mengendalikan dirinya dari perbuatan dosa dan hina.

Bahkan, Islam menjadikan rasa malu itu sebagai salah satu ciri khas misi ajarannya. Rasulullah SAW menegaskan, setiap agama itu memiliki ciri khas akhlaknya, dan akhlak yang menjadi ciri khas agama Islam adalah rasa malu (HR. Imam Malik).

Bukan hanya itu, Rasulullah SAW juga menyatakan, rasa malu dan keimanan merupakan  dua teman karib. Apabila salah satunya telah sirna, maka yang lainnya juga akan ikut sirna (HR. Imam al-Hakim).   

Rasa malu yang paling mulia tingkatannya adalah rasa malu kepada Allah SWT. Karena Allah SWT telah memberikan kepada seseorang itu rezeki untuk memenuhi keperluan hidupnya, memberinya udara untuk bernapas, memberinya bumi untuk tempat tinggal, dan memberi langit sebagai tempat bernaung. Betapa kerdilnya seorang hamba bila dihadapkan kepada nikmat-nikmat yang telah diberikan Sang Penciptanya. Tidak layak seseorang melakukan keburukan di hadapan Allah yang Maha Melihat dan Maha Mendengar.

Bagaimana mungkin seseorang tidak merasa malu kepada Tuhannya yang memberikan kenikmatan dan kebaikan yang tidak terhingga banyaknya lalu membalasnya dengan melakukan keburukan? Rasa malu kepada Allah SWT ini merupakan ruh syariat Islam. Begitu kata Syaikh Muhammad al-Ghazali dalam bukunya Khuluq al-Muslim.

Ramadan di penghujung bulannya ini mengajarkan kepada umat Islam agar bersikap malu kepada Allah SWT dengan konsisten melaksanakan aturan agama.***

Oleh Syamsuddin Muir, Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Suska





 

 
URL berita: http://www.riaupos.co/berita.php?act=full&id=184643&kat=38

 
© 2015 Riaupos.co | Hak Cipta Dilindungi