Riaupos.co

PIALA DUNIA 2018
Messi-Ronaldo Dimatikan, Argentina-Portugal Pulang Cepat
2018-07-02 00:47:49 WIB
 
Messi-Ronaldo Dimatikan, Argentina-Portugal Pulang Cepat
 
Catatan Hary B Koriun

PIALA Dunia 2018 penuh kejutan. Setelah juara bertahan Jerman gagal lolos ke 16 Besar dan pulang lebih dulu, giliran Argentina dan Portugal yang tersingkir dan gagal ke perempatfinal. Argentina disingkirkan Prancis 4-3 dan Portugal menyerah 1-2 kepada Uruguay. Dua partai ini memang tak terhindarkan. Empat tim berkualitas seimbang dan merupakan tim-tim unggulan, harus berjibaku di babak awal knock-out. Ini terjadi karena Argentina dan Portugal gagal menjadi juara di penyisihan grup.


Dan yang menarik, dua ikon sepakbola dunia yang selama ini gantian meraih Ballon D Or, pemain terbaik dunia, yakni Cristiano Ronaldo (Portugal) dan Lionel Messi, harus mengucapkan sayonara lebih cepat. Sementara di tim lain, anak muda Prancis, Kylian Mbappe (Prancis) dan penyerang Paris St Germain, Edinson Cavani (Uruguay), menjadi bintang terang. Kita masih menunggu apakah Brazil mampu lolos dari hadangan Meksiko sehingga Neymar Jr masih kelihatan kebintangannya. Atau, apakah Spanyol bisa menggulung tuan rumah Rusia untuk menjelaskan bahwa Isco dan pemain-pemain muda Spanyol bisa selamat dari badai yang menggulung tim-tim besar.


Yang menjadi pertanyaan: apakah Argentina dan Portugal layak pulang cepat sebagaimana Jerman?

Sejak babak penyisihan, Argentina memang tak memperlihatkan dirinya sebagai unggulan dan memiliki seseorang yang ketika bermain di Barcelona dijuluki “Makluk dari Planet Lain”: Messi. Dia gagal mencetak gol lewat penalti saat ditahan Islandia 1-1, dan hanya menjadi orang yang selalu kelihatan muram saat dibantai Kroasia 3-0. Di partai akhir, saat menang 2-1 atas Nigeria, Messi baru bisa mencetak gol. Jelas, ini kontribusi yang minim dari seorang bintang besar sekelas dia.

Selain itu, Messi juga selalu diterpa isu miring karena dia dianggap sebagai pimpinan dalam tim dengan menafikan keberadaan Jorge Sampaoli sebagai pelatih. Messi-lah yang menentukan siapa yang bermain dari awal atau tidak, pelatih hanya mengangguk. Dia akan mencari pemain-pemain yang cocok dengan gaya mainnya di lapangan. Sudah menjadi rahasia umum, baik di Barcelona maupun Argentina, timlah yang beradaptasi mendukung Messi, bukan Messi yang harusnya bermain untuk tim.

Untuk hal itu, ada dua korban. Di Barcelona, Zlatan Ibrahimovic pernah protes kepada pelatih Pep Guardiola karena dia dicadangkan. Messi minta posisi penyerang utama untuknya, bukan untuk Ibra. Ibra kemudian hanya semusim di Barcelona dan mengatakan bahwa Pep bukanlah lelaki jantan karena tak mau bicara dengannya dan selalu menghindar saat bertemu. Padahal Ibra hanya perlu penjelasan tentang keputusannya itu.

Di timnas Argentina, Mauro Icardi harus mengalami nasib siap. Dia mencetak 29 gol untuk Inter Milan musim yang baru saja berakhir, tapi namanya tak masuk dalam tim yang dibawa Sampaoli ke Rusia. Orang lalu mengaitkan pertikaian pribadi Messi dengan Icardi karena membela Maxi Lopez, kawannya. Messi tak suka orang yang sudah merusak rumah tangga sahabat karibnya, bermain bersamanya dalam satu tim.

Tetapi di luar problem itu, saat berhadapan dengan Prancis, dari awal Sampaoli (jika ia yang mengatur starting line-up) sudah melakukan kesalahan. Dengan formasi 4-3-3, Argentina sebenarnya bermain tanpa striker murni. Messi yang menjadi penyerang utama diapit Angel Di Maria dan Cristian Pavon, ternyata tak menjalankan fungsinya sebagai penyerang. Messi kerap berada di tengah dan ketika Argentina perlu goal-getter di depan, taka da pemain penyerang di kotak penalti. Ini beda seandainya Gonzalo Higuain atau Sergio Aguero dipasang –terbukti Aguero mampu mencetak satu gol saat masuk sebagai pengganti.

   

Dengan komposisi seperti itu, Messi pun sering kehilangan bola. Antoin Griezmann dan NGolo Kante bergantian mematikannya. Ini diperparah dengan lini belakang yang rapuh dan gampang ditembus oleh Mbappe atau yang lainnya. Duet Marcos Rojo dan Nicholas Otamendi juga rawan melakukan pelanggaran seperti yang kemudian berujung gol penalti Griezmann akibat pelanggaran Rojo terhadap Mbappe.

Lalu bagaimana dengan Portugal? Secara permainan, statistik menjelaskan bahwa tim asuhan Fernando Santos ini unggul segalanya atas Uruguay. Tapi, pertahanan mereka dibunuh oleh dua gol Cavani melalu serangan balik. Satu gol sundulan yang dicetak Pepe tak bisa menolong Argentina agar tidak pulang lebih cepat.

Kemenangan Uruguay terletak pada keuletan mereka saat bertahan. Duet Diego Godin dan Jose Maria Gimenez di sentral pertahanan, tak memberi ruang kepada Ronaldo untuk melakukan tendangan. Maklumlah, duet ini juga duet pertahanan Atletico Madrid yang sudah sangat hapal bagaimana mematikan Ronaldo di La Liga. Pemain-pemain seperti Nandez Acosta dan Martin Caceres di sisi kanan dan Matias Vecino-Diego Laxalt di kiri, juga bergantian mematikan Ronaldo ketika pemain Real Madrid itu merapat ke sayap. Akibatnya Ronaldo menjadi terisolasi.Terputus dari teman-temannya. Dan, premis bahwa Ronaldo dimatikan maka Portugal akan kehilangan nyawanya, berlaku dalam pertandingan.

Para gelandang Portugal bukannya tak melakukan upaya, baik menusuk dari dua sayap dan tengah, maupun melakukan tendangan dari luar kotak. Tapi hasilnya, kalau tak diblok kiper Fernando Muslera, ya kandas di kaki Godin, Gimenez, dan pemain lainnya. Perbandingan penguasaan bola 67-33 persen menjelaskan bagaimana Portugal mengurung pertahanan Uruguay.

Kini, setelah Jerman, Argentina, dan Portugal pulang pagi, kita masih menunggu sepak-terjang para jagoan lain seperti Brazil, Spanyol, Belgia, Kroasia, atau Inggris di pertandingan selanjutnya. Jika mereka akhirnya juga karam di partai 16 Besar, maka Piala Dunia 2018 benar-benar penuh kejutan.***



 

 
URL berita: http://www.riaupos.co/berita.php?act=full&id=185387&kat=31

 
© 2015 Riaupos.co | Hak Cipta Dilindungi