Riaupos.co

MANDI BALIMAU POTANG MOGANG BERSAMA GAJAH DI TESSO NILO
Dimulai dengan Gajah, Diakhiri dengan Saling Simbah
2018-05-16 12:10:21 WIB
 
Dimulai dengan Gajah, Diakhiri dengan Saling Simbah
 
PELALAWAN (RIAUPOS.CO) - Jelang Ramadan, helat mandi balimau sudah dimulai di beberapa tempat. Begitu juga dengan masyarakat Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan.

Sungai Nilo yang membelah Desa Lubuk Kembang Bunga dibanjiri manusia, Sabtu lalu (12/5). Ribuan orang masuk ke dalam sungai. Bahkan sejak siang, sebelum mandi balimau itu benar-benar dimulai.

Kegembiraan terlihat di setiap wajah masyarakat yang datang bersama keluarga. Meski matahari terik, tidak menyurutkan langkah kaki mereka untuk menghadiri acara yang hanya digelar sekali setahun ini. Sebagian ada yang mengikuti rangkaian kegiatan pembukaan yang dilaksanakan di depan rumah adat, tapi ada juga yang nekat masuk terlebih dulu ke dalam sungai. Mayoritas anak-anak. Pastilah didampingi orangtuanya. Sementara, tim penyelamat sudah bersiap dan berjaga di setiap sudut sungai.

Puluhan orang menggelar dagangan di tepi jalan raya, hingga tepi sungai yang berbentuk pulau dengan pasirnya yang putih dan bersih. Suasana makin ramai. Pasir ini juga sampai ke tengah sungai berwarna kecokelatan yang dalamnya hanya sepinggang orang dewasa. Ada bagian yang dalam, tapi tidak banyak. Tim penjaga keamanan lebih sering berdiri di bagian ceruk sungai yang dalam itu.

Di atas jembatan besar yang menghubungkan tepian dua sungai ini juga dilewati banyak orang. Tidak pernah sepi. Setiap kali lewat, mereka pasti melihat ke arah sungai. Dan anak-anak melambaikan tangan sambil berteriak, ‘’balimau basamo gajah!’’

Mandi balimau tahun ini memang berbeda dengan sebelumnya. Kalau tahun sebelumnya hanya mandi balimau biasa, tahun ini mandi balimaunya bersama gajah. Maka disebutlah kegiatan ini dengan mandi balimau basamo gajah. Selain gajah yang berada di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), juga ada gajah yang diangon PT RAPP yang beroperasi di kawasan tersebut. Ada tiga gajah sekaligus. Ini yang menjadi salah satu alasan mengapa masyarakat sangat antusias.

Untuk meramaikan kegiatan tersebut, pemerintah desa bekerja sama dengan TNTN membuat beberapa rangkaian kegiatan yang dimeriahkan dengan silat pangean, tari-tarian, atraksi karate, dan elu-eluan dari berbagai tokoh masyarakat. Ratusan jenis kuliner dan jajanan juga muncul di setiap sudut lokasi acara. Ramai. Tidak seperti tahun sebelumnya.


Pihak TNTN sendiri bersama Riau Pos telah menghadirkan belasan fotografer Riau dalam kegiatan ini yang dikemas dalam “Fotoku On The Spot Visit Forest” selama dua hari. Kegiatan ini pula sengaja disempenakan dengan kegiatan balimau yang merupakan hari pertama. Momen penting ini pun tak lepas dari jepretan kamera para fotografer andal.

Kepala Desa Lubuk Kembang Bunga Ir Rusi Chairus Slamet di sela-sela kesibukan acara mengatakan mandi balimau adalah tradisi yang rutin dilakukan sebelum memasuki bulan Ramadan. Yakni bersuci diri secara simbolis, sehingga memasuki bulan Ramadan memiliki pikiran yang jernih dan diri yang siap menjalankan puasa.

“Mandi balimau tahun ini berbeda dari tahun sebelumnya, karena tahun ini gajah juga ikut mandi balimau. Jika dua tahun lalu, gajah juga ikut berpartisipasi tetapi hanya sebatas penyambutan dan mengalungkan bunga saja,’’ kata Rusi.

Rusi juga menerangkan prosesi mandi balimau itu diikuti oleh camat, kepala Balai TNTN serta tokoh masyarakat dan tokoh adat. Dengan mandi balimau, para pemimpin masyarakat ini diharapkan mampu  menjadi pemimpin yang bersih hati dan pikiran sehingga bisa memimpin dengan baik.

Tepat pukul 16.00 WIB atau setelah Asar, tiga gajah besar tiba di lokasi acara. Ketiganya dikenakan pakaian. Yakni kain yang menjuntai hingga ke kaki gajah atau menutupi hampir seluruh badan gajah. Prosesi mandi balimau diawali dengan pengalungan bunga kepada tokoh masyarakat yang akan dimandikan dengan air suci oleh Ustaz Suardi SAg yang sore itu menyampaikan ceramah agama.

“Kalau saya ditanya apa hukumnya mandi balimau, saya jawab, tergantung apa tujuannya. Kalau tujuannya menyucikan diri dan sebagai simbol, sah-sah saja. Inilah kekayaan adat dan tradisi kita. Harus dijaga. Dengan catatan, tetap dengan niat yang baik,’’ kata ustaz saat ceramah ketika itu.

Di tepi sungai pula, tempat khusus pemandian serupa pelantar dari papan yang disusun rapi berukuran sekitar 6x6 meter telah disiapkan. Tiga drum besar berisi air bersih bercampur limau dan racikan daun pandan pula sudah diletakkan di atasnya dan siap untuk disimbahkan. Sebagai pertanda penghormatan kepada pemimpin dan tokoh masyarakat yang akan dimandikan, tempat pemandian ini dihias dengan daun kelapa yang menjuntai seperti tirai.


Masyarakat yang memadati dari ujung ke ujung sungai semakin tidak sabar. Sampai akhirnya ustaz yang memimpin prosesi tersebut, bersuara, ‘’bismillah.’’ Air suci limau disimbahkan ke kepala dan tubuh tokoh masyarakat yang sudah duduk di punggung gajah. Otomatis, gajah tersebut juga ikut mandi balimau.

Prosesi ini dilakukan secara bergantian, sehingga pemuka dan tokoh masyarakat sudah dimandikan semua. Dan begitu prosesi berakhir, masyarakat di tepian sungai atau yang sudah menceburkan diri ke dalam sungai sebelum prosesi berlangsung, naik ke atas pelantar. Menyauk air suci itu dengan gayung, tempurung, potongan air mineral atau hanya dengan tangan saja. Tidak hanya menyimbahkan ke tubuh sendiri, tapi ke tubuh warga lain. Saling simbah pun terjadi.

Camat Ukui Amri Juharza di sela-sela keramaian itu mengatakan, kegiatan ini perlu dikembangkan agar menjadi  kegiatan yang bisa menambah pendapatan masyarakat sekitar. Ia juga berterima kasih kepada masyarakat serta pendukung acara sehingga berhasil melaksanakam kegiatan tahunan ini.

Kepala Balai TNTN Supartono yang menggagas mandi balimau basamo gajah ini juga hadir sejak awal kegiatan. Ia sangat tunak. Menyimak dan mengikuti kegiatan tahap demi tahap. Bahkan ikut rapat bersama masyarakat sehari sebelum kegiatan dilaksanakan. Apalagi kegiatan ini memang melibatkan gajah TNTN yang berada di flying squad. Ia mengatakan, saat ini TNTN  sedang mengembangkan program pengelolaan wisata berbasis masyarakat dan budaya.

‘’Memadukan sumber daya yang kita miliki dengan budaya sekitar,’’ujarnya.

Supartono juga menjelaskan, setiap tahun Desa Lubuk Kembang Bunga selalu mengadakan mandi balimau potang mogang. Dengan memanfaatkan momentum ini, pihak TNTN juga ingin terlibat dalam kegiatan budaya. Gajah sebagai ikon TNTN ikut andil dalam kebudayaan masyarakat.

‘’Mandi balimau potang mogang bersama gajah. Ini intinya. Kolaborasi ini bertujuan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar dari para wisatawan yang hadir di acara ini. Ke depan kegiatan semacam ini akan dibuat lebih tertata lagi dan berlangsung beberapa hari,’’ sambung Supartono.

Rombongan Fotoku On The Spot Visit Riau sendiri, sebelum mandi belimau potang mogang bersama gajah dimulai,  mereka telah mengabadikan foto kegiatan gowes dan tracking yang dilakukan TNTN dengan komunitas sepeda menyusuri hutan. Track di dalam hutan, merupakan salah satu upaya untuk melestarikan dan menjaga hutan karena jalur bersepeda di dalam hutan menambah adrenalin komunitas sepeda. Kegiatan ini juga diikuti pihak kecamatan, kepala desa, anggota DPRD asal Desa Lubuk Kembang Bunga dan masih banyak lainnya.(cr4/ted)

Laporan KUNNI MASROHANTI, Pelalawan


 

 
URL berita: http://www.riaupos.co/berita.php?act=full&id=182604&kat=3

 
© 2015 Riaupos.co | Hak Cipta Dilindungi