Riaupos.co

MERIAM BESI, PUSAKA ADAT KAMPAR KIRI YANG TERJAGA
Diletuskan saat Subuh dan Menjelang Magrib Hari Kedua Idul Fitri
2018-05-12 11:33:31 WIB
 
Diletuskan saat Subuh dan Menjelang Magrib Hari Kedua Idul Fitri
 
KAMPAR (RIAUPOS.CO) - Letusan meriam di Desa Gunung Sahilan, Kecamatan Kampar Kiri, Kampar tidak sama dengan meriam tempur yang biasa kita saksikan di film-film. Yakni menampilkan meriam dengan peluru bulat yang akan meledak jika ditembakkan. Masyarakat adat di Kampar Kiri menyebutnya Lelo.

Hingga saat ini, keberadaan Lelo sebagai benda pusaka, seperti di Istana Gunung Sahilan, Desa Gunung Sahilan, Kecamatan Kamparkiri, Kampar, masih memiliki daya tarik tersendiri. Keberadaannya yang semakin langka,membuat Lelo selalu dinantikan masyarakat yang biasa menamakan suara ledakan meriam ini dengan panggilan songek.

“Tidak ada yang tahu darimana Lelo berasal, tahun berapa Lelo dibuat, dan sejak kapan Lelo dimiliki Kerajaan Gunung Sahilan. Karena memang tidak ada catatan mengenai itu dan bahkan tidak ada ukiran tahun di badan Lelo itu,” jelas Utama Warman, pemuka adat Gunung Sahilan dengan gelar Datuk Godang,  yang juga merupakan ninik mamak dek anak cucu raja, Kamis (10/5).

Penamaan Lelo sendiri masih menjadi tanda tanya di kalangan masyarakat luar, dan bahkan asal-usul Lelo juga masih dipertanyakan. Pasalnya, tidak adanya catatan khusus dari mana Lelo ini berasal, dan juga sejak kapan Lelo menjadi benda pusaka adat di wilayah Kampar, masih belum diketahui secara pasti hingga saat ini. Satu-satunya acuan penamaan Lelo berasal dari kata merajalela dengan artian mengebu-gebu.

“Tigo bondo pusako (tiga benda pusaka) yang diwariskan dek rajo (raja) kami terdahulu totap tajago elok (tetap terjaga baik) di dalam istana. Dihidupkan tiok (tiap) hari ayo kaduo (hari raja kedua) Idul Fitri, ledakan partamo (pertama) pas Subuh dan ledakan kaduo manjolang (kedua menjelang) Magrib,” ungkap Utama Warman yang menjelaskan kapan dan bagaimana Lelo digunakan.

Istana Kerajaan Gunung Sahilan memiliki 3 Lelo dengan ukuran yang tidak sama. Yang kecil disebut kociek dengan panjang kurang dari 1 meter, yang kedua disebut manonga (menengah) dengan panjang 1 meter, dan yang besar disebut yang godang (besar) dengan panjang 1,5 meter.

Lelo yang sudah berada di Istana Gunung Sahilan sejak abad ke-16 ini dihidupkan secara rutin saat hari raya kedua Idul Fitri, yakni setiap tanggal 2 Syawal. Selain itu, Lelo juga dihidupkan saat acara adat seperti penobatan khalifah dan kunjungan raja-raja.


Cendo bodie-bodie bosi, seperti itulah masyarakat setempat menggambarkan meriam besi yang disebut Lelo ini. Sekilas memang ada kemiripannya dengan meriam bambu yang biasa dimainkan anak-anak saat bulan Ramadan tiba, namun meriam besi benda pusaka adat ini diledakkan menggunakan bubuk mesiu.

Pengguna yang harus meledakkan Lelo juga bukan tentara, melainkan pemuda  setempat yang sudah terbiasa meledakkan Lelo saat penyambutan hari raya Idul Fitri dan penyambutan para raja.

Di mana orang yang akan meledakkan Lelo akan memasukkan bubuk mesiu ke dalam meriam, sebelum disulut dengan sumbu ledaknya.

“Keluarga saya yang merawat istana dan semua isinya, termasuk Lelo. Lelo hanya dikeluarkan saat hari besar saja, seperti hari raya Idul Fitri, acara istana, penyambutan raja, dan itu momen yang selalu ditunggu-tunggu oleh masyarakat” jelas Azirman, yang merupakan Juru Pelihara Istana kepada Riau Pos, Kamis (10/5).

Kesedihan yang mendalam dirasakan masyarakat di Kampar Kiri. Lelo yang menjadi benda pusaka adat meledak berkeping-keping hingga memakan korban jiwa, pada Rabu (10/5). Acara tablig akbar, sempena dengan 1 tahun penobatan Raja Gunung Sahilan terhenti, masyarakat yang hadir bergegas membantu para korban akibat ledakan Lelo.

Dengan begitu, popularitas keberadaan Lelo akan dirundingkan oleh para ninik mamak setempat. Menurut Utama Warman, dia akan menyuarakan agar Lelo tidak diledakkan lagi saat rapat ninik mamak dan para kholifah Kampar Kiri nanti. Tujuannya agar tidak ada lagi insiden meledaknya Lelo seperti pada Rabu (10/5) lalu.

Bagaimanapun keputusan pada Lelo nanti, ditampilkan lagi di acara adat atau hanya akan menjadi penghias ruang istana. Lelo tetap akan menjadi salah satu benda pusaka yang melegenda, kehadirannya sejak zaman kerajaan ratusan tahun silam, telah membantu pasukan kerajaan dalam mempertahankan wilayah kekuasaan dari serbuan musuh, yang masih dijaga dan dirawat sebagai benda pusaka adat masyarakat Kampar Kiri.

“Apapun keputusan akan Lelo nantinya akan kami terima. Sebagai masyarakat dan pemuda kami menghormati keputusan ninik mamak yang pastinya untuk kebaikan bersama. Jika tidak digunakan lagi, maka kami akan merindukan bagaimana senangnya masyarakat melihat atraksi letupan Lelo. Termasuk saya yang sejak kecil selalu antusias melihat letusan Lelo, hingga saya bisa dan berani menghidupkan Lelo itu sendiri sejak beberapa tahun terakhir,”ungkap Riko.(cr7)

Laporan MUSLIM NURDIN, Kampar






 

 
URL berita: http://www.riaupos.co/berita.php?act=full&id=182269&kat=3

 
© 2015 Riaupos.co | Hak Cipta Dilindungi