Riaupos.co

EKONOMIKA
Menyikapi Perubahan Zaman Now Secara Proporsional
2018-04-26 09:50:40 WIB
 
Menyikapi Perubahan Zaman Now Secara Proporsional
 
Oleh: Dr Irvandi Gustari, Dirut Bank Riau Kepri

SIAPA dalang yang menggerakkan kehebohan adanya era disruption, era digitalisasi, era destruktif? Tanpa sadar kita pun ikut latah membahasnya dan ikut-ikutan pula menggosip sesuai komunitas masing-masing dengan topik bahasan tentang era disruption ataupun zaman now.

Sebenarnya sejak dimulainya revolusi  industri fase pertama  pada tahun 1760, di situlah sebenarnya dimulainya zaman now. Jadi bukan pada 2017 lalu. Setiap pergeseran fase revolusi industri di mana saat ini sudah memasuki fase 4, maka setiap kali itu pulalah muncul zaman now yang new atau zaman now yang kekinian. Jadi sebenarnya kalau kita membahas zaman now itu baru sekarang, maka akan timbul pertanyaan, ke mana saja kita selama ini?

Dengan demikian sebenarnya zaman now yang sering kita jadikan trending topic dalam pembahasan apa pun ternyata sudah sejak awal 1760 dikenal khalayak. Mengapa begitu? Ya, karena revolusi industri terjadi pertama kali di Inggris sekitar tahun 1760-1830. Pemerintah Inggris memang  berperan besar mendukung terjadinya perkembangan teknologi yang besar tersebut. Penemuan mesin uap menjadi kuncinya. James Watt menjadi salah satu ikon atau produk  kunci revolusi ini, di mana dia mendesain mesin uap yang menjadi dasar mesin-mesin industri di Inggris. Lebih lanjut pada sejumlah literatur dijelaskan bahwa revolusi industri dimulai dari Britania Raya dan kemudian menyebar ke seluruh Eropa Barat, Amerika Utara, Jepang, dan selanjutnya menyebar ke berbagai belahan dunia.

Lalu setelah revolusi industri tahap 1, maka muncul revolusi industri tahap 2 sekitar abad ke-19 dan awal abad ke-20. Revolusi industri 2.0 atau kita sebut sebagai revolusi industri kedua adalah lompatan besar dalam perkembangan teknologi dan kebudayaan masyarakat. Produk dengan inovasi baru dalam produksi baja, minyak dan listrik menjadikan produksi massal mobil dan pesawat sebagai alat transportasi. Revolusi industri kedua diawali dengan penggunaan dan produksi besi dan baja dalam skala besar, meluasnya penggunaan mesin di bidang manufaktur.

Hal itu tentunya sangat meningkatkan penggunaan tenaga uap, mesin telegraf digunakan secara luas, penggunaan minyak bumi dan juga awal penggunakan listrik. Revolusi industri kedua ini ditandai dengan temuan Henry Ford dalam bentuk produk bergerak seperti mobil.

Lebih lanjut muncul lagi  revolusi industri ketiga dan keempat yang sedang kita lalui saat ini. Intinya secara singkat dapat kita simpulkan bahwa kemajuan zaman menyebabkan industri juga mengalami revolusi. Industri mulai mengalami perubahan sejak dimulainya revolusi industri atau industri 1.0 dengan ditemukannya mesin-mesin pabrik. Lebih lanjut saat memasuki  industri 2.0 diawali dengan pemakaian listrik dalam berbagai industri. Pada tahapan selanjutnya saat masuk kepada industri 3.0 dimulai ketika pemakaian teknologi informasi dan otomatisasi dalam industri kian marak. Saat ini, kita merasakan bahwa industri mulai memasuki era 4.0, di mana teknologi tinggi dan digitalisasi mulai menjadi bagian dalam kegiatannya.

Setelah kita mencoba untuk kilas balik ke awal dari revolusi industri dari tahap 1 sampai dengan sekarang yaitu masuk pada tahap 4 atau kita kenal dengan industri 4.0, maka sebenarnya kita tak perlu terlalu panik dan terlalu membesar-besarkan kekhawatiran adanya zaman now tersebut.

Sudah sejak abad 17 yaitu awal dari revolusi industri ternyata kita sudah memasuki zaman now. Jadi saat ini bukanlah hal yang baru lagi bila kita masuk ke era yang lebih canggih lagi. Kita semua sudah sering mendengar bahwa setelah era disruption berakhir maka tahun 2030 kita akan masuk ke era abundance. Yaitu era kemudahan, dan ini tentu akan masuk ke era yang lebih now lagi tentunya. Ya, memang berubah itu pasti, yang tidak pasti itu adalah sanggupkah kita mengikuti perubahan tersebut.***



 

 
URL berita: http://www.riaupos.co/berita.php?act=full&id=181258&kat=3

 
© 2015 Riaupos.co | Hak Cipta Dilindungi