Riaupos.co

Hari Jadi 4 Kabupaten
Perlu Sinergi Bangun Daerah
2017-10-12 11:02:31 WIB
 
Perlu Sinergi Bangun Daerah
 
PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Empat kabupaten di Riau genap berusia 18 tahun hari ini (12/10). Yakni Siak, Rokan Hulu (Rohul), Pelalawan, dan Kuantan Singingi (Kuansing). Menurut Gubernur (Gubri) Riau H Arsyadjuliandi Rachman, sebagai daerah pemekaran empat kabupaten ini peranannya sama-sama penting. Gubri berharap sinergi seluruh daerah pemekaran dengan kabupaten induk dan seluruh kabupaten/kota di Riau dengan provinsi harus terus terbangun. Dengan demikian upaya bersama membangun daerah secara lebih terarah dapat terlaksana.

“Pertama-tama saya mengucapkan selamat hari jadi ke-18 kepada empat kabupaten. Semoga terus berkontribusi positif bagi pembangunan Riau secara menyeluruh. Sesuai peran dan potensi besar masing-masing daerah,” ujar Gubri.

Diakuinya berbagai prestasi sudah berhasil ditorehkan daerah-daerah tersebut di tingkat provinsi maupun nasional. Namun yang perlu diingat, tantangan ke depan perlu disikapi dengan lebih baik. Ini supaya Rohul, Kuansing, Pelalawan dan Siak tetap dikenal di tingkat daerah maupun nasional.

Pemprov Riau, ujar Gubri, turut bersuka cita dan memiliki asa besar bagi kabupaten pemekaran yang merayakan hari jadi tersebut. Memang diakuinya, dalam memajukan daerah memerlukan sentuhan dan dukungan dari seluruh masyarakat.

“Kalau kabupaten/kota di Riau mampu berbuat terbaik bagi daerah dan masyarakatnya, tentu dukungan optimal juga terus diberikan masyarakat. Karena perlu membangun itu secara bersama-sama,” katanya.

Lebih lanjut dia berharap seluruh kepala daerah di tiap kabupaten, agar tetap menjaga dan membesarkan daerah serta terus memajukan masyarakat menjadi lebih sejahtera. Melalui program kegiatan yang dilaksanakan pemkab secara simultan dalam lima tahun jabatan dan tetap bersinergi dengan program provinsi.

Di sisi internal pemerintahan, Gubri juga mengingatkan pemkab terkait agar mewujudkan reformasi birokrasi dan revolusi mental bisa lebih berintegritas. Dengan demikian sehingga bisa menjawab tantangan pembangunan ke depan sesuai dengan harapan masyarakat.

Gali Potensi PAD
Berkurangnya dana bagi hasil (DBH) minyak bumi dan gas (migas) membuat  Pemkab Rokan Hulu (Rohul) berpikir keras untuk meningkatkan penerimaan PAD. Di bawah kepemimpinan Bupati H Suparman SSos MSi dan Wakil Bupati Rohul H Sukiman dilakukan berbagai terobosan kreatif dan inovatif. Seperti sektor Pajak Bumi Bangun Perkotaan dan Pedesaan (PBB-P2), PPHTB dengan memanfaatkan potensi perkebunan yang beroperasi. Tercatat ada 37 perusahan perkebunan dan 34 pabrik kelapa sawit (PKS) di Rohul. Ini secara legalitas perlu dilakukan peninjauan, inventarisasi data terhadap seluruh perizinan yang dimiliki.

“Kami berharap sektor perkebunan akan menopang penerimaan PAD. Sehingga dapat sedikit memenuhi keperluan belanja pembangunan di Rohul,” ungkap Bupati Suparman melalui Kepala Bappeda Nifzar SP MIp kepada Riau Pos, Rabu (11/10).

Dikatakan Nifzar, secara angka APBD murni 2017 ke APBD Perubahan sudah menuangkan lebih Rp26 miliar, tambahan dari PAD sektor perkebunan. Kemudian  instansi terkait dalam hal ini Bapenda melakukan terobosan-terobosan dengan menggali  seluruh potensi PAD yang ada. Beberapa gebrakan yang dilakukan Bapenda Rohul dengan membentuk tim terpadu pengendalian perizinan dan pajak daerah terkait perkebunan. Selain melakukan penggalian penerimaan sekot PBB P2 dengan aplikasi Sistem Informasi Manajemen Pajak Bumi dan Bangunan (SIMPBB) Desa Mandiri PBB P2 di desa yang ada di Rohul.

PAD Topang Pembangunan
Rasionalisasi anggaran memang seperti angin puting beliung yang memangkas habis anggaran kegiatan pemerintah daerah.  Kondisi ini diperparah dengan DBH migas yang terus turun seiring merosotnya produksi dan anjloknya harga minyak mentah dunia.  Namun bagi Bupati Siak Drs H Syamsuar MSi semua persoalan itu bukanlah akhir segalanya. Demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan di segala bidang,  jajarannya diintruksikan untuk berpikir kreatif untuk mengejar pendapatan. 

“Saya berkali-kali mengingatkan seluruh pimpinan OPD berpikir kreatif. Berinovasi di segala bidang guna menggenjot PAD.  Kita ini tidak dapat selamanya mengandalkan dana transfer dari pusat,” sebutnya. 
Pada beberapa kesempatan Syamsuar meminta kepada jajaranya memaksimalkan potensi PAD yang bersumber dari PBB,  IMB,  parkir,  pajak dan retribusi lainnya. Bahkan untuk memaksimalkan pendapatan dari sektor itu Pemkab Siak langsung membuat payung hukum berupa perda.  Ke depan, kata Syamsuar, inilah yang menjadi penopang sumber pendatan Siak. Selain itu dia juga meminta kepada seluruh jajaranya untuk kreatif menjemput bola dana pusat.  Karena sejatinya banyak program pemerintah pusat yang dapat diselaraskan dengan program di Daerah. 

“Saya juga meminta agar terus memantau program yang ada di pusat.  Jemput bola, karena dana yang ada disana dapat dibawah ke daerah,” sebutnya. 

Begitu juga dengan Pemkab Pelalawan. Mereka harus memilah-milah program pembangunan yang menjadi skala prioritas. Bupati Pelalawan HM Harris mengatakan, pihaknya telah melakukan langkah rasionalisasi terhadap program dan kegiatan yang sudah dialokasikan di APBD.

“Kami juga sudah melakukan berbagai efisiensi anggaran termasuk mengurangi tunjangan pejabat dan pegawai. Namun karena efisiensi tersebut belum dapat menutupi sepenuhnya kekurangan anggaran, maka sebagian kegiatan yang berhubungan langsung dengan kepentingan masyarakat pun terpaksa dirasionalisasi,” terangnya.

Namun demikian, sambung Bupati Pelalawan dua periode ini, Pemkab Pelalawan patut bersyukur di tengah kondisi berkurangnya kapasitas anggaran pemerintah daerah, kepedulian dunia usaha di Pelalawan terhadap kondisi dan permasalahan pembangunan di daerah ini justru semakin membaik. Di mana berbagai program CSR sudah mulai sinkron dengan program pemerintah daerah yang tertuang dalam RPJMD. Bahkan, jumlahnya pun sudah semakin meningkat.

Diungkapkan Harris, selain mengandalkan kerja sama dengan pihak perusahaan dengan adanya penerapan Perda CRS guna mensinkronkan program Perintah bersama perusahaan,  saat ini Pemkab Pelalawan juga sedang menggenjot potensi PAD yang masih belum tergarap secara maksimal. Seperi pajak baik pengelolaan parkir, rumah makan serta retribusi dari izin reklame, retribusi izin memperkerjakan tenaga asing (IMTA) dan potensi PAD lainnya.

“Saat ini kami juga sedang melakukan pembenahan di sektor Pariwisata dengan melengkapi sarana dan prasana di objek wisata unggulan. Seperti wisata Bono dan Danau Kajuid, Tugu Ekuator serta potensi bidang pariwisata lainnya. Sehingga diharapkan PAD Pelalawan dapat menutup defisit anggaran untuk meningkatkan kemajuan pembangunan Negeri Seiaya Sekata ini,” bebernya.

Maksimalkan PAD hingga Desa
Mayoritas masyarakat Kuansing menggantungkan hidup di sektor perkebunan, baik karet maupun kelapa sawit. Akhir-akhir ini ekonomi masyarakat tersendat. Pasalnya, harga karet hanya berkisar Rp5000 hingga Rp6500 per kilogram. Ditambah harga sawit yang juga melemah di tengah produksinya menurun.

Daya beli masyarakat pun melemah. Alhasil, kedai-kedai makan dan minum, terutama di wilayah Telukkuantan sudah cukup banyak yang tidak beroperasi. Kondisi ini dipicu kondisi perekonomian aparatur dan masyarakat turut melemah. Pegawai dihadapkan dengan kondisi keuangan daerah yang tak stabil. Sementara masyarakat dihadapkan dengan harga komoditi karet dan sawit yang anjlok.Di tengah kondisi keuangan pemerintah daerah yang tak stabil, Pemkab Kuansing terus berupaya melaksanakan pemerintahan dan pembangunan dengan lancar dan normal. Memasuki dua tahun kepemimpinan Mursini-Halim di Kuansing, berbagai upaya dilakukannya. Seperti menggenjot PAD dan meminta dukungan dari dana provinsi dan pusat.

Kendati terimbas dengan pengurangan dana bagi hasil (DBH), yang berdampak terhadap realisasi kegiatan, namun Pemkab Kuansing di tahun ini tidak melakukan rasionalisasi. Sejumlah kegiatan pembangunan, seperti jalan yang menggunakan dana alokasi khusus (DAK) dan kabupaten pun tetap bisa berjalan normal. Kondisi ini menurut Kepala Bidang Anggaran Badan Pengelola Keuangan, dan Aset Daerah (BPKAD) Kuansing, Delis Martoni SE MM dikarenakan ketersediaan anggaran yang ada tidak mempengaruhi kegiatan.

“Makanya, kami tidak ada melakukan rasionalisasi,” simpulnya.

Bupati Kuansing Mursini pun menginstruksikan setiap OPD memanfaatkan potensi yang ada guna menggenjot penerimaan daerah, terutama PAD. Di samping itu, masing-masing OPD diminta bekerja serius dan ikhlas guna membangun daerah.

“Saya minta bekerjalah serius, dan sama-sama membangun Kuansing yang kita cintai ini,” ajak Mursini, saat memimpin rapat evaluasi realisasi APBD 2017, baru-baru ini.

Bak gayung bersambut. Kepala Badan Pendaparan Daerag (Bapenda) Kuansing, Hendra AP MSi juga mengharapkan kepada setiap OPD untuk bersama-sama menggali potensi PAD. Karena menurutnya, setiap instansi memiliki banyak potensi yang perlu dimaksimalkan.

“Kalau kita serius, saya yakin PAD bisa kita genjot,” katanya.
Salahsatu upaya yang telah dilakukan Hendra adalah dengan membentuk tim layanan PBB keliling hingga desa. “Dengan upaya ini, kesadaran masyarakat terhadap pajak meningkat,” harapnya.Saat ini, tim yang sudah dibentuk Hendra telah bekerja yang melakukan koordinasi dengan pihak kecamatan serta kantor layanan pajak Rengat untuk melakukan layanan PBB keliling tersebut.

“Layanan ini akan kita maksimalkan ke depan untuk mengoptimalkan penerimaan daerah,” ujar Hendra, Rabu (11/10).

Memperingati HUT ke-18 Kuansing, Plt Sekda Kuansing H Muharlius SE membeberkan beberapa keunggulan Kuansing dalam kurun waktu dua tahun belakangan ini. Muharlius mencontohkan soal kesejahteraan masyarakat yang mulai meningkat. Terutama di bidang perkebunan, perikanan dan pariwisata.

“Sekarang bantuan dari pemkab sudah mulai dirasakan oleh masyarakat. Mulai dari bantuan bibit sawit hingga bantuan pompa air di berbagai aliran sawah yang ada di Kuansing. Ini bukti negeri kota jalur ini sekarang sedang berbenah,” ujar Muharlius.

Muharlius melanjutkan, mengenai pariwisata yang ada di Kuansing sekarang ini sudah tidak bisa dipungkiri lagi. Sudah hampir setiap kecamatan mempunyai pariwisata andalan.  “Dengan banyaknya pariwisata, tentu akan meningkatkan tarap hidup masyarakat setempat dengan cara memamfaatkan peluang yang ada. Apalagi pariwisata yang ada dibagian Hulu Kuantan dan Kuantan Mudik dengan berbagai wisata air terjunnya,” ujar Muharlius.

Dengan demikian, secara tidak langsung, Pemkab Kuansing sudah melakukan terobosan baru untuk memperbaiki ekonomi kerakyatan. Mengenai pariwisata, Pemkab Kuansing selalu memeberikan pendampingan kepada masyarakat.Saatnya Lirik Sektor Pangan dan Peternakan
Sektor minyak dan gas (migas) yang selama ini menopang perekonomian tidak bisa lagi diandalkan. Begitu harga dua komoditas itu melemah pertumbuhan ekonomipun terseret turun. Turunnya harga Migas tidak hanya berdampak pada perekonomian makro di Riau. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) besar-besaran di bidang migas sudah cukup menjadi gambaran. Ekonom Universitas Riau Edyanus Herman Halim menyebutkan, sudah saatnya Riau lebih serius mengembangkan sektor-sektor nonmigas yang dianggap sangat potensial mendatangkan pendapatan asli daerah (PAD). Dirinya mengusulkan, selain pariwisata yang saat ini sedang giat dikembangkan, pemerintah daerah juga harus lebih serius melihat sektor pangan dan peternakan. Apalagi kalau dikaitkan pada situasi perkebunan sawit di Riau yang sedang dihadapkan pada replanting.

“Sektor yang paling prospektif itu adalah tanaman pangan danpeternakan. Karena keperluan Indonesia dan dunia tidak akan berkurang. Keperluan daging sapi misalnya, permintaan akan semakin besar, karena penduduk Indonesia dan dunia terus akan tumbuh. Harusnya pemerintah mulai melirik peluang itu,’’ terangnya.

Memang untuk mewujudkan sektor pangan dan peternakan tidak mudah. Usaha pengembangan sektor nonmigas ini harus terukur, pelaksanaannya juga harus terintegrasi. Tidak kalah penting, arah dan tujuannya pengembangannya juga harus jelas.(egp/end/epp/dik/amn/cr6/jps)

 

 
URL berita: http://www.riaupos.co/berita.php?act=full&id=164109&kat=3

 
© 2015 Riaupos.co | Hak Cipta Dilindungi