Riaupos.co

SASTRA
Sajak-Sajak Hang Kafrawi
2017-08-13 01:10:58 WIB
 
Risau

Mendefinisi kata persahabatan memang selalu membingungkan bagi Atah Roy. Sudah berulang-ulang Atah Roy mencari makna kata persahabatan, dan beberapa kali pula Atah Roy hanya termenung beruk; tidak tahu nak buat apa dengan kata ini. Setiap kali membuka kamus, selalu saja pada kata sahabat, huruf-huruf jadi tak bisa dieja, huruf-huruf saling membilit. Atah Roy mencoba merangkai

Patah Sejarah

Sejarah yang kami tatah,
jalannya membentang rujuk kutuk.
Batu resah yang pecah,
tiada kisah untuk dirujuk.

Kami yang berdiri di sini,
mengokah setia sepanjang zaman.
Nyanyian luka telah bersebati,
dilantunkan sebagai peneguh iman.

Tak kenal pada diri,
belum terlambat untuk disudahi.
Tanah ini masih menyimpan bidadari,
dihias sampai hilang sepi.

Suara harus jadi peluru,
menembus diam beku kita.
Tersebab ingin bukan benalu,
cukup sudah segala derita.

Cahaya masa lalu meredup,
serinya hilang resa.
Ditikam kelam tak menghirup,
kesengsaraan juga yang menjelma.

Negeri ini patah sejarah,
menjalu di atas rindu.
Menggadai purnama barah
Tak mungkin disudahi luka melulu


Sang Keriangan

Gelap juga yang hadir
Padahal sayap kasih terbentang
Keriangan patah belum sampai saatnya
Kesepian juga menyulam sunyi

Pada badai yang mengamuk
Kau seperti kupukupu putih bawakan purnama
Membentang harap, menabur hati
Nyanyian mekar di suara waktuku

Ada kau yang luka
Bertahan pada pilihan
Mengikut takdir dikubur rasa
Atau menyerah sebelum sempat memulai

Keriangan dari senyum kau kulum
Tak ingin pecah menikam dadaku
Di jantungmu segala duka bersarang
Kau tetap tegar walau harus memendam tawa

Kau dihimpit pilihan
Membunuh bentangan rasa



Keriangan Patah

Detak jantung dari matamu menggelombang,
meranggas tebing sepi,
memesan letupan angin.
Segalanya jadi gemuruh utara bersarang ke hati,
mengokah kuncup hari,
mekar pelangi menari

Kau purnama menyibak gelap
Malam tersingkir dalam harap
Mimpi mengurai diri tegap
Membentang tembang hari sayap

Terbanglah kita, katamu, mematah pandang halang
Pertemuan sunsang rupanya
Terbahang beribu larangan
Kusimpan ke lubuk jantung
Sampai hari mati


Patah Merindu

Gelombang hati memecah
kenangan di benakku,
orkestra gemuruh denyut nadi.
Terbentang irama
cahaya keriangan
kau semai dari senyum.
Merecup kisah purnama
menganak bintang-bintang tiap nafasku.
Segala sunyi bernyanyi,
segala sepi menari,....

Kita ditawan waktu,
dicincang jarak,
dan didekap gelap.


Narasi Rindu

Pada bentangan hari, matahari hadir dengan cahaya, memberikan kekuatan demi kehidupan. Seperti matahari, kami lahir menjunjung keadilan agar negara tetap berjaya dan perkasa. Matahati kami adalah keadilan dan kebenaran sebagai wujud cinta pada negara. Negara adalah kita yang memiliki sayap kejujuran untuk tetap terbang mengibarkan panji-panji kemanusiaan.

Seperti mata air, kami alirkan keadilan dan kebenaran menjadi denyut nadi bangsa ini, lalu menjadi lautan untuk kita layarkan perahu kebersamaan. Inilah kami, inilah kita dari muara kehendak yang sama untuk menopang bangsa. Sejahtera adalah kita yang menjunjung keadilan tanpa mengenal lelah.

Keadilan dan kebenaran adalah tujuan yang mesti dirangkai menjadi pondasi membangun negeri. Mengarah tuju ke kejayaan adalah kewajiban yang tidak dapat di tawar-tawar. Maka berdiri seperti topan dengan keadilan dan kebenaran adalah kita yang sama untuk bangsa. Bersama-sama kita menyulam hati, melayarkan segala musim menuju kemakmuran idaman.

Dan inilah kami, inilah kita membentang kasih, menegak keadilan, menanam kebenaran ke rahim pertiwi, melahirkan rindu sepanjang masa.

Hang Kafrawi adalah Ketua Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Lancang Kuning. Selain sebagai pengajar Hang Kafrawi juga aktif di dunia seni teater dan menjadi Ketua Teater Matan.



 

 
URL berita: http://www.riaupos.co/berita.php?act=full&id=159128&kat=24

 
© 2015 Riaupos.co | Hak Cipta Dilindungi