Riaupos.co

CERPEN YEYEN KIRAM
Ibu dan Senja
2017-08-13 00:35:30 WIB
 
Ibu dan Senja
 
Akhir-akhir ini, aku melihat Ibu paling suka menghabiskan waktunya, duduk di beranda atas rumah kami, setiap sore. Menurutku, tak ada menariknya tempat itu. Karena hanya bisa menyaksikan seliweran kendaraan yang lalu lalang, hilir mudik tidak henti-hentinya. Sehingga, membosankan. Bahkan jika cuaca sedang terik, maka panas udara yang naik, akan terasa lebih menyengat, membumbung menjelajahi beranda tersebut. Apalagi, letaknya terbuka menantang arah matahari menepi. Udara berterbangan, renyah bebas membawa debu dari jalanan yang selalu bising. Jadi sungguh tidak ada istimewanya, jika memilih tempat buat duduk di situ. Tempat tersebut hanya berguna  membantu mengirimkan cahaya sebanyak-banyaknya ke dalam ruangan lain, di lantai atas bangunan rumah.

Tetapi tidak  demikian bagi Ibu. Seperti biasanya, dari balik jendela kamar aku menyaksikan  Ibu sedari tadi,   hanya duduk diam saja di atas kursi plastik yang terdapat di tengah beranda. Sementara tanganya, tak lepas menggenggam jarum renda dengan benang berwarna krem tanah. Sebuah buku cukup tebal, tergeletak setengah terbuka, disebelah satunya lagi.
Ibu memang tidak pernah diam. Kalau tidak membaca, maka dia akan mengisi waktunya dengan merenda. Kata Ibu, hidup perempuan layaknya seumpama renda. Kadang harus diputar, ditekuk, ditarik, atau di sembunyikan agar helaian benang yang tadinya lurus, menjadi anyaman renda yang indah dan berguna. Ibu memang sangat mahir dengan ketrampilan yang satu ini. Kuakui, hasilnya desain rancanganya sangatlah bagus, halus dan rapi. “Sesuatu yang dikerjakan dengan hati, maka hasilnya takkan sia-sia ,’’ begitu kata Ibu setiap aku dengar orang memuji-muji hasil anyaman renda-rendanya tersebut.

Tapi aku tahu,  sore ini Ibu duduk di beranda  bukan untuk merenda maupun membaca. Ia hanya ingin duduk saja menghabiskan waktu. Seolah sedang menatap sesuatu, pandanganya begitu hanyut. Hingga Ibu sampai tidak menyadari kalau adzan Maghrib dari loudspeaker Mesjid di dekat rumah kami, sudah lantang memanggil segera menunaikan ibadah wajib tersebut.

Kebiasaan baru Ibu ini, memang tidak mengganggu siapapun. Kecuali Bapak, lelaki yang menikahi Ibu selama berpuluh tahun. Melahirkan kami, tiga orang anak yang mulai menuju remaja dan dewasa. Bapak akan selalu uring-uringan, jika sebentar saja Ibu lepas dari pandangan. Ia akan langsung mengomel, seolah bertahun diabaikan Ibu. Maka hanya sebentar saja, teriakan-teriakan Bapak segera ramai memenuhi setiap sudut ruang, yang tak putusnya berteriak memanggil Ibu.

Sesungguhnya aku tak pernah tahu secara persis. Sejak kapankah Ibu kehilangan suara dan kegembiraanya di dalam rumah ini. Ibu sudah lama tidak pernah kulihat tersenyum, apalagi tertawa lepas seperti ibu-Ibu lainya. Kami anak-anaknya, nyaris tidak lagi mengenali bagaimana nada tawa Ibu. Atau bagaimanakah rupa senyum,  jika Ibu sedang berbahagia.
Padahal menurut penuturan teman-teman sebaya, serta saudara-saudara Ibu yang sempat aku temui, pada dasarnya beliau adalah seorang yang sangat periang, dan penuh gembira. Sering suasana akan berubah lebih hidup jika ibu sudah datang bergabung.

***

Hingga berpuluh tahun kemudian, barulah aku tahu apa jawaban dari semua pertanyaanku, tentang Ibu. Memang saat itu aku masih berusia belasan tahun, masih terlalu naif dan muda untuk bisa memahami arti kehidupan perempuan dan airmatanya. Aku baru mengerti  setelah dua puluh lima tahun, kenapa Ibu menyukai senja. Kenapa Ibu setia, dengan air mata. Bisa jadi dikarenakan, sekarang aku sudah hampir seusia Ibu waktu itu. Juga telah menjadi Ibu bagi sepasang anak-anakku. Jawaban bagi rahasia Ibu, kutemui akhirnya setelah melalui perjalanan waktu. Tepat sepuluh tahun setelah kematian Ibu, ketika siang itu aku berkesempatan mengunjungi makam Ibu.

Makam itu hanya bisa kuziarahi empat atau enam bulan sekali saja, karena berbeda tempat dengan kota dimana aku tinggal sekarang. Tetapi setiap aku menziarahi, makam tersebut selalu dalam keadaan bersih dan sangat terawat. Pokok rerimbunan mawar putih kesukaan Ibu, tumbuh dengan puluhan kuntum bunga yang menyebar wangi, mengelingi gundukan tanah makam yang diselimuti rerumputan jepang halus. Benar-benar terawat dengan sempurna dan indah. Apalagi jika dibandingkan dengan makam lainya di sekitar. Apakah kebaikan dan cinta Ibu ketika masih hidup yang telah merawat mawar ini ? Entahlah.

Menurut penjaga makam yang kutemui, hampir setiap minggu makam Ibu dikunjungi seorang lelaki dengan teratur. Menanam dan merawat dua pokok kamboja jepang warna ungu sebagai peneduh, dan beberapa batang mawar putih. Mengirim doa dengan khusuk, menciumi pusara dari marmer kelabu, penuh rasa. Juga tentunya, membersihkan dari dedaunan yang berguguran di atas gundukan makam. Aku jadi penasaran, siapakah gerangan lelaki itu?

Rasanya jika Bapak yang dimaksud, tidaklah mungkin. Selain karena telah ringkih untuk sendiri ke pemakaman, Bapak bukanlah orang yang sentimentil dan romantis. Bagi Bapak, orang yang sudah meninggal, ya sudahlah. Kmatian telah mengakhiri segalanya, bagi Bapak. Bahkan, datang menziarahi makam kedua orangtuanyapun, seingatku Bapak tidak pernah melakukanya. Apalagi, akan mengunjungi makam Ibu, rasanya mustahil.

Pada kunjunganku kali ini ke makam Ibu, Tuhan mempertemukanku dengan lelaki misterius yang setia merawat dan mengunjungi makam Ibu, sebagaimana kabar dari penjaga makam. Dari jarak dua meter sebelum ke pusara, benarlah aku melihat seorang lelaki yang menua, terpekur duduk di sisi kanan makam. Sisi wajahnya terlihat bersih, menyisakan kekuatan dan ketampanan masa muda. Aku melihat lelaki itu lama menunduk, sepertinya khusu’
memanjatkan doa buat Ibu. Sesekali tanganya, melap air mata yang menetes satu dua, dari balik lamur matanya. Jemari lelaki itu meraba lembut setiap butiran tanah dan rerumputan yang menyelimuti tanah pemakaman. Aku terkesima oleh pemandangan yang sangat mengharukan itu... “ I Love u honey...., I am always miss and need you... .I can’t stop loving you..! “...terdengar bisik parau dari lelaki itu, sembari menciumi batu nisan Ibu.

Oh, alangkah akan bahagianya Ibu mendengar kata-kata cinta tersebut di dalam sana, bisikku. Tanpa sadar, beberapa tetes air mata mengulir dari kelopak mataku. Aku tahu, sepanjang kami hidup bersama Ibu, tidak pernah sekalipun almarhumah mendengar ucapan mesra tersebut. Karena saat  hidup dengan Bapak, yang kami ketahui, hari-hari Ibu hanya dipenuhi dengan teriakan, umpatan, omelan, dan caci maki Bapak yang tidak tahu rimbanya.
Tiba-tiba, aku terkesima. Rasanya, aku pernah mengenal kata-kata cinta seperti itu. Dimanakah ?

Selagi aku sibuk memikirkanya, lelaki itu rupanya sudah menengadah memandangku. Ia sejenak terpaku, seolah sedang memikirkan sesuatu. Raut wajahnya, terlihat lebih tampan lagi dari yang kulihat pertama tadi. Berkulit putih bersih, sejuk, dengan garis yang tegas. Hidungnya mancung, dengan rambut yang rapi meski telah memutih karena usia. Caranya memandangku kemudian, seperti menyiratkan bahwa ia merasa pernah mengenaliku.

 “Bukankah, kamu Azela, anak perempuanya Renata, ya?“ Lelaki itu langsung berdiri, menyodorkan tanganya dengan kokoh untuk kujabat. “Aku Fay...mungkin kamu tidak kenal, tapi Ibumu sering bercerita tentangmu ketika masih hidup dulu..Apa kabar, Azela?”

Aku hanya mengangguk, sambil masih bersigantung pada kebingungan dan pertanyaan dalam pikiranku, yang sibuk menjelajahi ruang-ruang daya ingatku. Siapakah Fay? Pernahkah aku mendengar nama ini sebelumnya Fay...?.Fay...? Ah, lama aku menjemput pelbagai ingatan tentang nama itu!

Yup!...Akhirnya aku ingat, sebuah nama di file handphone milik Ibu yang menjadi awal dari bencana ini semua. Di dalam sebuah pesan tertulis jelas, “ I can’t stop loving u, my honey...”.
Tiba-tiba seluruh lapisan langit berdentam gemuruh, membahana seperti saling berebutan turun menimbunku. Duniapun berputar, menendang-nendang ulu jantung dan hatiku dari tiap penjuru ruang. Berkerjaran, saling menghajarku. Mampuslah kau sekarang, Azela ! Kau rasakan kini pembalasan dari kebodohanmu itu!....Suara itu bertalu-talu, bersiponggang menghajar pendengaranku. Menikam, mencabik-cabik.


Waktu itu aku masih muda sekali, berumur belasan tahun. Aku sama sekali tidak menyadari, kalau kesalahan yang sedikit itu adalah awal yang membenamkan Ibu ke nerakanya. Peristiwa yang mengantar Ibu pergi untuk selama-lamanya.

Suatu siang sepulang sekolah, iseng aku membuka pesan-pesan yang terdapat pada handphone milik Ibu. Padahal aku sudah tahu, di keluarga kami sangat tidak dibenarkan untuk lancang mengetahui privacy setiap anggota keluarga. Tidak boleh ada yang seenaknya membuka dan menggunakan perangkat HP atau dompet milik siapapun, tanpa seizin yang punya. Tetapi entah kenapa, kesepakatan tersebut aku langgar. Iseng, aku membukanya, lalu menemukan ada seseorang bernama Fay mengungkapkan kata-kata sayang yang indah dan romantis itu kepada Ibu.

Aku merasa cemburu. Tiba-tiba, aku tidak suka jika ada lelaki lain dalam hidup Ibu...Aku tidak mau jika Ibu meninggalkan kami semua nanti, lalu pergi bersama lelaki yang mencintainya itu, seperti mama temanku di sekolah. Kecemasan yang tak bernama tersebut mendorongku melaporkan kepada Bapak, bahwa Ibu sekarang   berselingkuh dengan lelaki, bernama Fay. Bukti perselingkuhan itu, adalah pesan-pesan cinta yang tertera di HP Ibu. Aku memang jadi benci pada Ibu yang selama ini kukagumi, ternyata bukan istri yang setia dengan perkawinanya.

Setelah pengaduan tersebut, aku sungguh tidak tahu tentang apa yang terjadi kemudian di antara mereka berdua. Namun yang jelas, Ibu makin sunyi. Selentingan aku mengetahui dari saudara-saudara Ibu, bahwa Bapak telah menghajar Ibu habis-habisan. Sungguh aku tak menduga, sebegitukah akibat yang harus ditanggung Ibu, hanya karena pandangan kekanakanku yang dangkal? Bukankah aku telah menyadari, bahwa sesungguhnya Ibu sudah hidup dalam neraka yang disimpanya sendiri, selama bertahun-tahun membesarkan dan merawat kami. Dan pengaduanku kepada Bapak, menyempurnakan kobaran neraka itu. Dimana apinya kusulut sendiri, membakar Ibu. Sungguh, takkan termaafkan kesalahanku ini, ya Rabbi!

“Azel, tidak ada yang salah denganmu, karena kau tidak  tahu apa yang terjadi sebetulnya dengan Ibumu, Nak. Ketahuilah, Ibumu telah ada dalam neraka perkawinannya sejak kalian dilahirkan. Menahan perih api dan lukanya sepanjang umur, demi menjaga kalian semua. Mengorbankan karir, pekerjaan, dan masa mudanya, demi anak-anaknya. Jika mau, Ibumu bisa saja kabur, atau meminta cerai dari Bapakmu. Tetapi ia tidak melakukan, karena sadar bahwa ada tiga orang anak yang harus diselamatkanya. Meski Ibumu harus mencium wangi lukanya sepahit apapun, dalam keadaan apapun sepanjang hari. Ia mengulum empedunya sendiri. Dan ia kuat, menahanya berpuluh tahun...”, ujar lelaki itu dengan senyum kelu.
Akupun ingat, bagaimana hampir tiap hari Bapak selalu pulang pada saat adzan Subuh mengumandang. Sekalipun bulan Rhamadhan, malam takbiran, Bapak tetaplah pulang pada dini pagi. Entah apa yang dikerjakan Bapak di luar sana, meninggalkan ribuan malam Ibu yang panjang sendirian. Tidak jarang, Bapak pulang dalam keadaan mabuk. Dari mulutnya tercium bau alkohol yang keras. Ibu tak marah, atau menegur kelakukan Bapak tersebut. Malah sabar membersihkan muntahan, dari akibat mabuknya Bapak.

Aku teringat lagi,  bagaimana Ibu harus bekerja keras sepanjang harinya. Bangun sebelum semua orang membuka mata, agar sempat mengurus rumahtangganya. Lalu setelah cucianya terjemur, maka barulah Ibu akan ke luar rumah, bekerja melakukan apapun untuk dapat memenuhi kebutuhan rumahtangga. Karena ternyata, Bapak tidak saja ingkar memberi nafkah bathin pada Ibu, juga nafkah lahir. Bapak lebih suka menghamburkan penghasilanya, dari satu kafe ke kafe lainya. Dari satu pangkuan malam, ke malam lainya dengan bebas. Tetapi Ibu menyimpan semua cerita malamnya dengan  serapat mungkin. Mungkin dengan maksud, melindungi kami dari akibat negatif kelakuan Bapak tersebut. Bahkan ketika Ibu meminta kami untuk melaksanakan ibadah wajib, shalat lima waktu ternyata tak ada satupun diantara kami yang berkenan memenuhinya. Mungkin karena kami tak pernah memiliki Imam, yang akan memimpin mengajak shalat berjamaah di rumah.

“Menginginkan Imam bagi hidup dan ibadahnya, itulah yang selalu dirindukan Ibumu. Ia ingin selalu bersama dengan orang yang dicintainya, untuk menjalankan  ibadah berjamaah....Itulah alasan kenapa Ibumu diam-diam dan sembunyi memilih aku sebagai kekasihnya, Nak. Karena dia hanya ingin menemui Allah dan akhiratnya, bersama imam yang dicintai...,” ujar Fay menceritakan tentang siapakah Ibu sebenarnya.

“Tetapi hingga akhir hayatnya sekalipun, ternyata keinginan luhur dan mulia dari Ibumu, tidak pernah dapat terpenuhi. Allah memanggil Ibumu lebih cepat, sebelum aku sempat menemuinya...,’’ tutur Fay memandang nisan Ibu, seolah tak pernah lelah.

“Ibumu selalu menyampaikan keinginannya, jika kalian telah mandiri dan siap ditinggalkan, maka barulah dia akan pergi meninggalkan nerakanya itu. Aku memang menawarkan kepadanya, pernikahan  suci berlandaskan sakinah, mawaddah dan rahmah. Aku ingin membebaskan Ibumu dari semua luka dan rasa sakitnya, meski aku tahu langkah ini salah, dan tidak pada tempatnya. Tetapi aku tak bisa menahan rasa dan kekuatan cinta yang selalu memberi harapan, bagi kesempatan indah tersebut semasih kami memiliki sisa umur....Ibumu, perempuan terbaik dan mulia yang pernah aku temui. Karena itu, kurasa ia berhak rasakan kebahagiaan hati terbaik melalui kemuliaan sajaddahnya....”

Akhirnya aku mengerti, kenapa Ibu selalu menangis setiap selesai shalatnya. Karena Fay selalu mengajarkanya tentang makna katabahan, kesabaran, kekuatan, dan keimanan kepada Ibu. Maka layaklah, jika Fay yang sanggup dan mampu  menjadi imam bagi Ibu. Imam bagi hati dan jiwa Ibu. “Tetapi, kenapa malah anak-anaknya sendiri, yang merengut kesempatan menemukan  sendiri kehangatan dan kasih sayangnya yang tak pernah dirasakan, nyaris di sepanjang usia Ibumu ? Untuk kau ketahui, Nak,...hanya kepadakulah, Ibumu bisa tertawa lepas sesukanya. Sehingga masih punya tenaga untuk bertahan menghadapi neraka yang disediakan Bapakmu. Nak, sebetulnya saat kami bertemu, Ibumu sudah tidak bisa menangis lagi. Air matanya telah dikuras oleh sakitnya. Namun dia perempuan hebat, mampu menyembuhkan lukanya sendiri, melalui ibadahnya yang khusuk’, dan doanya yang indah. Aku selalu membangunkanya, melalui telphon untuk selalu mengisi malamnya yang sepi, agar  menunaikan ibadah sunnah Shalat Tahajjud, Shalat Dhuha, dan ibadah lainya. Memandu doa, menenangkan hatinya melalui harapan-harapan kami...Meski kami berjarak sangat jauh. Waktu itu aku masih berkerja di sebuah proyek LNG, Sulawesi...,’’ ujar Fay sambil tak hentinya mengusap batu nisan Ibu.

Sekarang, aku makin mengerti lagi, kenapa Ibu menjadi sunyi. Pengaduan bodohku itu telah merengut Ibu dari kekhusukan ibadah dan doanya kepada Sang Khalik. Pemukulan dan kekejaman Bapak, tanpa kami tahu kapan terjadinya telah meruntuhkan ruang kebahagiaan Ibu, yang dimilikinya diam-diam bersama Fay. Fisik Ibu agaknya sudah tidak tahan lagi, penyakit jantung yang sudah lama diindapnya, namun tak pernah dipedulikan Bapak, tiba pada akhir perjalanan. Ibu menghembuskan nafas terakhir, disaat Fay tengah membimbingnya berdoa, bermunajat memohon ampun dan ridho kepada Allah. Juga memohonkan ampun dan maaf, atas semua kesalahan dan kelakuan Bapak sebelumnya.

Sekarang kusadari perihnya rasa sakit itu, Ibu. Betapa indah warnanya senja, gradasinya menjabat erat kesedihanmu. Aku mengerti kini, kenapa Ibu setiap sore menyukai beranda itu dan duduk berlama-lama di sana. Karena selain bisa tenang berkomunikasi dengan Fay, Ibupun dapat menikmati senjanya. Hanya dengan itu, Ibu bisa membasuh luka.***

Padang, 5 mei 2012

 


 

 
URL berita: http://www.riaupos.co/berita.php?act=full&id=159122&kat=24

 
© 2015 Riaupos.co | Hak Cipta Dilindungi