Riaupos.co

Tempat Terbaik Melihat Indahnya Samudera Awan
Menyingkap Kemolekan Bukit Suligi di Aliantan, Rokan Hulu
2017-11-14 11:09:57 WIB
 
Menyingkap Kemolekan Bukit Suligi di Aliantan, Rokan Hulu
 
Tempat Terbaik Melihat Indahnya Samudera Awan
Riau memiliki beragam potensi wisata alam. Salah satunya Puncak Bukit Suligi di Rokan Hulu (Rohul). Di ketinggian 812 meter di atas permukaan laut (mdpl), peminat wisata ini bisa  menikmati indahnya gulungan gumpalan awan yang disebut dengan samudera awan.


PASIRPENGARAIAN (RIAUPOS.CO) - Bendera Merah Putih sepanjang tujuh meter dinaikkan. Berkibar di atas puncak bukit nan hijau di ketinggian 812 mdpl. Matahari masih terlihat malu-malu memperlihatkan wajahnya. Baru menyembul kemerahan. Awan mulai berjalan di bawah pandang, menyelimuti hamparan hutan dan perkebunan. Menyingkap Bukit Barisan nan berjejer molek dan cantik.

Pemandangan terasa indah pada Sabtu pagi (11/11) menjelang matahari terbit di Bukit Suligi, Desa Aliantan Kecamatan Kabun, Rohul. Ini sekaligus menjadi bukti, Riau memiliki beragam potensi pariwisata minat khusus. Bagi mereka yang gemar berpetualang ada hiking, sedikit climbing, mandi di cucuran air terjun sampai ketinggian 50 meter dan menyusur goa bisa dinikmati di Desa Aliantan.

Beragam kekayaan wisata minat khusus tersebut mulai dibuka untuk umum sejak 2016 dan dikelola tahun ini. Sekitar dua ribuan pengunjung sudah memanjat Puncak Bukit Suligi dan menikmati segala kemolekan dan keindahan yang terjadi. Salah satu keindahan adalah gulungan gumpalan awan yang disebut warga setempat dengan samudera awan. Kekayaan alam ini mulai dikemas sebagai objek wisata baru oleh Komunitas Sadar Wisata Desa Aliantan ini disebut Caretaker. Mereka berjumlah sembilan orang dan belasan simpatisan di bawah binaan Kepala Desa Aliantan M Roiz Zakaria. Lokasinya sekitar 120 km dari Kota Pekanbaru.

Tiba di Desa Aliantan sekitar pukul 15.00 WIB Jumat (10/11), Riau Pos yang berkesempatan mengikuti rombongan Dinas Pariwisata (Dispar) Riau berencana melakukan upacara di Bukit Suligi menyambut Hari Pahlawan. Saat itu disambut langsung Kades Aliantan. Beberapa remaja tampak memakai seragam lapangan lengan panjang bertulis Kelompok Sadar Wisata.

Tampaknya memang daerah ini sudah benar-benar serius mengelola pariwisata minat khusus atas segala potensi yang dimiliki. Koordinator Caretaker Saprizal mengatakan, bagi pengunjung yang jarang mendaki tidak perlu khawatir karena akan selalu dipandu dari naik hingga turun bukit.

Selain itu setiap pengunjung juga diberikan tips cara mendaki, mengatur napas dan pertolongan darurat. Keramahan remaja-remaja Aliantan yang ditemui memang menjadi penarik tersendiri dalam menjual pariwisata. “Jadi di sini kami mengutamakan keamanan dan kenyamanan pengunjung,” ujarnya.
Dikatakan Saprizal, dalam persiapan hiking menuju Bukit Suligi mereka juga menjual paket wisata melihat samudera awan yang hanya dibuka pada akhir pekan dan jumlahnya dibatasi hingga 30 orang.  Ini dimaksudkan agar bisa lebih puas menikmati pemandangan. Tarif wisatanya juga sangat terjangkau.

“Rp50 ribu satu orang sudah bisa santai ke atas. Karena kami siapkan pembawa barang dan makanan,” tambahnya.

Sekitar pukul 16.00 WIB, dari kediaman Kades Aliantan, rombongan bergerak menuju kaki bukit. Dari tepi jalan lintas Rantau Berangin-Pasirpengaraian tersebut, ada persimpangan masuk ke kaki bukit. Jalan sudah aspal dan sekitar 20 menit menggunakan kendaraan roda empat, rombongan tiba di lokasi awal untuk kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

“Kalau sudah biasa, sekitar 1,5 jam sudah sampai bukit pertama. Di sana kita kemah,” tambah Saprizal.

Benar saja, sekitar pukul 17.00 WIB berangkat dari kaki bukit, rombongan baru tiba sekitar pukul 19.30 WIB. Sekitar 2,5 jam, jauh melewati jadwal yang dikatakan Caretaker. Sebab rombongan banyak istirahat. Namun rasa lelah berjalan, terobati dengan cuaca cerah Jumat malam itu.

Gugus bintang tampak kerlap-kerlip menghibur di kepenatan dan kegelapan malam. Suara kendaraan, samar-samar terdengar dibawa angin malam yang cukup sejuk di lokasi kemah yang disebut bukit pertama. Pukul 04.00 WIB, Sabtu (11/11) langit masih terang, tampak embun naik dan menjadi pemandangan menarik di kegelapan dini hari.

Rombongan bergerak menuju Bukit Suligi. Menggunakan senter, berjalan sekitar setengah jam. Tepat pukul 05.00 WIB, rombongan tiba di lokasi yang dituju. Tampak sudah ada tiang bendera di sana, sebuah kursi kayu dan tulisan yang dibuat Kades bersama Caretaker. Suligi Hill, 812 Mdpl.Sejak dibuka untuk umum pada 2016, puncak Bukit Suligi sudah menyedot cukup banyak pengunjung dari daerah-daerah di Riau hingga Provinsi Sumatera Barat.

“Ada sekitar 2.000 orang sudah datang ke sini. Kunjungan pada tahun ini saja sudah mencapai 1.000 orang,” tambahnya.

Memasuki pukul 06.00 WIB, matahari mulai terlihat cahayanya memerah membentuk lukisan indah lewat goresan awan. Namun dia masih malu keluar. Sementara pandangan hijau, di sekeliling perlahan ditutup awan bergumpal. Semakin lama, bahkan sampai menutup bukit di sisi sebelah lokasi kami bersiap menaikkan bendera merah putih. Upacara peringatan Hari Pahlawan.

“Kami sebut samudera awan. Ini hanya ada pada pagi hari di puncak bukit,” kata Kades Muhamad Rois Zakaria yang tiba menyusul rombongan.

Bukit Suligi merupakan deretan bukit yang ditetapkan pemerintah sebagai kawasan hutan lindung. Melalui Surat Keputusan (SK) Menteri Kehutanan RI Nomor 101/kpts-II/1983 tanggal 26 Desember 1983. Dengan luas sekitar 33.000 hektare (ha), yang hampir 80 persen atau 25.000 ha berada di Rohul dan sisanya masuk wilayah Kabupaten Kampar.

Di Bukit Suligi awan terlihat indah. Bak kita naik pesawat dan mengintip di jendela keluar. Namun ini dilihat dengan mata telanjang. Pergeserannya menarik diikuti karena perlahan. Dia menyingkap gugus bukit barisan yang mengelilingi. Bisa dibilang, Bukit Suligi berada di tengah hamparan Bukit Barisan nan sangat menawan. Menurut Muhamad Roiz, puncak Bukit Suligi merupakan tempat terbaik untuk melihat langsung samudera awan pada pagi hari. Karena merupakan puncak tertinggi dengan ketinggian 812 mdpl. Melalui bantuan komunitas Caretaker, yang mengelola jasa pengantaran, angkut barang, parkir, hingga tenda dan konsumsi, siapapun menurutnya bisa ke sana.

“Kawan-kawan Caretaker juga sudah memasang tanda peringatan dan tali di jalur ke puncak bukit. Juga disediakan lokasi swafoto bagi pengunjung,” tambahnya.

Dua jam berada di puncak bukit tersebut, memang membawa rombongan berada pada keindahan luar biasa. Sajian bukit berjejer dan hijau pepohonan, walaupun beberapa lokasi tampak sudah ditanam sawit. Namun tidak menghilangkan eksotisme berada di atas awan.

Selain Bukit Suligi, diceritakan Muhamad Rois juga memiliki tujuh titik air terjun. Paling tinggi 50 meter. Kemudian 11 goa. Salah satunya goa Garuda. Di mana di goa tersebut dikabarkan terdapat patung garuda terbuat dari batu yang terukir di dinding goa. Sayang rombongan tak sempat ke sana karena harus menempuh perjalanan lebih jauh lagi.

Bukan saja keindahan, Bukit Suligi diakui Kades, kaya akan sejarah. Salah satunya tentang kisah Puti Maifat.

“Seorang putri kerajaan dan Bukit Suligi merupakan sebuah menara dulunya. Jadi ada pengawalnya. Cerita ini sedang menjadi kajian bersama masyarakat,” katanya.

Karena salah satu bukti sejarah, menurutnya, di mana juga ditemukan pakaian pengawal Puti Maifat, yang bernama Santano Mudo di sekitar Bukit Suligi. Nilai-nilai historis tersebut sekarang terus digali tokoh masyarakat di Desa Aliantan.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Riau Fahmizal Usman mengatakan, sangat mendukung Bukit Suligi menjadi salah satu destinasi wisata minat khusus dari Rohul. Ia menilai tempat tersebut menawarkan keindahan alam, petualangan dan keramahan warga yang komplet.“Jalan kaki dan mendaki bukit di kemiringan 85 derajat merupakan tantangan yang cukup memerlukan fisik prima. Ini sangat cocok sebagai tempat wisata minat khusus, menawarkan alam yang indah bagus untuk mendaki dan fotografi,” kata Fahmi.

Ia juga mengapresiasi kepala desa dan komunitas pemudanya yang kreatif mengemas potensi yang dimiliki. Bahkan pembinaan kepada kelompok sadar wisata, bukan saja untuk sekadar mendaki saja. Namun juga menjaga alam. Sebab Caretaker juga diberikan pembinaan bagaimana generasi muda ini agar memiliki arah serta tujuan yang positif sehingga terhindar dari penyakit masyarakat, narkoba, miras dan juga mencintai alam.

Dispar Riau memang diakuinya sengaja datang bertepatan 10 November untuk melakukan upacara peringatan Hari Pahlawan. Kadispar berkali-kali mengatakan kekagumannya karena pemandangan sangat luar biasa.

“Salah satu destinasi adventure yang sangat baik, akses terbuka, masyarakat friendly, pengalaman kali ini luar biasa,” katanya.

Dengan segala keindahan alam, spot bagus untuk berfoto menurut Fahmizal, masyarakat dan warga sedapat mungkin menjaga keasrian lingkungan. Hal ini akan terus didorong dan dilestarikan ke depan. Terutama dari sisi pengelolaan, dia berharap agar pemkab dapat lebih memperhatikan.

“Dispar dapat komunikasi dengan komunitas-komunitas yang ada. Juga bisa membuka akses agar dapat menjadi destinasi. Kami berharap agar Pemkab dapat memetakan melalui SK Bupati menjadi kawasan wisata. Jadi membuka peluang bagi masyarakat menjaga dan melestarikan lingkungan sebagai destinasi,” katanya.***

 

 
URL berita: http://www.riaupos.co/berita.php?act=full&id=166561&kat=20

 
© 2015 Riaupos.co | Hak Cipta Dilindungi