Riaupos.co

USAI DIJEMPUT PAKSA
Kesal Ditahan KPK, Fredrich Yunadi: Bohong Semua
2018-01-14 00:10:02 WIB
 
Kesal Ditahan KPK, Fredrich Yunadi: Bohong Semua
 
JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Sebuah rompi tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akhirnya dikenakan ke tubuh Fredrich Yunadi, mantan pengacara Setya Novanto.

Dia sendiri mengaku kesal akan hal itu lantaran dirinya hanya menjalani profesinya sebagai advokat selama menjadi kuasa hukum mantan ketua DPR tersebut. Tak hanya itu, dia pun mengaku telah difitnah melakukan upaya menghalang-halangi penyidik KPK.

"Sama sekali tidak ada. Buktikan! Iya kan itu permainan, nggak ada itu, sesuatu hal rangkaian itu. Namanya skenario ingin membumihanguskan," katanya saat keluar dari lobi Gedung KPK mengenakan rompi oranye, Sabtu (13/1/2018).

Fredrich pun menyinggung soal kabar dia menyewa ruang VIP di Rumah Sakit Medika Permata Hijau agar Novanto bisa dirawat.

"Nggak ada, bohong semua," tegasnya.

Ditegaskannya, seorang advokat tidak bisa dikenakan hukum pidana maupun perdata. Menurutnya, itu sesuai Pasal 16 UU 18 tahun 2013 tentang advokat yang diperkuat dengan putusan MK Nomor 26 tahun 2013.

"Namun, sekarang saya dibumihanguskan. Ini adalah suatu pekerjaan yang diperkirakan ingin menghabiskan profesi advokat," jelasnya.

Dia menyebut, yang membungihanguskan itu adalah KPK

"Jelas KPK dong, siapa lagi," bebernya.

Atas perlakuan KPK terhadapnya hari ini, Fredrich menegaskan itu akan menjadi preseden buruk ke depannya. Bahkan, bisa diikuti lembaga penegak hukum lainnya, seperti kepolisian dan kejaksaan.

"Saya tanya sekarang, kalau praperadilan saya menang, gara-gara praperadilan, kasus nggak bisa jalan, dijerat juga nanti," sindirnya.

Penyidik KPK sebelumnya menjemput paksa Advokat Fredrich Yunadi, Jumat (12/1/2018) malam. Ketika diamankan di bilangan Jakarta Selatan, tim penyidik membawa surat penangkapan.
Fredrich diketahui diamankan di Rumah Sakit Medistra, Jakarta Selatan. U‎paya hukum itu dilakukan demi kepentingan penyidikan. ‎Tak ada perlawanan dari Fredrich ketika penyidik membawanya.

Jemput paksa dan penangkapan itu dilakukan karena Fredrich mangkir dalam pemeriksaan kemarin. Seharusnya, mantan‎ pengacara Setya Novanto itu menjalani pemeriksaan tersangka atas kasus merintangi penyidikan e-KTP.

Akan tetapi, dia tidak hadir dengan dalih ada proses etik di Dewan Kehormatan Peradi. ‎ Sebelumnya, KPK sudah menetapkan Fredrich dan seorang dokter Rumah Sakit Medika Permata Hijau (RSMPH), Bimanesh Sutardjo sebagai tersangka kasus dugaan merintangi penyidikan perkara korupsi proyek pengadaan e-KTP yang menjerat Setya Novanto.

Mereka diduga memanipulasi data medis agar Setya Novanto lolos dari pemeriksaan KPK. Bahkan, Fredrich disebut memesan satu lantai kamar VIP di RS Medika Permata Hijau sebelum Setya Novanto kecelakaan.

Akibat perbuatannya, Fredrich dan Bimanesh disangkakan melanggar Pasal 21 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.‎  (dna/ce1)

Sumber: JPG
Editor: Boy Riza Utama



 

 
URL berita: http://www.riaupos.co/berita.php?act=full&id=170714&kat=2

 
© 2015 Riaupos.co | Hak Cipta Dilindungi