Riaupos.co

Polres Bengkalis Amankan 10 Kg Sabu
Dua Terdakwa Narkoba 40 Kg Divonis Mati, Keluarga Histeris
2017-12-14 11:39:17 WIB
 
Dua Terdakwa Narkoba 40 Kg Divonis Mati, Keluarga Histeris
 
SIAK (RIAUPOS.CO) - Ruang sidang Cakra Pengadilan Negeri Siak tiba-tiba gaduh. Isak tangis dan sumpah serapah meluncur dari mulut keluarga terpidana mati kasus narkoba 40 kg Aldino dan Zulfadli. Mereka tidak terima hakim menjatuhkan hukuman maksimal terhadap keduanya. Hakim sampai berkali-kali mengetuk palu agar tim keamanan mengeluarkan keluarga terdakwa yang terus meraung.

“Pak Hakim mana hati nuranimu. Anak kami hanya kaki tangan. Kenapa dihukum mati? Kalian sudah dibayar semua ini. Makanlah uang haram itu,” teriak ibu kandung Aldino, Amruzilana sambil terus menangis.

Menurutnya, Aldino bukan pemilik barang. Tapi mengapa status hukumnya disamakan dengan pemilik barang. Harusnya, kata Amruzilana, hukuman anaknya lebih ringan dibandingkan dengan Eri Jack dan Zulfadli.

“Masak pemiliknya hukuman mati, anak saya juga begitu. Dia ini apalah perannya. Saya tidak masalah hukum ditegakkan. Anak saya salah, hukumlah. Tapi yang setimpal dengan perannya,” sebutnya.

Selama ini, kata Amruzilana, Aldino tidak hidup bermewah-mewah. Bahkan motor saja dia tidak punya. Sehingga jika dia disebut kaya karena menjadi kurir, menurut Amruzilana, itu bohong. “Sehari hari dia kerjanya menjadi sopir. Boleh Bapak cek. Saya juga baru tahu ini pekerjaan anak saya, saya kecewa sebenarnya. Saya tanya sama dia berapa dapat uang setiap ngantar? Dia bilang lima juta, bukan Rp10 juta, “ sebutnya.

Usai sidang putusan, Aldino langsung diberangkatkan menggunakan mobil tahanan dengan pengawalan ketat anggota Polres Siak. Sementara Zulfadli diberangkatkan secara terpisah. 

Sesaat sebelum diberangkatkan Zulfadli sempat berbincang dengan Riau Pos. Ia masih belum mengambil keputusan dengan vonis yang dijatuhkan kepada dirinya. Ia mengaku pesimis.
“Saya dijanjikan ini itu, tapi apa mati juga saya kan. Saya buat pledoi itu bukan gratis. Uang saya keluarkan, tapi apa ditolak juga kan pledoi saya,” klaim Zulfadli.

Bahkan ketika dia akan dipindahkan dari Ruang Tahanan PN Siak ke mobil tahanan, umpatan dan sumpah serapah dia lontarkan berkali-kali. 

“Jaksa hakim, lihatlah kalian makan uang itu. Lihatlah pembalasanku, “ ujarnya mengancam.

Vonis terhadap kedua terdakwa dibacakan secara bergantian oleh majelis hakim. Dimulai dari hakim anggota Yuanita Tata SH MH, dilanjutkan Selo Tantular SH MH dan terakhir oleh hakim ketua Bangun Rambe SH MH. Dalam vonisnya hakim tidak melihat ada pertimbangan meringankan terhadap kedua terdakwa. 

“Perbuatan terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan sebagaimana diatur dalam pasal 114 ayat 2 UU No 35 tahun 2009, tentang narkotika. Majelis hakim melihat dakwaan tidak perlu dipertimbangkan lagi. Majelis hakim juga menolak pledoi terdakwa. Karena terdakwa sudah sering melakukan kejahatan tersebut. Alasan ekonomi menurut majelis hakim bukanlah alasan irasional,” ujar hakim Selo Tantular.

Usai kedua hakim membacakan ulasan fakta persidangan dan pertimbangan, hakim ketua Bangun Rambe lantas membacakan vonis. 

“Mengadili, menyakatan terdakwa secara terbukti secara sah melakukam tindak pidana narkotika. Menjatuhkan kepada tetdakwa Aldino hukuman mati,” tegas Bangun diikuti ketukan palu.Sementara untuk barang bukti, mobil Honda Jazz milik Zulfadli disita negara. Sedangkan mobil Kijang Inova yang dipakai Aldino dikembalikan kepada pemiliknya. Karena mobil itu merupakan mobil rental. Sedangkan untuk barang bukti telah dimusnahkan.

Kuasa Hukum kedua terdakwa Al Zainal SH langsung menyatakan banding. Namun memori banding ini hanya untuk Aldino. Karena Aldino perannya hanya sebagai orang yang disuruh oleh Zulfadli. Sementara Zulfadli masih menyatakan pikir-pikir. 

“Aldino ini kan hanya orang suruhan. Makanya kami beranggapan penerapan pasal tersebut kurang tepat. Nanti kami uji dengan banding. Kalau Zulfadli, tadi kami tanya dia bilang masih pikir-pikir,” sebutnya.

Untuk diketahui pengungkapan kasus pengiriman sabu 40 kg ini berawal dari pengembangan kasus penangkapan sabu seberat 1 kg di Pelalawan. Pengungkapan kasus ini sendiri melibatkan Mabes Polri. Karena kuat dugaan, sabu yang dibawa kedua terdakwa untuk selanjutnya dikirim ke Medan dikendalikan penghuni Lapas Cipinang.

Sehingga Eric Jack dimungkinkan masih kaki tangan jaringan besar. Dalam persidangan kedua terdakwa terungkap fakta bahwa yang memerintahkan untuk membawa sabu adalah Eri Jack. Perintah itu diberikan Eri Jack kepada Zulfadli yang kemudian mencari Aldino untuk sama-sama membawa barang haram tersebut. Aldino kemudian mengambil barang itu di sebuah pondok di daerah Selat Baru, Bengkalis. Mereka kemudian jalan secara konvoi menuju Pekanbaru. Namun baru sampai di km 2 Kecamatan Gasib iring-iringan mobil mereka disergap Tim Ditresnarkoba Polda Riau. Sementara vonis untuk terdakwa Eri Jack diputuskan di PN Bengkalis, Kamis ini (14/12).

Diamankan saat Melintas di Siak Kecil
Polres Bengkalis kembali mengungkap peredaran narkotika dan obat terlarang (narkoba). Dua tersangka diamankan. Yakni MK (37) warga Sumatera Utara dan RP (37) warga Perumahan Sidomulyo Pekanbaru. Bersama mereka diamankan barang bukti (BB) 10 kg sabu-sabu saat melintas di jalan lintas Siak Kecil Sungai Pakning, Bengkalis, Rabu (13/12) dini hari. Kapolres Bengkalis AKBP Abas Basuni SIK saat dikonfirmasi melalui Paur Humas Polres Bengkalis Iptu Buha Purba membenarkan penangkapan tersebut.“Ya, benar ada penangkapan dua tersangka dengan barang bukti 10 kg sabu yang ditemukan di mobilnya saat melintas di jalan Siak Kecil,” ungkapnya.

Penangkapan kedua tersangka bermula saat anggota Polsek Siak Kecil melakukan Razia Cipta Kondisi (Cipkon) di jalan Jalan Sudirman Desa Sungai Siput, Siak Kecil. Pada saat razia petugas melihat mobil Toyota Innova  warna silver metalik melaju kencang dari arah Sungai Pakning menuju Pekanbaru. Melihat kondisi itu pihak kepolisian Polsek Siak Kecil mencoba memberhentikan mobil tersebut namun tidak diindahkan sopir dan hampir menabrak sala seorang petugas kepolisian di tim pertama, namun aksi melaju mobil itu berhasil diberhentikan tim kedua.

“Merasa curiga personel tim 1 berteriak sehingga tim 2 menghadang mobil tersebut di tengah badan jalan, dan menyuruh kedua pelaku turun dari dalam mobil. Pada saat dilakukan pemeriksaan dalam mobil ditemukan tas plastik besar berisi bungkusan plastik warna hijau yang berisi sabu sabu 10 kg,” jelasnya.

Dikatakan Buha Purba, dari pengakuan tersangka barang itu dibawa dari Pelintung (Dumai) menuju Pekanbaru. Dari keterangan keduanya disuruh mengantarkan barang itu oleh seseorang yang saat ini berada di dalam sel tahana di Lapas Lampung dengan upah dua juta per orangnya, saat ini kedua tersangka masih diamankan di Polsek Siak Kecil,” tutupnya.(dik/*1)

 

 
URL berita: http://www.riaupos.co/berita.php?act=full&id=168858&kat=2

 
© 2015 Riaupos.co | Hak Cipta Dilindungi