Riaupos.co

NASIONAL
Polisi Ciduk Nico yang Mengaku Dibayar Novel
2017-05-19 11:38:44 WIB
 
Polisi Ciduk Nico yang Mengaku Dibayar Novel
 
JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Upaya Polri menemukan pelaku penyiram asam sulfat ke Novel Baswedan menemukan fakta yang tidak terduga. Polri menangkap Nico yang video pengakuannya disuruh memberikan keterangan palsu dalam kasus Akil Mochtar oleh Novel. Polri menduga penyiraman asam sulfat terkait kasus tersebut.

Dalam video yang berdurasi 2 menit 40 detik tersebut, Nico mengaku mendapat ancaman dari Novel Baswedan untuk memberikan keterangan palsu pada kasus Akil. Bila tidak memberikan keterangan seperti yang diminta, maka dia dan keluarganya akan dipenjarakan.

Bahkan, dia menunjukkan adanya beberapa kali transfer uang dari Novel sebagai bagian dari perjanjian yang dilakukan. Kapolri Jenderal Tito Karnavian menuturkan, saat dilakukan penyelidikan deduktif atau memetakan masalah Novel yang mungkin menyebabkan penyiraman, muncullah video yang viral tersebut. “Nico yang memviralkan videonya sendiri ini telah diperiksa,” jelasnya.

Kasus tersebut, lanjutnya, potensial untuk terhubung dengan penyiraman Novel. Nico sendiri mengakui keterangan palsu itu karena terjadi perpecahan dengan pamannya yang saat ini telah divonis satu tahun penjara dalam kasus Akil.

“Dia ingin netralisir hubungannya dengan pamannya Mochtar Effendi,” ungkapnya.

Saat ini sedang dilakukan verifikasi terhadap barang bukti yang dimiliki Nico. Rencananya dalam waktu dekat dilakukan pemaparan pada pimpinan KPK atas temuan tersebut.

“Dirkrimum yang akan jelaskan semuanya,” ungkapnya.

Kabidhumas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono mengatakan, kemuculan nama Niko me­rupakan bagian dari upaya penyidikan. Berdasar penelusuran penyidik, Niko pernah merasa terintimidasi oleh penyidik saat diperiksa dalam kasus sengketa pilkada tersebut. Namun, untuk status Niko, Argo menegaskan bukanlah terduga.

”Niko hanya potensi saja. Bukan terduga seperti tiga orang sebelumnya, ya. Seperti H, AL, dan M. Kalau ketiga terduga itu kami dapatkan foto saat di rumah Novel. Nah, kalau Niko ini kan penelusuran orang yang pernah terlibat saja dengan Pak Novel,” ujarnya.
Sementara itu, hingga kemarin, hasil komunikasi antara penyidik dengan Niko belum usai. Argo menyebutkan, komunikasi masih terus berjalan.

Pengakuan mendadak Nico ini justru dinilai sebagai bentuk teror lain pada Novel. Menurut Pakar Hukum Pidana dari Universitas Trisakti Abdul Fikar Hajar, pengakuan yang diberikan sangat tidak logis.

”Karena, sangat bodoh kalau KPK kasih-kasih uang pakai transfer tersebut. Saya kira orang itu gila dan cari sensasi saja. Harus ditangkap,” ujarnya dihubungi kemarin.

Abdul Fikar menilai, teror ini sengaja dimunculkan agar orang yang diteror merasa takut. Sehingga, penyidikan perkara dihentikan. ”Jadi sangat mungkin teror ini dilakukan oleh pihak-pihak yang menghendaki terteror ketakutan, dalam hal ini berkaitan dengan korupsi yang terbaru,” tegasnya.

Polisi dengan infrastruktur yang cukup pun diminta tidak tebang pilih dalam penanganan kasus teror Novel. Siapapun yang berdasarkan bukti disinyalir sebagai pelaku, maka harus diproses. ”Polisi jangan tebang pilih menangani kasus chat pornografi yang tidak penting bagi masyarakat. Polisi harus terus berusaha maksimal,” ungkapnya.

Teror ini, kata dia, sangat mengerikan. Menurutnya, bila ditarik benang merahnya, teror kasus Novel sudah sangat jelas. Apalagi bila dihubungkan dengan peristiwa-peristiwa terakhir yang menimpa Novel. ”Jika polisi tidak punya sence of crisis dalam kasus ini, situasi jadi menyeramkan. Damai tapi mengerikan. Karena sewaktu-waktu para teroris kasus itu bisa muncul kapanpun,” ungkapnya.

Operasi Mata Novel
Di sisi lain, proses penyembuhan Novel Baswedan terus berjalan. Kemarin, Novel kembali menjalani operasi mata di Singapura karena siraman air keras beberapa waktu lalu. Operasi dilakukan dengan memanfaatkan plasenta bayi. Humas KPK Febri Diansyah mengungkapkan kondisi dua mata Novel memang sudah makin membaik. Ditandai dengan pertumbuhan sel hingga mendekati bagian hitam kornea. Bahkan Novel sudah bisa mengenali huruf melalui tes pandangan jarak jauh.

“Mata kanan bisa lihat huruf kecil yang paling bawah itu terlihat. Sedangkan mata kiri baru bisa melihat huruf yang besar,” ujar dia di kantor KPK,  Kamis (18/5).(idr/jun/byu/mia/jpg)

Tapi, perkembangan pertumbuhan sel atau jaringan mata yang sebelumnya rusak tersebut ternyata stagnan. Bahkan ada inflamasi atau peradangan di bagian tengah mata. Terutama, mata sebelah kiri sangat sedikit pertumbuhannya.

“Bahkan pembuluh darah saja pertumbuhannya lambat sekali di sekeliling mata (kiri) bagian atas,” kata Febri.

Mata sebelah kiri memang paling banyak terdampak guyuran air keras oleh orang yang tak bertanggung jawab pada pagi subuh 11 April. Dengan berbagai pertimbangan itu dokter akhirnya memutuskan untuk melakukan operasi dengan memasang membran dari plasenta bayi. Diharapkan tindakan itu bisa lebih merangsang pertumbuhan sel atau jaringan mata Novel lebih cepat lagi.

“Operasinya berjalan lancari dari pukul 08.00 sampai pukul 11.30. Setelah operasi, mata Novel tidak boleh kena air dulu satu bulan,” tambah dia. Sebelum operasi Novel menjalani pengecekan kornea, foto thorak, cek darah, dan kardio.

“Sebelumnya juga harus puasa,” jelas Febri.
Lebih lanjut, Febri menuturkan belum bisa memperinci jumlah biaya yang harus dikeluarkan untuk perawatan Novel. Mereka harus berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan terlebih dahulu. “Biaya pengobatan lebih beda, karena lintas negara juga,” tambah dia.Dokter spesialis Mata Ciputra SMG Eye Clinicdr Feriyanto Sp.M menjelaskan, operasi bilateral amniotic membrane transplant with fibrin glue ini memang kerap digunakan untuk penyembuhan bagian bening mata (kornea). Amnion biasanya untuk penambalan bagian mata yang mengalami infeksi berat yang dapat menyebabkan kebocoran mata.  

”Biasanya amnion graft. Amnion yang sudah ada, akan dijahit atau dilem ke bagian mata yang akan mengalami kebocoran,” ujarnya dihubungi kemarin.

Pada pengobatan ini, tidak bisa langsung dipastikan sembuh 100 persen. Menurutnya, tingkat kesembuhan pasien sangat tergantung dari keparahan kerusakan mata yang dialami oleh pasien tersebut.

Sementara itu, Wakil Ketua KPK Alexander Marwata menegaskan KPK belum berniat membentuk tim independen untuk menangani kasus Novel.

’’Kami percaya kapasitas kepolisian Republik Indonesia untuk mengungkap kasus itu,’’ ujarnya di kompleks Istana Kepresidenan kemarin (18/5).

Saat ini, KPK masih terus berkoordinasi dengan polisi terkait penanganan kasus Novel. Informasi apapun yang dimiliki KPK terkait kasus Novel diserahkan kepada penyidik. Sebaliknya, penyidik juga selalu menyampaikan perkembangan kasus itu kepada KPK.

Disinggung kemungkinan polisi lamban menangani kasus Novel, menurut Alexander tidak bisa langsung disimpulkan demikian. ’’Untuk mengungkap suatu perkara itu kan diperlukan alat bukti,’’ lanjutnya.(idr/jun/byu/mia/jpg)

 

 
URL berita: http://www.riaupos.co/berita.php?act=full&id=152044&kat=2

 
© 2015 Riaupos.co | Hak Cipta Dilindungi